Ali's posts with tag: tausiah
Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang segar, dengan kelenturan mempertahankan eksistensi dan kelangsungan mereka. Sedangkan pepohonan yang kering bakal tercerabut karena tidak lunak.
Fleksibel bukan berarti menjilat, oportunis, atau terbang dari satu ranting ke ranting yang lain. Seorang oportunis dan penjilat tidak mempunyai tujuan yang jelas serta tidak terikat dengan dasar-dasar yang sahih. Mereka tampil di setiap panggung kehidupan dengan beraneka macam kedok. Mereka memegang semua prinsip demi keuntungan dan pemenuhan nafsunya.
Orang yang fleksibel akan ramah dengan masyarakat, bahkan dengan musuh sekalipun, selama mereka tidak merugikan prinsip dan tujuannya. Maka dari itu, untuk menjaga prinsip, dasar pemikiran dan keilmuannya, serta asas-asas realitas kehidupan, ia memberikan jawaban yang `positif' pada apa yang mereka inginkan.
Kejadian-kejadian dunia laksana topan, angin badai, dan angin yang merusak. Topan muncul dari satu titik ; pepohonan, ladang2, bunga2 dan tanaman yang segar, mereka mengembalikan topan ke titik asal lalu mereka pun kembali seperti sedia kala. Namun pepohonan yang kering dan kaku, mereka menyimpan rasa takut menghadapi angin-angin besar. Karena tidak lentur, namun kering dan kekakuan, mereka berpindah tempat dan tercerabut dari akar-akar mereka.
Nabi saw menjelaskan sikap fleksibel dengan gaya khas, makanya patut untuk kami sebutkan di sini. Beliau bersabda, "perumpamaan orang mukmin bagaikan bulir yang diterpa angin, sesekali berdiri tegak dan sesekali membungkuk. Sedangkan perumpamaan orang kafir laksana tanaman kering, selalu tegak hingga tercerabut. Maksudnya, orang mukmin bagaikan bulir yang melunak, ketika diterpa topan dan di hadapan angin ia tidak melawan, sedangkan orang kafir laksana tanaman kering, selalu melawan dan akhirnya tercerabut dari posisinya.
Keras (kaku) dan sikap kasar dalam masalah-masalah kecil menyebabkan manusia terpuruk dan reputasi menjadi tercemar, serta menghambat mereka dari pencapaian kedudukan-kedudukan besar dan tujuan-tujuan universal. Jika Anda perhatikan isi perjanjian yang mengikat Nabi saw. Dengan kaum penyembah berhala, Quraisy, pada tahun 6 H, niscaya Anda terperangah dengan kelunakan beliau. Kelunakan beliau pada waktu itu menuai kritik dari sebagian kelompok yang tidak tahu. Tapi dengan berlalunya masa, kelunakan beliau terbukti telah mengantarkan kemenangan di masa mendatang.
Dahulu, hambatan serius bagi kemajuan Islam adalah kaum Quraisy. Mereka melancarkan serangan bertubi-tubi, dan mereka telah merampas segala bentuk kebebasan Nabi saw. Namun logika beliau begitu kuat, sehingga dalam waktu singkat—setelah mengutus mubalig dan menyebarkan Al Quran—beliau mampu menempatkan semenanjung Arab di bawah panji ajaran tauhid. Maka dari itu, untuk melangsungkan penyebaran risalah, beliau mengikat perjanjian dengan mereka (kaum Quraisy). Dari sinilah terlihat betapa beliau telah mengisyaratkan sikap lunak. Sebagai contoh, di bawah ini kami sebutkan sikap kelunakan beliau.
Pertama, ketika sekretaris Nabi saw., Amirul Mukminin, menulis lafal Bismillahirrahmanirrahim (i) di halaman pertama dari surat perjanjian, lalu utusan dari kaum Quraisy berkata, "Kami bangsa Arab pemuja berhala, tidak mengenal lafal Ar Rahman dan Ar Rahim. Jadi, lafal tersebut harus diganti dengan kebiasaan Arab, Bismikallahumma." Akhirnya Nabi saw. Menerima permintaan pihak kaum Quraisy, lalu sekretaris beliau menulis lafal Bismikallahumma.
Kedua, ketika sekretaris Nabi saw. Menulis atas perintah beliau " ini adalah perjanjian damai yang ditetapkan Muhammad "Rasulullah" dengan utusan Quraisy, langsung saja utusan itu berkata, "Kami sama sekali tidak Muhammad adalah utusan Tuhan. Kalau kami sudah tahu bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan, tentulah kami tidak pernah berhadapan dengannya (Muhammad) dalam peperangan."
Akhirnya Nabi saw. Memerintahkan kepada Ali agar menghapus lafal 'Rasulullah'.
Dan di antara isi perjanjian tersebut, bila seorang laki-laki dari kaum musyrik sekitar Makkah lari ke Madinah, pusat pemerintahan Islam, maka pemerintah Islam harus menyerahkan laki-laki tersebut ke pusat-pusat Quraisy. Namun bila seorang Muslim dari Madinah kembali (lari) ke Makkah, maka kaum musyrik Quraisy tidak wajib menyerahkan orang tersebut pada pemerintahan Islam.
Nabi saw menerima poin tadi agar pihak Quraisy mau menandatangani seluruh isi perjanjian hingga pada masalah-masalah yang fundamental
Mengapa kita tidak meniru Rasulullah?
*) Dari buku Bahagiakan Diri Anda dengan menjadi orang sukses-- Mewujudkan Impian yang paling Mustahil Sekalipun-- (Berguru pada Islam & Orang-orang Besar) karangan Ja'far Subhani terbitan Zahra Publishing House, hal 133-136.
"Maaf-memaafkan adalah ajaran semua agama, baik karena terpaksa atau memang karena kerelaan. Dan memaafkan karena kerelaan adalah terbaik dan itulah sifat terpuji. Sebab, ini adalah salah satu sifat Allah SWT. Pernah Aisyah ditanyai oleh umat di zamannya tentang sifat-sifat dan akhlak Rasulullah SAW, Aisyah hanya berucap : " Akhlak Rasulullah adalah Al Qur'an". Mengapa? Sebab satu di antara sifat terpuji beliau adalah "pemaaf".
Suatu saat di perang Uhud, sebuah peperangan yang dahsyat, gigi Nabi saw sampai patah, punggungnya robek oleh pedang, wajahnya dan tangannya juga terluka. Dengan jalan yang terhuyung-huyung dengan dipapah sahabatnya, Rasul saw. bersama sahabatnya ke arena pertempuran yang sudah ditinggalkan oleh pasukan Qurays yang pergi dengan sorak-sorai kemenangan. Rasul saw. terperanjat mendapatkan wajah pamannya, Hamzah yang bergelar "Singa Lapangan" sudah sulit dikenali sebab cacahan senjata tajam. Daun telinga dan hidungnya sudah disayat, matanya sudah dicongkel, dan dadanya sudah dirobek serta jantung dan hatinya sudah diambil dan dikunyah oleh seorang wanita bernama Hindun, istri Abu Sufyan.
Saat itu, beliau berucap dengan geram: "Wahai sahabat-sahabatku! Perhatikanlah kejahatan wataknya bangsa Arab, jenazah Hamzah sampai begini,,,,,tunggulah, nanti jika Allah menakdirkan kita diberi kemenangan,,,,,kitapun akan membalasnya dengan cara yang lebih dahsyat daripada ini,,,,! Usai berucap dan belum jauh melangkah, turunlah wahyu Surat An Nahl :126 ; " Dan jika kamu memberi balasan, maka lakukanlah dengan balasan yang seimbang dengan apa-apa yang mereka lakukan padanya. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang terbaik bagi orang-orang yang sabar."
Hanya beberapa tahun kemudian, Rasul dan kaum muslimin mendapat kesempatan buat membalas dendam terhadap kaum Musyrikin, yang didalamnya termasuk Hindun istri Abu Sofyan dan Wahsyi dimana keduanya sama-sama sekongkol menganiaya dan membunuh Hamzah hingga tewas mengenaskan. Saat itu, kaum Musyrikin termasuk Abu Sufyan dan istrinya Hindun, nyawanya berada dalam gengaman Rasulullah dan para sahabatnya. Tapi, Nabi Muhammad din Abdullah bersama ribuan sahabat Nabi saw. lainnya adalah manusia-manusia biasa yang mereka sama-sama memiliki "selembar" hati, hati yang bisa baik dan bisa juga jahat dengan seribu satu dendamnya.
Maka Allah menurunkan surat An Nashr yang intinya mengingatkan bahwa kemenangan tidak untuk sombong, dendam dan lupa diri, tapi untuk memuji, bertasbih kepada Allah serta memaafkan kesalahan bekas musuh sekalipun.
Saat-saat usai kunci kota Makkah diterima Nabi Muhammad saw dan Ka'bah dibersihkan dari segala patung-patung berhala (layaknya usai reformasi dengan segala kemenangannya), menjelang kembali ke Madinah, Rasul saw telah memaafkan semua bekas musuhnya, termasuk musuh yang pernah berusaha membunuh tetapi hanya bisa melukai, serta orang-orang yang terkait dengan pembuhuhan Hamzah, kecuali Wahsyi yang masih melarikan diri ke Thaif dan ke Syria. Tetapi beberapa bulan kemudian, Wahsyi pun datang menyerahkan diri kepada beliau saw. Di Madinah,,,,Rasul memaafkan Wahsyi, tanpa sedikitpun disakiti, walau hanya dengan dengan kata-kata.
Usai Wahsyi mengucap dua kalimah sahadat, Rasul memintanya menceritakan bagaimana ia berhasil membunuh Hamzah, paman Nabi dengan cara yang kejam,,,,, Dalam Wahsyi bercerita, Rasul berucap : " cukup-cukup! Aku tak kuat mendengarnya lagi.,,,,," Rasul saw. hanya berpesan kepada Wahsyi, "Nanti dalam pergaulanmu dengan aku, engkau hindarkan dari memandang mataku dengan tajam, itu saja permintaanku" Demikian ucap beliau.
Dalam suatu kesempatan, di sebuah gang sempit, Rasul saw. berpapasan dengan Wahsyi,,,Rasul saw. sempat bertanya: "Engkau Wahsyi?" Wahsyi pun menjawab: "Benar", lalu sama-sama menghindar diri,,,,,
Hari ini, Indonesia dihuni oleh tidak kurang dari 200 juta warga, yang sebagian besar dari warga Indonesia adalah muslim alias umat Muhammad saw. Tapi jika kita perhatikan, sejumlah kekerasan yang terjadi di masyarakat kita dewasa ini, baik kekerasan yang sampai kepada pertumpahan darah, demo-demo dalam bentuk bakar-membakar, pecah-memecah dan memporak porandakan lingkungan, maupun kekerasan ancam mengancam,,,,kiranya bangsa dan umat kita yang semula hidup ramah dan berbudi tinggi, kini terkesan semakin menjauh dari akhlak dan pribadi Nabi Muhammad saw. yang seharusnya kita teladani.,,,,
Apakah kita akan termasuk yang berbuat demikian?
|
|