Ali's posts with tag: nonton wayang
|  | Ini sebagian foto-foto pada acara Silaturrahmi Paguyuban Jateng pada hari Sabtu, 14 Juni 2008 di halaman RRI Jakarta. |
Meskipun hujan deras di hampir seluruh Jakarta pada hari Sabtu (14/6) kemarin, dan masih tetap rintik-rintik sampai sesudah adzan maghrib, namun tidak menyurutkan para penggemar wayang untuk berduyun-duyun mendatangi tempat acara di halaman RRI Jakarta, semalam. Sekitar seribu orang memadati area pertunjukan. Seluruh kursi yang disediakan panitia berjumlah 600 kursi penuh. Selebihnya duduk-duduk lesehan di sisi kiri (teras Gedung RRI Jakarta), sebagiannya lagi berdiri di belakang kursi-kursi tamu dan di luar pagar di pinggir Jl. Merdeka Barat. Nampak hadir Pembina Paguyuban Jateng, Jenderal (Purn) Wiranto, Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Mantan Kapuspen Kejagung R. J. Soehandoyo, Mantan Ketua Umum Paguyuban Jateng yang Juga mantan Wagub DKI Jakarta H.RS Museno, Pengurus Paguyuban Jawa Tengah, Pengurus Paguyuban Kota/Kabupaten se Jateng, dan masyarakat asal Jateng di Jabodetabek. Sementara Para kandidat Cagub dan Cawagub Jateng, termasuk Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo tidak bisa hadir karena kesibukannya di Jawa Tengah. Namun beberapa diantaranya mengirimkan tim suksesnya. Acara disiarkan langsung oleh RRI Jakarta pada pukul 20.30 Wib. Diawali dengan panembromo oleh Ibu-Ibu dari Paguyuban Jateng, laporan ketua panitia oleh Kolonel (Purn) Sutjipto, SH, sambutan dari Direktur RRI Jakarta (diwakilkan), sambutan Ketua Umum Paguyuban Jateng Letjen (Purn) Bibit Waluyo yang diwakili oleh Koordinator Para Ketua, Sutrisman, dan sambutan Pambina oleh Letjen TNI (purn) Wiranto. Penyerahan wayang lakon Wisanggeni dilakukan oleh Letjen (Purn) Sutiyoso. Ditutup dengan doa oleh Ketua MUI Bekasi yang asli mBanyumas (Jenengane kelalen lah) Dalam sambutannya, Wiranto menyinggung tentang perjuangan bangsa Indonesia di masa penjajahan. Sampai pada akhirnya lahir organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 yang membangkitkan kesadaran kepada rakyat Indonesia untuk berjuang melalui meja perundingan atau secara politik. Dia menyontohkan bagaimana Tiga Serangkai dr. Soetomo. Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan dr. Cipto Mangunkusumo yang telah berhasil membangkitkan kesadaran pemuda/bangsa Indonesia untuk berjuang melawan penjajah bukan hanya dengan perjuangan fisik, tapi juga di meja perundingan. Pada saat itu, kata Wiranto apabila semua orang Indonesia bersama-sama idu/meludah, maka penjajah akan tenggelam. Ini tentu bukan dalam arti yang sebenarnya. Ini bermakna apabila seluruh rakyat bahu membahu bergotong royong berjuang melawan penjajah, maka akhirnya kemenangan akan diperoleh. Dan ternyata memang demikian adanya. Secara umum penampilan Ki Purbo Asmoro memang bagus, apalagi ditambah dengan bintang tamu sinden bule Kessy dan sepasang sinden asal mBanyumas yang gokil dan kocak yaitu Nyi Wainten dan Nyi Yani. Maka pertunjukanpun penuh dengan gelak tawa. Ditambah dengan tampilnya Wiranto yang diajak ke panggung oleh Ki Dalang. Tidak menyangka, Wiranto ternyata sangat piawai nembang lagu-lagu jawa yang langsung diiringi dengan gending oleh pradangga dari RRI Jakarta. Bahkan ketika diberikan kesempatan yang ke dua kalinya oleh Ki Dalang, disambut dengan memberikan petuah/pesan kepada para Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang akan berlaga pada 22 Juni 2008, siapapun yang jadi/menang, maka Wiranto berpesan bahwa jabatan itu adalah amanah dan anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu, janganlah jabatan dijadikan sarana untuk mencari kesenangan pribadi ataupun golongannya. Kemudian Wiranto-pun nembang yang berisi pesan dari Pangeran Sambernyowo (Amangkurat) kepada para cagub dan cawagub Jateng. Acara disiarkan langsung oleh RRI ke seluruh Indonesia, sehingga mudah-mudahan sampai ke telinga para Cagub dan Cawagub. Sebagai penitia, aku tentu menyambut kehadiran para tamu undangan, termasuk Bapak Wiranto dan Bapak Sutiyoso. Juga sempat berbincang dengan Bapak Suhandoyo, mantan Kapuspenkum Kejagung yang wajahnya sering kelihatan di televisi itu. Kebetulan beliau datangnya agak telat, sehingga luput dari perhatian panitia yang lain. Akupun menyambutnya dan mengajak ngobrol dan mempersilahkan beliau untuk duduk di barisan depan. Hampir semua makanan yang dijajakan di tenda yang disediakan panitia aku cicipi. Bersama-sama dengan panitia yang lain, dan juga Kang Eko Bawor dan Kang Kuswandi Bakmi Margonda. Diantaranya mendoan, wedang jahe, soto Gombong, dan Nasi bebek kremes yang uenak tenan. Seperti biasa, sekitar jam 02.00 akupun bersama dengan Kang Eko Bawor dan Kang Kuswandi Bakmi Margondapun pamitan dan meninggalkan tempat acara yang masih penuh dengan penonton.
kurang lebih jam 19.00 lewat sedikit, malam itu Sabtu 17 Mei 2008 aku sudah sampai di Balairung UI Depok. Malam minggu itu, dalam rangka Dies Natalis UI yang ke 58 dan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke 100. Di sana sudah ada Pak Untung RS (Sekum KKB Jabodetabek), dan Pak Drs.Toto Sumarwoto (PEPADI DKI Jakarta). Juga ketemu dengan Pak Ir.Tarsoen Waryono, seorang dosen UI, penggagas hutan kota di kompleks UI Depok dan juga pengurus KKB Jabodetabek. Malam itu belum banyak yang datang. Tapi Rektor UI yang nampak masih sangat muda, Prof.Dr.der Soz.Gumilar Rusliwa Somantri dan Ketua Umum Panitia Prof.Dr. Sarlito Wirawan Sarwono sudah ada di di tempat duduk di deretan kursi paling depan. Acara dimulai dengan sambutan Ketua Pelaksana Ibu Woro R.Mastuti Pranidhana, M.Hum (FIB UI), kemudian dilanjutkan dengan Sambutan Pelindung Panitia Bapak Prof.Dr.Ir.Budi Susilo Soepandji (FTUI, sekarang Dirjen Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan RI), dan sambutan terakhir oleh Rektor UI Bapak Prof.Dr.der Soz Gumilar Rusliwa Somantri. Setelah itu adalah hiburan Tari Punjari (Tarian Jawa Timur tentang burung Punjari di tepi Pantai Banyuwangi) oleh 10 anak penari wanita dari Sanggar Tari Ayodyapala dari Sukmajaya dilanjutkan dengan Tari Wira Pertiwi (tarian kreasi Bagong Kussudiardjo dari Yogya, bercerita tentang ketangguhan prajurit wanita). Tari yang dibawakan oleh 5 mahasiswi UI ini nampak "bernas" dengan pakaian seragam prajurit berwarna kuning, dengan menenteng gendewa, dengan sosok penari yang langsing, cantik, dan berkulit kuning langsat. Hem,,, Selanjutnya penyerahan Wayang Anoman oleh tim penari dari UI tadi kepada Rekor UI yang selanjutnya diberikan kepada dalang muda Ki M. Pamungkas Prasetyo Bayu Aji (24 tahun) yang juga putra dalang kondang, Ki anom Suroto. Dan selanjutnya Ki Dalang naik ke panggung. Sedikit informasi bahwa Ki Dalang Bayu Ajin saat ini tercatat sebagai mahasiswa sosiologi UNS, Solo. Sebagai dalang muda kiprahnya di dunia "pedalangan" telah membawanya ke mancanegara dan menorehkan sejumlah prestasi diantaranya tampil dalam festifal seni di Jepang (1991), duta seni di Australia (1994) dan dalang terbaik se-Jawa-Bali (1996), dan nanti pada 8 Agustus 2008 akan tampil di kota Berlin, Jerman. (Sing neng Jerman bisa nonton kiyeh). Wayang dimulai sekitar pukul 21.30 Wib. Lakon yang dibawakan adalan Anoman Duta. Kursi Balairung di bagian bawah telah penuh, dan sebagian duduk di bagian atas. Penonton diperkirakan 1000 orang. Beberapa pedagang makanan seperti gorengan singkong keju, tahu, dan mendoan berada di belakang gedung Balairung. Juga sekuteng, kacang rebus, aqua, es teh manis, sroto, tukang obat, jualan wayang, tukang ramal, jualan VCD wayang, dan stiker wayang meramaikan pertunjukan wayang ini. Sempat ketemu dan berbincang sebentar dengan Ir.Totok Sugiyarto, sekretaris umum Paguyuban Jateng yang juga sekretaris DPD DKI sebuah partai politik. Jam 02.00 pulang dan langsung menuju ke Radio P2SC di Kemayoran yang juga sedang mengadakan pertunjukan wayang dengan siaran langsung.
Pagelaran Wayang Kulit yang berlangsung di Halaman parker Gedung Olah Raga Raden Inten, Buaran, Jakarta Timur pada Hari Sabtu malem Minggu, 22 Maret 2008 mulai pukul 21.30 sampai tancep kayon berlangsung meriah dan penuh gelak tawa. Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk gagrag Banyumasan dengan Ki Dalang Marwoto dari Banyumas dilaksanakan dalam rangka tasyakuran pernikahan putri seorang pengusaha Kontraktor yang resepsinya telah dilaksanakan beberapa waktu lalu di Panti Prajurit, Balai sudirman Jakarta Selatan. Dihadiri oleh sekitar 1000 orang, dengan model wayangan mirip Dalang Kondang Ki Sugino Siswocarito ini memang membuat penonton tidak beranjak dari tempat duduknya sampai pagi. Bahkan, beberapa penonton yang tidak kebagian tempat duduk yang disediakan tuan rumah, rela berdiri di sekitar panggung dan di belakang kursi undangan, serta duduk lesehan di depan kursi tamu VIP. Saya datang bersama Kang Eko Bawor dan Pak Parman, seorang kerabat Kang Eko. Mirip Dalang Gino Mengapa saya bilang mirip dengan Dalan Gino? Karena dari suaranya jelas mirip sekali. Kemudian sama-sama memakai lampu lighting (disko) dan suara untuk memberi efeck pada kejadian-kejadian misalnya untuk menutup satu episode dengan dua gunungan dsb. Untuk menutup suatu episode ,Ki Marwoto melakukan akrobatik dengan memutar dua gunungan sekaligus di udara dan menerima (mancak) kembali kedua gunungan tersebut dengan sempurna. Selama akrobatik tersebut maka efeck lighting dan efeck suara berperanan menambah mantapnya suasana. Ini juga dilakukan untuk wayang yang sedang berperang. Ciri khas lain yang hampir-hampir mirip dalang Gino adalah Rambutnya yang gondrong, bahkan lebih mirip dengan rambut Dalang Kondang dari Tegal, Enthus. Juga sindennya yang berjumlah banyak, sebagian muda-muda (apalagi yang bernama Ida) ada delapan orang, ditambah dengan pasangan pelawak yang sangat serasi saat ini yaitu Suliyah dan Bodong. Antawacana dari Ki Marwoto ini juga sangat jelas dengan diselingi sindiran sana sini terhadap keadaan mutakhir serta korupnya para pejabat. Juga sindiran tentang harga-harga yang melambung tinggi hingga tak terjangkau masyarakat kecil. Dengan pembawaan dialog yang kocak, menambah kemiripan dengan Ki Dalang Gino. Kemudian Gendhingnya juga lumayan kompak dengan ada tetabuhan lengkap untuk campursari seperti Gitar, organ, dan drum. Sedikit kekurangannya adalah Antawacana (dialog)nya banyak mengunakan kata-kata dalam Bahasa Indonesia atau bukan dalam bahasa jawa perwayangan. Namun untuk keseluruhan pertunjukan cukup memuaskan penonton. Jalan Ceritanya : Tanpa terlebih dahulu berbasa basi sebagaimana biasanya para dalang yang mengawali pertunjukan dengan menjelaskan, misalnya dalang itu artinya ngudal piwulang dsb, cerita langsung mengalir dengan pertemuan para punakawan pendawa yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bawor. (Ini agak di luar kebiasaan, karena punakawan biasanya keluar pada saat goro-goro). Mereka membicarakan tentang barbagai hal yang terjadi di Negara Pendawa. Harga-harga yang naik, kesulitan rakyat kecil, pejabat yang korup adalah pembicaraan mereka. Dalang meyimpulkan bahwa "Kedaulatan Rakyat" dilambangkan dengan Semar. Sampai pada kesimpulan dari Rama Semar bahwa, untuk menghentikan "pageblug" yang sedang melanda negara Amarta ini adalah dengan meminjam Jamus Kalimasada milik Raja Amarta, Prabu Puntadewa, sinuhun junjungan mereka. Singkat cerita, Petruk dan Bawor diutus oleh Rama Semar untuk berangkat ke Keraton Amarta menemui Prabu Puntadewa. Satu Episode ini ditutup dengan akrobat gunungan yang melayang-layang di udara disertai dengan efek lampu dan suara. Sementara itu, di Pendawa sedang terjadi pasewakan agung, yang membicarakan tentang masalah negara dan rakyat yang sedang mengalami papa cintraka. Mereka diantaranya Prabu Puntadewa, Raden Janoko, Raden Werkudara, serta ada tamu yaitu Prabu Bathara Kresna. Mereka juga membicarakan tentang Jamus Kalimasada yang murca (hilang) entah kemana. Sudah dicari kesana-kemari namun tidak juga membuahkan hasil. Di tengah-tengah perbincangan, masuklah Begawan Kumbayana atau yang biasa disebut Pendita Durna. Nah disinilah awal masalah atau awal konflik akan dimulai. Rupanya Pendita Durna sudah mendahului Ki Lurah Petruk dan Ki Lurah Bawor untuk menghadap ke Prabu Puntadewa. Seperti biasanya, Pendita Durna yang juga "guru" pendawa melancarkan serangkaian cerita serta fitnah yang ditujukan kepada Ki Lurah Semar. Dengan gaya khasnya "Pucuuuk, lole lole blegedhug monyor-monyor buntute kisoh,,,,,,," pendita Durna memamerkan kepandaiannya "menerawang" siapa kira-kira pencuri Jamus Kalimasada tersebut. Awalnya Pendita Durna mengatakan bahwa menurut penerawangannya, yang mencuri Jamus Kalimasada adalah pendatang yang kulitnya ireng cemani. Maka Prabu Sri Bathara kresnapun tersinggung, kemudian mempertanyakan maksud arah pembicaraan Pendita Durna. Ketika didesak, kemudian Pendita Durna mengatakan bahwa orangnya Bunder,,,,,,ketika ditanya lagi, maka dia menjawab bahwa pencuri Jamus Kalimasada adalah Kaki Semar Badranaya. Di tengah kekagetan para Pendawa, masuklah Ki Lurah Petruk dengan mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminjam Jamus Kalimasada, sebagaimana diutus oleh ayahnya, Ki Lurah Semar. Maka dengan serta merta Pendita Durna menimpali " Niki mesthi namung lamis, namung lamiiiis,,,Hegh,,,, Ingkang cetha miturut penerawangan kula Jamus Kalimasadha niku dipun colong kaliyan Semar,,,,, Niki Petruk ampun dipercaya, tiyang kere kados niki biasane tukang nglombo,,,,,Hegh,,,,". Maka seperti biasanya, yang paling termakan isyu itu adalah Raden Werkudara. Maka tidak menunggu lama, Ki Lurah Petruk langsung diseret keluar oleh Wrkudara,,,,, "Sabar,,,sabar ndoro,,,sing sabar,,,,," Begitu jerit Ki Lurah Petruk. Namun Raden Werkudara tidak memedulikannya dan terus saja menganiaya Ki Lurah Petruk. Ketika hendak dicekik, Petrukpun berbicara : "Sabar ndoro Werkudara,,,,,napa sampeyan mboten kengetan, sampeyan dados pejabat niku toli kula sing nyoblos,,,,,,,Lha seniki mpun dados pejabat, dados anggota dewan, koh malah sia-sia kalih rakyat cilik kados kula,,,,,. Kula mung dilomboni kaos thok" kata Petruk. Penontonpun tertawa dan bertepuk tangan,,,,, Namun rupanya Raden Werkudara sudah termakan isyu dari Pendita Durna, maka tetap saja Petruk dianiaya dan di lempar. Kemudian Ki Lurah Bawor yang mendapati Petruk babak belur, menghiburnya (Biasanya kalau Dalang Gino, Bawor mboten termima, alias tidak terima saudaranya diperlakukan semena-mena , dan dia akan menghadapi siapapun orang yang berani menganiaya saudaranya itu (tapi Ki Dalang Marwoto tidak mengembangakan ke arah sini) Kemudian di tengah perbincangan antara Bawor dan Petruk, datanglah Raden Antasena , secara diam-diam di belakang Bawor. Bawor tidak mengetahui kedatangan antasena hingga Bawor membicarakan (ngrasani) Bendaranya yang satu ini. Katanya :" Angger ndara Antasena kiye wonge pelit, ngomong jere kon padha kerigan, mengko rokok tek tanggung Inyong, E,,,,bareng wis padha mangkat kerigen, ngetokna rokoke tuk se-ler,,,,nggo udud dewek. Beda karo Ndara Wisanggeni, angger kae tah nyah-nyoh, cal-cul. Angger ana sing kurang-kurang ya ditomboki. Terus Ndara Antasena kiye thuk mis" Petruk nanya: " Aja sembarangan Rika Kang, thuk mis si apa? " Thuk mis ya angger ndeleng wong wadon "bathuke klimis" terus bae ngoyok-oyok. Ganu malah tau Truk, critane ndara Antareja kiye rawuh menggonku, jam papat sore, toli wayaeh wong adus. Lha Inyong ethok-ethok ora nana nang ngumah, E Ndara Antareja langak-longok nang kamar mandi, sing lagi adus bojoku, lha magane kamar mandine anu sekang tabag, tabage pada bolong,,,,,,,," Petruk : " ha,,ha,,ha,,,Aja sembarangan Rika Kang, apa iya laah,,,,wong bojomu mbok panuen, apa ya Ndara Antareja gelem" Bawor: " Ndara Antareja aja maning si menungsa, ora gelema. Wong wedus diparemi be gelem,,,,,,," Begitu Bawor mbalik ke Belakang, baru tau kalau orang yang dirasani ada di belakangnya. Maka Raden antasena langsung bicara " Ngeneh Wor, sing perek ngeneh", Bawor menjawab : "Mboten lah mriki mawon sing isis (sambil menyelinap ke belakang Petruk) Singkat cerita, Raden Antasena ingin mengingatkan ayahnya, bahwa ayahnya (Raden Werkudara) sudah termakan isyu yang tidak benar. Tetapi tetap saja tidak perduli. Malah Antareja dianggap menghalang-halangi dan durhaka sama orang tua. "Ngalih aja ngalang-alangi tek patenane si Petruk", Kata Werkudara. Maka terjadilah perang diantara mereka, dan Antsena mengeluarkan senjata andalannya yaitu sungut antaboga,,,,,,,, ------------------------------------------------------------- Bagian 2. Ada bagian yang terlewat pada laporan saya kemarin, yaitu sebelum pasewakan agung di Negara Ngamarta, terlebih dahulu ada pasewakan di Negeri Gagak Rewanda. Penguasa Negara itu adalah seorang raksasa (Buto) jejuluk Prabu Visa Kala Putha. Pada pasewakan tersebut, Prabu Visa Kala Putha berbincang dengan Pendita durna. Inti pembicaraan adalah Raja Negeri gagak Rewanda itu diminta bantuannya oleh Durna untuk membantu ngawat-awati atau mengamankan misi Pendita Durna yang akan memecah belah Negeri Ngamarta. Mengadu domba antara rakyat dan pejabat, serta rakyat dengan rakyat. Supaya Praja Ngamarta ringkih. Sebab dengan memecah belah negeri Ngamarta, Durna berpendapat nanti pada saat perang Baratayuda Joyobinangun akan memenangkan peperangan dengan negara Ngamarta. Sehingga negara Ngastina menang dan Durna akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Prabu Visa Kala Putha : " Hiii Haaa,,,,,Ha,,,,Bapa Pendhita Durna, panjenengan punika sekeca nggih dados pendita, dipun ormati kalian Ngastino ugi tiyang pendawa", Pendita Durna : "Pucuuk lole-lole blegedhug monyor-monyor buntute kisoh. Niku lak ujaripun panjenengan. Kula diormati niku lak menawi saweg pajeng, menawi saweg mboten pajeng nggih sami kurang ajar kalih kula, sami mbejujag kali kula. Malah wonten lare neneman ingkang mbejujag nulis kali cet pilok wonten tembok, ungele : Durna doyan royal, Durna pendita kenthir, Durna pendita mbregajag, Durna pendita mblekethek, ora tau adus. Laah niku napa mboten mbregajag. Wonten malih gambar pendita Durna rangkulan kali Nini Karsiti, gambar pendhita Durna lagi joged karo lengger, napa memper cobi,,,,, -------------------------------------------- Pada kesempatan itu juga Prabu Visa Kala Putha meminta perhatian kepada Pendita Durna bantuan dana untuk menyukseskan misi pengamanan terhadap pendita Durna. Dan Pendita Durnapun menyanggupi dengan berkata : "Ngengingi masalah akomodasi ampun kewatos, kula tanggel sedoyo. Mangke panjenengan kantun kirim nomer rekening kalih kula liwat sms mawon, mangke kula transfer dananipun saking Sukolimo" *** Kemudian pada peperangan antara Raden Werkudara dengan Raden Antrareja yang sudah saya ceritakan di laporan pertama, itu yang benar diawali dengan Antasena. Kemudian Antasena dibantu oleh Antareja. Sebetulnya Antareja tadinya dibujuk oleh Durna untuk membela Bapaknya (Werkudara), tapi tidak mau dan memilih bergabung dengan Antasena. Nah, sebelum Prabu Visa Kala Putha disuruh oleh Durna untuk menghadapi Antasena , Antareja, dan Setyaki, mereka nanggap lengger Banyumas Bu Narsih dan lawak Nini suliyah-Kaki Bodong. Maka pagelaran kemudian beralih ke panggung di mana terjadi dialog antara Dalang dengan lengger Narsih serta Suliyah dan Bodong. Satu persatu sinden-sinden mudapun ditampilkan menghibur penonton.Diantaranya menyanyikan Eling-Eling. Dalam mengomentari sinden-sinden muda yang cantik dan genit, Kaki Bodong berkomentar. " Gyeh Sul (Suliyah) angger ndeleng sinden kaya sinden Ida utawa Ira kiye tah singkatane D3" "D3 si anu apa" tanya Suliyah. " D3 ya Ditrawang, Dipegang, Dimakan,,,,",kata Bodong dengan logat suara seperti Penjol. "Lha Angger D3 ne kowe tah sejen maning Sul", kata Bodong. "Lha D3-ne Inyong si apa?" tanya Suliyah. " Diendrin, Dibunuh, Diracun",,,,,,jawab Bodong. Penontonpun tidak bisa menahan tawanya,,,,,,,,, Setelah acara hiburan dan lawak selesai, wayangan dilanjutkan dengan peperangan antara Prabu Visa Kala Putha dengan Raden Antasena, Setyaki, dan Antareja. Dengan kesaktiannya akhirnya Prabu Visa Kala Putha memenangkan pertandingan. Merekapun dengan bala tentaranya menuju ke Kelurahan Karangkedempel menuju rumah punokawan sambil mengejarKi Lurah Petruk dan Bawor yang melarikan diri. ------------------- Adegan selanjutnya adalah Jejer Negeri Wayantoro, dengan Raja Wasesa Jati dan Patih Kasanggono (semuanya Raksasa) Di negeri ini juga sedang tertimpa banyak musibah atau pageblug. Kelaparan, harga-harga tak terjangkau, banyak bencana alam, banyak penyakit, sehingga pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal, dsb. Sudah dicoba untuk diatasi tetapi gagar wigar tanpo karyo, tidak berhasil. Sampai pada sebuah kesimpulan bahwa syarat agar negara menjadi maknur adalah harus ada tumbal. Tumbalnya adalah Ludiro Seto atau Getih Putih dari Prabu Puntadewa, ana ing tanah jowo yaitu Negeri Ngamarta. Bendera atau lambang negara Ngamarta yaitu gula kelapa. Maka diutuslah Patih Kasanggana untuk mencari Negeri Ngamarta di tanah jowo untuk memeras ludiro seto dari Prabu Puntadewa. Dalam perjalananannya nampaking dirgantara, perjalanan Patih Kasanggana kebetulan dilihat oleh Raden Anoman. Sebetulnya Anoman dalam perjalanan menuju Karangkedhempel untuk berkunjung ke Semar. Meskipun tidak diundang pada perhelatan di rumah Semar, Anoman karena merasa berhutang budi pada punakawan jaman revolusi negara Ngalengkadirojo, maka secara diam-diam Anoman napaking dirgantara menuju ke rumah punakawan pendawa itu. Maka Raden Anoman mengikuti dari belakang maburnya Patih Kasanggana. Sampai patih Kasanggono keceplosan bahwa dia hendak pergi ke negeri Ngamarta untuk meres Ludira Seto Prabu Puntadewa. Sontak Anoman tidak terima dan dihantamlah Patih Kasanggana dari belakang. Ketika terjadi dialog antara Patih Kasanggana dengan Raden Anoman, maka Anoman mengaku sebagai securitynya Negara Ngamarta,,,,,,,,, Maka terjadilah peperangan seru. Patih Kasanggana : "U,,,u,,u,,,uuu,,,,,we ladhallah,,,,Ora baen-baen kiye kethek Anoman, tek sembur mripatmu ora picek tek sembah ider-ideran,,,,,,," Maka diludahilah raden Anoman dan seketika mengalami kebutaan,,,,,"Aduh wa semaaar,,,,,aku njaluk ngapura, Prabu Puntadewaaa,,,kula nyuwun ngapunten mboten saged mbiyantu panjenengan,,,,," begitu tangis Raden Anoman. *** Selanjutnya adalah hiburan babak ke dua. Ada lagu "Nginang karo ngilo", dengan campursari : "dithuthuuk nganggo pipo ledheng,,,,,,," Ada juga lagu klasik "Uler Kambang" yang dinyanyikan oleh Nyi Ngadisah, sinden dari Kemayoran. Ada juga duet "Randha Kempling" oleh seorang penonton yang bernama Pak Junedi (seorang pimpinan Grup Ebeg) dengan Ida. Tidak ketinggalan lawak Suliyah-Bodong. Dalam lawaknya, Bodong menasehati kedua mempelai agar melakukan M 5. "Kuwe apa maning" tanya Suliyah. "M 5 kuwe mlumah, mengkureb, modod, mlebu, metu" jawab Bodong. Penontonpun ger-geran,,,,,, Mlumah kuwe artine tengadah karo sing gawe urip, nyenyuwun karo Gusti kang Maha Agung. Mengkureb artine, kanggo sing lanang bojone kuwe sing paling ayu. Kanggo wong wadon, angger lagi tengkureb (nang nduwur) lanange sing paling bagus. Modo kuwe artine wong lanang berusaha sekuat tenaga nggolet rejeki sing penting halal nggo nguripi anak bojo. Sayang maksudnya mlebu lan metu belum dijelaskan. Pada kesempatan itu juga dinyanyikan lagu Ricik-ricik Banyumasan, Mendem Wedokan (Bodong- Ida), dan lagu pop nasional "Jalan Terbaik" Pada saat bodong nembang Mendem wedokan, dia nyanyi : "Mbokeee,,,,,,,dst, Sing penting gedhe iii,,,," Suliyah : " iii,,,, apa kuwe" " Iiiimaneee,,,,,,," kata Bodong. Penonton lagi-lagi ketawa,,,,,, * * * Sampai di sini, waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Saya pun berpamitan kepada tuan rumah Bapak H.Suwarto Hadi Prayitno. Bersama-sama pamit Kang Eko Bawor, Pak Parman (kerabat Kang Eko), Pak Sukimin (Owner Soto Eling-Eling), Pak Kuswandi (Owner Bakmi Margonda), dan Kang Ristamto. Tiga mobilpun keluar dari parkiran Gedung Olah Raga Senam Raden Inten, Buaran, Jakarta Timur.
|
|