Ali's posts with tag: keluarga
|  | Ini adalah sebagian foto-foto perjalanan ke Sariater, Gunung Tangkuban Perahu, Cihampelas, Cibaduyut, dan nginep di Hotel di Bandung. (17-18 Juni 2008) |
|  | Ini adalah foto bersama teman-teman kelas IIIF SPG Negeri Purwakerto angkatan tahun 86 pada hari Minggu, 16 Oktober 2007 di sebuah restoran di Purwokerto. 22 tahun berlalu tak terasa, tapi akhirnya kita ketemu juga,,,,kapan bisa berkumpul kaya gini lagi ya? |
Alkisah, sebuah pengembaraan Candra Gupta Sandipala beserta Brahmana dan pengikut-pengikutnya di Wilayah Banjarnegara. Sampailah mereka di sebuah lereng yang bernama Dieng. Mereka disambut baik oleh Akuwu/Tetua dan masyarakat setempat. Hubungan baikpun terjalin semakin erat karena persamaan visi dan misi dalam penyebaran agama Hindu. Eratnya hubungan ini ditandai oleh pernikahan Candra Gupta Sandipala dengan Maha Tantri Nurisia, putri dari Akuwu/Tetua Lereng Dieng Kerjasana dan kebersamaan menguatkan perkembangan sosial ekonomi, politik, dan budaya pada waktu itu, hingga tercetuslah satu ide untuk mewujudkan satu tempat sebagai sarana peribadatan agama Hindu yaitu Candi. Setelah merencanakan tanpa melupakan tiga unsur penting seperti air, api, dan udara, mereka lalu mulai menebang hutan/babat alas. Berbagai rintangan dihadapi. Gangguan makhluk jin maupun gangguan fisik yang lain silih berganti. Hingga pada akhirnya berdirilah Candi Dieng nan megah, perkasa, elok nan indah bak nirwana. Itulah Drama Tari yang dipentaskan di area "Ojo Dumeh" di Anjungan Jawa Tengah TMII semalam (7/6). Hadir Gubernur Jawa Tengah Ali Mifidz, Bupati Banjarnegara Djasri, Duta Besar Negara sahabat, Ketua Umum Serulingmas Pusat Dr.Ir.Yuwono Kolopaking, Mantan Ketua Umum Paguyuban Jateng HRS Museno, Pengurus Paguyuban Jawa Tengah, dan masyarakat Banjarnegara di Jakarta dan sekitarnya. Menurut undangan yang "Inyong" terima, para tamu undangan dimohon hadir 15 menit sebelum pukul 19.00 Wib. "Inyong " sendiri hadir sekitar pukul 19.15 Wib. Disambut beberapa panitia yang menggunakan seragam batik Menjangan khas Banjarnegara, mengisi buku tamu, dan menerima souvenir yang ditempatkan di tas bergambar Pesona Wisata Kabupaten Banjarnegara atas nama Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara. Tas dari kertas bergambar Bupati Banjar sedang naik perahu karet Arung Jeram di Sungai Serayu dan Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas dengan warna dasar merah dan hitam ini nampak indah. Tas sauvenir diantaranya berisi teko teh poci kecil dengan satu gelas yang terbuat dari tanah liat hasil kerajinan Klampok, Satu botol besar Sirup Salak "Azizah" dari kecamatan Madukara, Lempok/Jenang dari Salak Banjar, Gula Aren, makanan kecil dan peta pariwisata Banjar dengan judul Discover The Enchanting Tourism of Banjarnegara. Begitu masuk ke area Anjungan Jawa Tengah, undangan langsung dibelokan oleh panitia yang jumlahnya sangat banyak itu ke tempat makan malam di sebelah kiri depan Anjungan. Makanan yang disajikan diantaranya Sate ayam Banjar, Soto Banjar, dan Dawet Ayu Banjarnegara. Ada juga prasmanan dengan menu utama ayam goreng bumbu asem manis, sop daging dan tetelan sapi, dan makanan penutup berupa aneka buah dan puding. Setelah itu, undangan di arahkan untuk memasuki area "Ojo Dumeh" yaitu sebuah arena di depan sebelah kanan pendopo Anjungan Jawa Tengah yang di dinding belakang panggung pertunjukannya terdapat tulisan jawa "Ojo Dumeh". Kursi tamu di depan dan dibelakangnya yang berupa bangku beton berundak-undak nampak penuh. Baik di depan panggung maupun di sisi kanan panggung. Jumlah pengunjung diperkirakan 750 orang. Sementara di pendopo anjungan juga terdapat kursi-kursi yang mengelilingi meja bulat berbalut kain berwarna putih dikelilingi oleh AC outdoor yang cukup besar di setiap pojok tempat para tamu undangan VIP makan. Berbagai macam makanan nampak berderet di sekililing pendopo anjungan. Jalannya Acara Acara diawali dengan penampilan tari Gambyong Banyumasan yang dibawakan oleh 9 gadis berparas manis memakai kemben dengan kain batik dan selendang berwarna kuning serta rok di dalam balutan kain yang berwarna senada. Diiringi dengan gending dan nyanyian waranggana yang ada di sebelah kanan undangan. Lampu sorot warna warni nampak menambah indahnya suasan panggung dengan latar belakang tanaman-tanaman berwarna hijau.. Kemudian sambutan Bupati Banjarnegara Djasri. Dalam sambutannya, Bupati yang perawakannya tinggi besar ini mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jateng Ali Mufidz yang telah menunjuk Kabupaten Banjarnegara mewakili Propinsi Jateng menampilkan potensi wilayahnya di Jakarta. Djasri juga mengenalkan beberapa pariwisata Banjarnegara seperti Candi Dieng, Arung Jeram, Sumur Jalatunda, Telaga Balekambang, Air Terjun Sirawe, Curug Pitu, dan lain-lainnya. Djasri juga membanggakan warganya yang berhasil memperoleh kejuaraan di tingkat dunia seperti pencak silat dan tinju. " Cris John, jago pukul di ring itu juga dari Banjar lho" begitu promosinya. Spontan disambut tepuk tangan para hadirin. Dilanjutkan dengan sambutan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz. Dalam sambutannya Gubernur Jawa Tengah yang sebentar lagi meninggalkan jabatannya itu mengucapkan terima kasih kepada Bupati Banjar dan Pemda Banjar yang telah menampilkan potensi Kabupaten Banjar/Jateng dengan sangat baik. Setelah itu, ditampilkan tari Aplang yang dibawakan oleh penari pria dan wanita yang memakai sandal bakyak dari kayu. Diiringi genjringan dengan bas kendang disertai nyanyian puji-pujian terhadap kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setelah itu adalah penampilan dramatari "legenda Candi Dieng" dan penyerahan Cinderamata kepada para Duta Besar oleh Gubernur Jawa Tengah. Juga penyerahan Cinderamata kepada General Manager Taman Mini Indonesia Indah. Acara berakhir sekitar pukul 21.30 Wib. Polantas pun sibuk mengatur lalu lintas yang macet di sekitar lampu merah TMII. Beberapa mobil nampak berplat nomor H (Semarang) dan RD (Banjarnegara) keluar dari TMII.
Tersebutlah, seorang anak (dan mungkin) masih banyak anak-anak yang lainnya, yang menjadi yatim, yang dibuang atau tidak diakui oleh orang tuanya, dan selalu disia-siakan hidupnya. Hal ini terjadi karena anak tersebut adalah hasil perselingkuhan. Kasihan anak ini. Dia tidak berdosa, yang berdosa adalah kedua orang tuanya. Tapi ulah orang tuanyalah yang menjadikan hidupnya merana. Tidak diakui oleh saudara-saudaranya, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Karena dianggap sebagai aib yang yang harus dilenyapkan. Inilah cerita pertunjukan wayang kulit gagrag Banyumasan (sekitar 2 jam) oleh Ki Sigit Adji Sabdoprijono SSn di Lantai 4 Selasar Budaya Tirto Utomo, Cikini Jakarta Pusat, semalam. Pertunjukan wayang diawali dengan penggambaran percintaan antara Dewi Kunthi yang diperankan oleh penari Nungki Kusumastuti dengan Dewa Surya yang diperankan oleh Teguh WO Barata. Acara berlangsung sekitar 2,5 jam dari mulai pukul 19.30 sd pukul 22.00 Wib. Terlihat hadir budayawan Frans Magnis Suseno, Bapak Yuwono Kolopaking (Ktua Umum Serulingmas Pusat), Bapak Purbadi,SH (Ketua Umum KKB Jabotabek) beserta istri, Mas Panky Soewito (Artis sinetron, suami Yaty Octavia), Pak Widodo (Tim sukses Pak Marjoko), sejumlah pengurus Tirta Foundation, pengurus Serulingmas pusat, dan pengurus KKB Jabotabek. Ki Dalang Sigit (40 tahun) menunjukkan pada penonton betapa dahsyat perjuangan seorang anak manusia yang tidak dicintai oleh ayah dan ibunya. Penonton juga mendapat pelajaran, betapa beratnya menjadi seorang ibunda bagi dua orang anak yaitu Adipati Karna dan Arjuna yang ditakdirkan untuk berkelahi sampai mati dalam babad Perang Baratayuda Joyobinangun. ”Banjaran Adipati Karna” tidak semata-mata melukiskan ”Arjuna Wiwaha” atau Karna Tanding” sebagai bagian dari perang saudara yang paling hebat dalam sejarah pemikiran; tetapi juga menyoroti bagaimana seorang anak manusia mampu membangun pribadinya sendiri yang luhur dan mulia Banjaran Adipati Karna menceritakan perselingkuhan antara Dewi Kunthi dengan Dewa Surya. Kemudian, karena dianggap sebagai aib maka jabang bayi yang dilahirkan lewat kuping itu kemudian tidak diakui sebagai anak oleh Dewa Surya. Bahkan Ibunya pun membuangnya. Adipati Karna kemudian menjadi sosok yang kehilangan cinta. Ayahnya, Dewa Matahari pergi begitu saja.Ibunya, Dewi Kunthi malah membuangnya,karena malu melahirkan di luar kebiasaan (lewat telinga) buah cintanya dengan dewa. Singkat cerita, ketika akan terjadi perang baratayuda, Dewi Kunthipun gagal membujuk sang anak (Adipati Karna) untuk tidak berperang melawan saudaranya (Raden Janoko). Adipati Karnapun mengatakan kepada Ibunya, ”Tinggalkanlah saya untuk yang kedua kalinya, biarlah saya ingin memperjuangkan junjungan saya, negara saya. Toh seandainya salah satu terbunuh, Pendawa tetap lima. Jika saya yang terbunuh, maka pendawa masih lima. Dan Jika Janoko yang terbunuh, pendawa juga masih lima (dengan Karna)” Dewi Kuthipun menjerit mendengar perkataan Adipati Karna. Inilah karma bagi Dewi Kunthi yang selama ini tega meninggalkan Karna,anaknya. Lalu. Bagaimana dengan kondisi jaman sekarang, apakah seorang anak yang pemurung,temperamental, frustasi (karena banyak ditolak) , menjadi figur yang patut diteladani? ”Bisa” kata konsultan pewayangan terkemuka, Sudarko Prawiroyudo yang berpidato mengawali jalannya acara. ”Adipati Karna mampu menjadi manusia teladan karena ia mengenali siapa kawan kesedihan, saudara penderitaan, dan sahabat kematian.” Bukankah bagi orang yang mati membela negara termasuk ke dalam mati syahid yang kelak masuk surga?” Sebagaimana kita lahir dengan tulus ikhlas ke bumi ini, demikian pula hendaknya kita berani meninggalkannya. Untuk itulah kita belajar pada Adipati Karna, yang sangat mencintai ”musuhnya”, dan mengalahkan dirinya sendiri, justru untuk menang. Adakah Anda pernah melihat lukisan atau monumen Arjuna Wiwaha karya Nyoman Nuarta di ujung bundaran Thamrin-Merdeka Barat? Ksatria di atas kereta yang ditarik delapan ekor kuda itu sedang bertempur. Siapakah yang dihadapinya? Musuhnya tidak kelihatan, tetapi ada di dalam hati kita yaitu Adipati Karna, dengan Prabu Salya sebagai saisnya. Pertempuran Agung ini adalah sumber dari kitab Bhagawat Gita—Nyanyian Dewata. Apakah kita akan melakukan perselingkuhan seperti Dewi Kunthi dan Dewa Surya?
Hari Minggu, 27 April 2008 kemarin, aku ke acara rapat Paguyuban Jawa Tengah di Apartemen Istana Sahid, Jl Jend Sudirman, Jakarta. Apartemen Sahid terletak di belakang Hotel Sahid, atau masih satu kompleks dengan hotel Sahid. Fasilitasnyapun ternyata sama dengan hotel. Aku ke sana bareng Kang Eko Bawor. Hadir sekitar 60 orang terdiri dari para ketua bidang pengurus PJT (Paguyuban Jawa Tengah) serta pengurus paguyuban kabupaten se Jawa Tengah. Nampak hadir bendahara umum PJT, Ibu Yanti Sahid Gitosarjono (tuan rumah rapat), Ketua Umum yayasan Serulingmas (seruan Eling Banyumas) pusat, Bapak Dr.Ir. Yuwono Kolopaking, Ketua Harian PJT Bapak Sutrisman dan yang lainnya. Rapat membahas masalah kegiatan-kegiatan yang hendak dilakukan,terutama ide ataupun rencana-rencana dari masing-masing ketua bidang serta sosialisasi dicalonkannya Ketua Umum PJT, Letjen (Purn) Bibit Waluyo oleh sebuah partai besar, menjadi calon Gubernur Jawa Tengah bersama Bupati Kebumen Rustriningsih sebagai calon Wagub. Diantaranya juga membahas rencana ketua bidang Ekonomi/perbangkan yang mengusulkan adanya koperasi simpan pinjam, usulan adanya pagelaran Wayang Kulit oleh ketua bidang Seni Budaya, dan aku sendiri sebagai ketua bidang Pemuda dan Olah Raga mengusulkan kegiatan OR berupa jalan santai di sekitar monas untuk warga Jateng yang ada di Jabodetabek. Bapak Yuwono Kolopaking juga mengusulkan diadakannya turnamen Golf yang bisa diadakan di Golf Merapi di Yogyakarta dengan potongan pengggunaan lapangan Golf sampai 50% (Lapangan Golf nya Pak Yuwono siy,,,) Ibu Yanti Sahid Gitosarjono memberi usulan tentang penanggulangan kemiskinan di daerah Jateng. Ibu Yanti yang anggota DPR dari fraksi PDIP dari daerah pemilihan Jateng menggagas perlunya peran serta paguyuban Jateng dalam ikut serta meningkatkan taraf hidup masyarakat di Jateng. Dia banyak memberikan contoh-contoh kegiatan yang selama ini dilakukan sebagai anggota DPR di daerah pemilihannya. Tepat jam 17.00 acara selesai. Hadirin dipersilahkan makan-makanan yang sudah disediakan, diantaranya sate ayam dang ado-gado. Habis itu, aku sama Kang Eko Bawor menuju ke Cikini, tepatnya ke Gedung Tirta Foundation. Di situ digelar pertunjukan wayang padat (sekitar 2 jam) oleh Ki Sigit Sabdo Adji Priyono,SSn (kakaknya artis Mayangsari). Terlihat hadir budayawan Frans Magnis Suseno, Bapak Yuwono Kolopaking, Bapak Purbadi,SH (Ketua Umum KKB Jabotabek) beserta istri, Mas Panky Soewito (Artis sinetron, suami Yaty Octavia), Pak Widodo (Tim sukses Pak Marjoko), sejumlah pengurus Tirta Foundation, pengurus Serulingmas pusat, dan pengurus KKB Jabotabek. Pertunjukan wayang diawali dengan tampilnya penari Nungki Kusumastuti beserta Teguh (WO Barata), masing-masing menggambarkan sebagai Dewi Kunthi dan Dewa Surya yang melakukan perselingkuhan sehingga di kemudian hari lahir Karna lewat telinga. Nungki dan Teguh nampak serasi dan menari bagus sekali. Wajah merekapun selalu menggambarkan senyum nakal layaknya orang yang melakukan perselingkuhan. Kemudian dilanjutkan dengan wayangan sesungguhnya, sekitar 2 jam pertunjukan. Sebelum acara selesai, sekitar pukul 21.30 wib, aku dan Kang Eko Bawor pulang. Aku juga gak tahan ngantuk banget gara-gara Minggu paginya bangun jam 03.00 dan sesiangan ngga tidur siang. Cerita tentang Karna yang tidak diakui dan dibuang oleh kedua orang tuanya nanti jadi cerita tersendiri saja.
Kemarin, Minggu 20 April 2008 aku,istri, dan anaku Naufal ke Pameran Green Festifal di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Banyak hal yang bisa diserap dari festfal itu. Dengan tidak menggurui dan terkadang jenaka,banyak gambar kartun yang berisi ajakan untuk menyehatkan bumi dari ancaman pemanasan global (Global Warming) Diantaranya adalah ajakan untuk berjalan kaki jika jarak tempuh pendek, atau naik sepeda jika jarak tempuh agak jauh sedikit, misalnya sekitar 5 km. Urut-urutan anjurannya adalah. Jalan kaki, kemudian naik sepeda (tidak ada polusi, menghemat BBM), kalau terpaksa memakai kendaraan ya pakailah kendaraan umum. Lalu sepeda motor (lebih irit BBM dan tidak begitu makan badan jalan sehingga tidak bikin macet). Paling dihindari adalah naik mobil pribadi. Apalagi kalau isinya cuma satu orang. Di situ dianjurkan apabila naik mobil, ajaklah keluarga atau siapapun yang satu arah (satu jalan) sehingga mengurangi kemacetan dan hemat BBM. Juga digambarkan melalui video yang dipancarkan dengan infokus,bagaimana es yang mencair di kutub utara akibat pemanasan bumi. Mengapa bumi semakin panas? Ini dikarenakan terhambatnya sinar matahari yang dipancarkan kembali oleh bumi, oleh Gas Rumah Kaca. Ini bukan rumah atau gedung yang memakai kaca, tapi suatu gas semacan Karbondioksida yang bisa menghambat lepasnya panas dari bumi akibat pancaran sinar matahari. Ada juga anjuran untuk hemat listrik dengan menyetel AC paling dingin 25 derajat. (dikamarku biasanya di setel 24 derajat, tapi kalau Naufal atau istri saya biasanya kepenginnya langsung dingin dengan menyetel "super"). Akibatnya kalau menjelang pagi,kamar dinginnya bukan main, mungkin 16 atau 18 derajat kali) Biasanya aku terbangun dan menyetel remote ke 24. Ada juga anjuran agar kita jadi Vegetarian, ya hanya makan makanan dari tanaman dan sayuran, tidak mengonsumsi daging, baik daging hewan seperti sapi dan kambing maupun ikan. Bagus juga untuk dicoba, tapi kalau yang biasa makan daging atau ikan, bisa ngga ya menghilangkan kebiasaan ini? Soalnya katanya makan daging itu banyak bahayanya. Disamping dapat menyebabkan darah tinggi,kegemukan, juga dapat menyebabkan kanker usus. Sebab daging yang dimakan mengalami pembusukan di dalam usus manusia, sementara buah dan sayuran, tidak mengalami pembusukan,,,,,ya yang lebih tau tentu dokter. Tapi paling tidak kalau kita melakukan ini, badan kita akan lebih sehat dan harapan hidupnya menjadi lebih panjang. Coba simak di http.SupremeMasterTV.com Ada juga panggung hiburan. Kemarin pas ada Opie Andaresta lagi nyanyi kampanye tentang penghijauan. Sayang es krim wallsnya kehabisan, sehingga Naufal ngga bisa makan es krim kesukaannya. Akhrinya makan siomay di luar arena sambil menonton Oppie menyanyi di panggung.
Kemarin, hari Sabtu, 19 April 2008, Aku mengantar istri menjenguk temannya yang sedang sakit. Ini adalah teman akrabnya sejak di SMP 151 di kawasan Plumpang, Jakarta Utara. Dia sekarang sudah menjadi penyanyi dangdut yang cukup terkenal, dengan hitsnya yaitu Wulan Merindu. Ya, dia adalah Cici Faramida. Cici kini terbaring lemah di sebuah Rumah Sakit di Jakarta.(wartawan dilarang masuk ke tempat perawatan Cici). Menderita demam berdarah (DBD) dan komplikasi dengan sakit typus. Kasihan sekali. Hari Sabtu kemarin, kondisi trombositnya masih belum pulih, tapi sudah cukup sehat untuk berbicara, bahkan bercerita ngalor ngidul dengan kami. Selama kurang lebih satu jam saya dan istri berada di kamar perawatan Cici. Saya juga sempat berbincang dengan nenek Cici dari pihak Ibu, yang ternyata adalah ustadzah NU (Nahdlatul Ulama). Kemarin Cici hanya ditemani oleh neneknya dan dua pembantunya. Cici menempati kamar Super VIP, dengan fasilitas ruang tamu dengan satu set tempat duduk, satu set meja dan kursi makan, kulkas, serta televisi 29 inci di ruang tamu. Di kamar perawatan juga terdapat televisi 21 inci di yang diletakkan di atas sebelah kiri ranjang , extra bed , serta kursi untuk keluarga maupun yang menjenguk. Mudah-mudahan cepat sembuh ya Ci. Sehingga bisa nyanyi lagi menghibur banyak orang. Mungkin Allah sedang memberikan cobaan, supaya Cici beristirahat dan banyak berkumpul dengan keluarga dan handai taulan.
|  | Ini adalah foto ketika berada di PT. Pindad, Bandung. PT. Pindad adalah perusahaan milik negara yang memproduksi senjata, dari mulai pistol sampai tank yang konon pakai AC. Rombongan berjumlah 48 orang.
Kunjungan berlangsung pada hari Rabu, 6 Februari 2008 sekitar pukul 13.30 sd 15.00 WIB. |
Link: http://arsmitra.multiply.com/PT. Arsidelsa Mitra Utama adalah sebuah perusahaan kontraktor yang telah berpengalaman mendesain dan membangun rumah, kantor, dan bangunan-bangunan lainnya dengan kualitas prima dan harga bersaing. Kami juga mengerjakan: * Perencanaan Arsitektur dan Interior * Residential seperti rumah tinggal dan villa maupun cottage * Public Commercial seperti Gedung Kantor, Supermarket, Ruko * Public Service seperti Gedung Sekolah, Klinik, Rumah Ibadah dan Gedung Serba Guna * Fit Out Interior dan Loose Furniture pada bangunan Residential, Commercial maupun Public Service * Landscape/ Seni Tata Hijau * Renovasi Bangunan Arsitektur dan Interior Saat ini kami sedang membangun serta memasarkan town house di daerah Kuthasari Purwokerto. (lihat http://alirahmat.multiply.com/photos/album/13/Jual_RumahBila Anda membutuhkan jasa kami, silahkan menghubungi kami di 021-921 282 11 atau 0812 818 5716.
Teater Koma didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977 oleh 12 pekerja teater, diantaranya nano Riantiarno, Sari Madjid, Rima Melati, Rudjito, Jajang Pamontjak, Titi Qadarsih, Syaeful Anwar, Cini Goenarwan, Jimi B. Ardi, Otong Lenon, Zaenal Bungsu dan Agung Dauhan. Mereka berkumpul di rumah Abdul Madjid di Jl. Setiabudi Barat No.4 Jakarta Selatan. Ikrar mendirikan sebuah grup teater dipatok. Dan nama grup yang disepakati; TEATER KOMA. Koma, sebuah metafora yang berarti "gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tiada henti, tak mengenal titik. TEATER KOMA banyak mementaskan karya-karya N. Riantiarno. Antara lain Rumah Kertas, Maaf Maaf Maaf, JJ Kontes 1980, Trilogi Opera Kecoa (Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini), Opera primadona Sampek Engtay, Banci Gugat, Konglomerat Burisrawa, Pialang Segi Tiga Emas, Suksesi, Rumah Sakit Jiwa, Semar Gugat, Opera Ular Putih, Opera Sembelit, Samson Delila, Kala, Presiden Burung-Burung, Repubil Bagong, Republik Togog, Tanda Cinta, dan terakhir yang sedang pentas sampai tanggal 25 januari adalah Kenapa Leonardo? Karya Evald Flisar, novelis kondang kelahiran Slovenia 12 Februari 1945. Juga menggelar karya dramawan kelas dunia; The Comedy of Error dan Romeo juliet- William Shakespeare, Woyzeck-George Buchner, The Threepenny Opera dan The Good Person of Shechzwan-Bertolt Brecht. Karya-karya Moliere: Orang Kaya Baru, Kena Tipu, Doea Dara, Si Bakil dan Tartuffe. Women in Parliement-Aristhopanes, The Crucible (Tenung)- Arthur Miller, The Marriage of Figaro-Beaumarchaise, Animal Farm-George Orwell, Ubu Roi-alfred Jarre, The Robber-Fredrich Schiller dan der Besuch der Alten Dame (Kunjungan Cinta)-Fredrich Durrenmatt. TEATER KOMA adalah kelompok teater independen. Bekerja lewat pentas-pentas yang mengkritisi situasi kondisi sosial politik tanah air. Dikenal punya banyak penonton yang setia. Pentas-pentasnya sering digelar lebih dari 2 minggu, bahkan pernah berpentas lebih dari satu bulan. TEATER KOMA agaknya kena di hati masyarakat. Mengikat kalbu sehingga mereka rela jadi penonton setia. Sampai terjadi regenerasi penonton dari kakek, anak, dan cucu. Mereka sering menonton bersama. Ini tentu merupakan fenomena yang unik, kata pengamat. Dalam perjalanan, memang terjadi berbagai hal yang memprihatinkan. Antara lain interogasi, kecurigaan, pencekalan dan pelarangan, juga ancaman bom. Namun semua tantangan itu dilewatinya dengan baik. Mereka ikhlas dan dianggap sebagai dinamika perjalanan kreatifitas berteater.
Alhamdulilah, waktu yang di tunggu-tunggu telah tiba. Sabtu malam minggu tanggal 19 Januari 2008 kemarin aku bareng istri bisa menyaksikan teater koma di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Kenapa musti malem minggu? Yaaa biar besoknya nggak terlalu repot, soalnya durasi pertunjukannya 4 jam, dari jam 20.00 sampai dengan 24.00 WIB. Bayangin kalau malam hari kerja,,,,waah besoknya bisa-bisa ketiduran di tempat kerjaan. Persis seperti pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, karcis pertunjukkan sudah dikuasai calo. Tiket balkon yang harusnya Rp.30.000 naik jadi Rp.40.000. Tiket kelas VIP yang Rp.75.000 ngga tau dinaikin jadi berapa. Aku sendiri sampai sekarang nggak tahu, jam berapa kira-kira beli tiketnya, biar bisa langsung ke loket dan ngga lewat calo. Kaya mau naik kereta pas lebaran saja. Inilah mungkin mental bangsa kita, mental calo. Pada akhirnya ekonomi biaya tinggi. Yang nanggung ya rakyat kecil macam saya ini. Pertunjukannya sendiri, seperti biasanya, termasuk bagus. Hanya kali ini tidak pakai musik seperti halnya kalau pertunjukan opera. Makanya di sesi pertama aku sempat terkantuk-kantuk. Setelah istirahat sekitar 15 menit, pertunjukkan dilanjutkan lagi. Di tengah istirahat, aku beli tahu goreng dan teh kotak yang masing-masing harganya Rp.5.000. Tahu dua teh kotak dua jadi Rp.20.000. Bener-bener keterlaluan, mentang-mentang terpaksa ngga ada yang lain, tahu goreng bisa lima ribu rupiah. Setelah istirahat, pertunjukan makin seru dengan beberapa adegan yang termasuk adegan orang dewasa. Makanya ada beberapa adegan yang ditutup kain putih dan dikasih lampu sorot, supaya ngga terlalu vulgar. Ceritanya yang lengkap bagaimana? Ya baca aja di kompas, di situ pernah dimuat cerita tentang pertunjukan teater ini. Ya, teater koma adalah teater yang terbaik yang dipunyai di Indonesia. Cuma aku lihat, yang nonton 2/3 nya adalah anak-anak China. Anak-anak pribuminya cuma 1/3, termasuk saya dan istri. Kenapa ya? Apa karena tiketnya kemahalan bagi rata-rata kita, apa karena memang ngga seneng dengan teater? Mbuh aku ora ngerti.
|  | Kemarin, hari Selasa, 8 Januari 2008 adalah hari bahagia bagi anaku M.Naufal Alikusuma, atao biasa dipanggil Naufal. Dia merayakan Ultahnya yang ke 8. Seperti biasanya, kami nggak mengundang anak-anak sebayanya, atau teman-temannya, tapi kami hanya mengundang saudara-saudara saja. Seperi Eyang Uti, Om dan Tantenya Naufal, dan Sepupu kami. Jadi ya nggak banyak yang datang, cuma sekitar 12 orang saja. Dulu waktu dia TK, biasanya ULTAHnya dirayain bersma-sama temen-temen serta Ibu Gurunya di TK. Nah rupanya semakin gedhe malah semakin malu kalau dirayain rame-rame. Sejak itu kami merayakannya dengan hanya mengundang Eyang Utinya, Om dan Tantenya serta sepupu kami saja.
Selamat ULTAH anakku sayang, semoga semakin rajin belajarnya, shalatnya jangan sampai ketinggalan, dan kalau mandi jangan males-malesan lagi yah,,, Semoga kamu panjang umur dan murah rejeki nak! Kelak jadi orang yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara ya,,,,Amiin,,,amiiin yaa robbal alamin. |
|  | Ini adalah foto-foto keluarga, terdiri dari foto bareng kakak-kakak-ku, kakak-kakak iparku, serta pernikahan adikku tanggal 4 Agustus 2007 |
|
|