Ali's posts with tag: artikel

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag artikel
Blog EntryApresiasi buat Guru SwastaJun 16, '08 4:05 AM
for everyone
Apresiasi buat Guru Swasta
Senin, 16 Juni 2008 | 00:30 WIB

Apa jadinya dunia pendidikan Indonesia jika tidak banyak orang yang bersedia menjadi guru swasta atau guru honorer (non-PNS)? Inilah pertanyaan penting yang harus didiskusikan. Pertanyaan itu bisa dilanjutkan: misalnya, apa jadinya dunia pendidikan kita jika tidak ada sekolah swasta (termasuk pesantren)? Mengapa banyak orang sudi mendirikan sekolah atau jadi guru swasta?

Pertanyaan pertama dan kedua bisa dijawab dengan satu kata: runyam. Pasalnya, dunia pendidikan kita akan sangat sulit mengangkat sebagian besar anak bangsa dari kebodohan jika tidak didukung banyak guru swasta dan sekolah swasta.

Layak diungkapkan, dengan anggaran pendidikan yang minim, negara kita bisa dikatakan mustahil mampu memberikan pendidikan yang memadai bagi anak-anak bangsa. Untungnya, banyak orang bersedia menjadi guru swasta maupun mendirikan sekolah swasta untuk membantu negara dalam mendidik anak- anak bangsa.

Oleh karena itu, negara layak memberikan apresiasi kepada guru swasta dan pengelola sekolah swasta. Hal ini harus diimplementasikan dengan dua langkah. Pertama, memberikan status PNS kepada mereka. Kedua, memberikan subsidi kolektif agar tercipta keadilan dalam dunia pendidikan yang notabene sebagai dapur untuk menggodok generasi baru yang akan menentukan masa depan bangsa dan negara.

Yang dimaksudkan dengan kebijakan subsidi kolektif adalah bantuan pemerintah melalui sejumlah departemen untuk meringankan guru-guru swasta dan sekolah-sekolah swasta berkaitan dengan beban dan tugasnya mendidik anak-anak bangsa. Misalnya, buku pelajaran dan buku bacaan berbagai cabang ilmu (ekonomi, perdagangan, pariwisata dan budaya, sosial, dan lain sebagainya) diterbitkan oleh departemen masing-masing kemudian dibagikan secara gratis kepada guru-guru swasta dan kepada sekolah-sekolah swasta untuk membangun perpustakaan di sekolah masing-masing.

Perlu diingat, salah satu kebutuhan setiap guru adalah buku- buku untuk mengajar di depan kelas. Jika tidak mendapat bantuan dari mana pun, maka guru- guru swasta akan terpaksa membelinya sendiri. Padahal, gaji mereka umumnya sangat kecil, bahkan ada gaji guru swasta yang lebih layak disebut uang transpor saja.

Jika semua departemen memberikan subsidi dalam bentuk buku bagi guru-guru swasta dan bagi sekolah-sekolah swasta, mutu sekolah swasta kita tentu akan lebih baik lagi dan mampu bersaing dengan sekolah negeri. Bahkan, bukan tidak mungkin akan muncul banyak sekolah swasta yang lebih bermutu dibandingkan dengan sekolah negeri.

Apresiasi kepada guru-guru swasta juga layak diimplementasikan dalam bentuk bantuan uang atau materi oleh kalangan pengusaha besar dan menengah di seluruh Tanah Air. Misalnya, masing-masing pengusaha secara rutin memberikan santunan kepada guru-guru swasta di daerah masing-masing. Dengan mendapatkan santunan rutin dari kaum pengusaha, guru-guru swasta akan lebih bersemangat dalam mendidik murid-muridnya, berapa pun nilai santunan yang didapatkannya. Sebab, santunan dalam bentuk uang atau materi tak bisa dinilai sebatas angka- angka karena berkaitan dengan niat baik dan sikap apresiatif terhadap dunia pendidikan.

Kalangan perbankan juga selayaknya memberikan apresiasi kepada guru-guru swasta dalam bentuk pemberian kredit lunak untuk kepemilikan rumah maupun kendaraan. Bahkan, sangat mungkin bank-bank besar mampu memberikan kredit dengan bunga nol persen kepada kalangan guru swasta sebagai bukti kepedulian dunia perbankan terhadap dunia pendidikan kita.

Ibadah

Mengapa orang mau mendirikan sekolah atau menjadi guru swasta? Untuk menjawab pertanyaan di atas, bisa cukup dengan dua kata saja: sebagai ibadah. Dalam hal ini, banyak orang sudi menjadi guru swasta karena pekerjaan mengajar dianggap sebagai ibadah.

Memang, bagi guru-guru swasta pekerjaan mengajar bukan semata-mata bertujuan untuk mendapatkan gaji, melainkan juga untuk mendapatkan pahala. Ini jelas terkait dengan keimanan masing-masing karena semua agama sama-sama mengajarkan umatnya agar bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri, bagi anak- anaknya sendiri, dan umumnya bagi generasi berikutnya. Meskipun mereka menyadari risikonya, yakni tidak bisa kaya raya.

Semangat beribadah guru-guru swasta yang diimplementasikan dengan menekuni profesi sebagai pengajar akan berlipat ganda jika banyak pihak bersedia berterima kasih kepada mereka dengan memandang sekolah swasta bukan sebagai lembaga pendidikan sekunder.

Memandang sekolah swasta sama dengan sekolah negeri karena guru-guru swasta sudah mendapatkan bantuan dari banyak pihak akan menghapus kesenjangan antara sekolah swasta dan sekolah negeri. Sudah terbukti semakin banyak sekolah swasta yang mutunya lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri.

ASMADJI AS MUCHTAR, Direktur Religions to Peace Institute, Kudus, Jawa Tengah

Sumber : Kompas


Blog EntryAgama Yang Tidak MenghakimiJun 3, '08 4:54 AM
for everyone
Kompas, Selasa, 3 Juni 2008 | 00:35 WIB

Oleh Muhadjir Darwin

Ibu Pertiwi menangis karena kebhinnekaan dicederai di negeri yang sebelumnya dikenal dunia sebagai model kerukunan hidup beragama, di negara yang para ulamanya sering berteriak keras, meyakinkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian.

Kebhinnekaan tersungkur ketika massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang menuju silang Tugu Monas, Jakarta Pusat, hari Minggu (1/6/2008) untuk memperingati hari kelahiran Pancasila dan menyuarakan kebebasan beragama/berkeyakinan diserbu oleh massa beratribut Komando Laskar Islam (KLI)/Front Pembela Islam (FPI). Massa tersebut menyerang dan melakukan penganiayaan serta perusakan terhadap massa AKKBB. Sebagian korban adalah perempuan dan anak-anak.

Dalam kejadian ini, FPI sekali lagi telah mempertontonkan wajah Islam yang ”garang”. Sikap polisi patut disayangkan karena tidak mencegah dan mengatasi aksi kekerasan tersebut, bahkan menyalahkan AKKBB karena tidak melakukan koordinasi dengan Polri.

Ketua MUI Amidhan seperti ingin bersikap netral dalam peristiwa ini dengan menyayangkan (bukan memprotes atau mengutuk) aksi KLI/FPI, tetapi pada sisi lain menyalahkan pihak AKKBB yang dikatakan melakukan provokasi terhadap KLI/FPI karena di dalam massa tersebut terdapat pengikut Ahmadiyah yang telah dinyatakan sesat oleh MUI. Pernyataan yang sepintas netral tersebut, jika dicermati, cenderung lebih membela KLI/FPI. Dengan tuduhan provokasi, secara implisit Amidhan mau menegaskan bahwa KLI/FPI adalah institusi suci yang tidak boleh diprovokasi, dan karena itu kekerasan yang mereka lakukan (meskipun disayangkan) dapat dimaklumi, lepas dari persoalan apakah klaim provokasi tersebut masuk akal.

Bangsa majemuk

Sesuatu hal yang perlu menjadi keprihatinan kita bersama sebagai sebuah bangsa majemuk adalah kecenderungan maraknya cara-cara kekerasan atas nama Islam dalam menyikapi perbedaan. Sebagai seorang Muslim, saya mencoba bertanya kepada hati nurani saya sendiri, inikah sejatinya Islam? Jika hati saya membisikkan jawaban ”ya”, saya harus merasa malu untuk mengatakan bahwa agama saya adalah agama perdamaian dan malu pula untuk memprotes Amerika dan Israel ketika mereka melakukan teror di tanah Palestina atau Irak. Jika hati kecil saya menjawab ”bukan”, saya harus malu terhadap ulah saudara saya seagama dan merasa citra agama saya tercoreng oleh aksi brutal mereka.

Umat Islam mempunyai kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan. Tokoh-tokoh Islam pencetus Piagam Jakarta dengan lapang dada mau menanggalkan 7 kata ”dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam menyusun Pembukaan UUD 1945 dan menerima Pancasila sebagai dasar negara sebagai bentuk pengakuan mereka terhadap prinsip-prinsip pluralisme yang terkandung dalam ideologi tersebut. Ini berarti, umat Islam-lah yang paling berkepentingan terhadap terpeliharanya negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Umat Islam pula yang seharusnya paling marah ketika KLI/FPI atas nama Islam memorakporandakan komitmen nasional bangsa Indonesia dengan anarkisme yang mereka pertontonkan kepada publik pada hari sakralnya bangsa dan negara ini. Keberadaan FPI tidak mengharumkan, tetapi justru merusak citra Islam.

Ketika AS dan Israel melakukan teror di kawasan Timur Tengah, umat Islam dunia menghujat kedua negara tersebut dengan menggunakan dalil kemerdekaan, kebebasan, kemanusiaan, dan persamaan hak. Ketika Osama bin Laden menjawab hegemoni Amerika dengan menghancurkan menara WTC di New York, tokoh-tokoh Islam moderat sibuk meyakinkan dunia bahwa aksi Osama tidak mencerminkan Islam karena Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama perdamaian. Hal yang sama juga dilakukan ketika kelompok Azahari melakukan teror di beberapa kota di Indonesia.

Lalu, bagaimana saat ini umat Islam Indonesia dapat meyakinkan dunia ketika KLI/FPI yang atas nama Islam melakukan perusakan dan penganiayaan terhadap massa AKKBB yang tengah melakukan aksi damai tersebut? Jika pun mereka tidak setuju, apakah mereka punya otoritas untuk mewakili Tuhan atau negara menghakimi sesama warga negara? Apakah dengan peristiwa seperti ini kita masih punya alasan untuk meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian?

Agama egaliter

Saya jadi ingat ketika tokoh feminis Muslim Kanada, Irsyad Manji, ceramah dalam satu seminar di Kampus UGM. Manji menegaskan pentingnya kemerdekaan berijtihad untuk memajukan Islam. Terhadap pernyataan tersebut, seorang ibu yang mengaku anggota Hizbut Tahrir merespons dengan mengatakan bahwa Irsyad Manji tidak punya otoritas untuk berijtihad karena dia bukan ulama. Hanya ulama yang benar-benar menguasai ilmu agama yang mempunyai otoritas tersebut. Ia lalu membuat analogi dokter gigi. Orang sakit gigi hanya akan mendapatkan pertolongan yang benar jika datang ke dokter gigi. Orang awam tidak bisa mencabut gigi yang sakit karena akibatnya bisa fatal.

Terhadap perumpamaan tersebut, saya yang ketika itu menjadi pembahas presentasi Manji menjawab. Analogi tersebut secara implisit mengatakan bahwa Islam adalah agama yang elitis, di mana fatwa ulama harus diikuti secara taqlid (patuh) oleh pengikutnya, padahal Islam adalah agama yang egaliter. Kedua, dokter belum tentu membuat diagnosis yang tepat atau penanganan medis yang benar.

Nah, ulama dapat juga membuat fatwa keliru dengan menyesatkan aliran tertentu yang berbeda dengan keyakinannya atau memerintahkan umatnya melakukan perusakan, penganiayaan, atau pembunuhan terhadap orang atau kelompok lain yang mempunyai keyakinan yang berbeda.

Muhadjir Darwin Guru Besar Fisipol UGM, Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM


Blog EntryKontroversi Khirani Siti HartinaMar 9, '08 11:31 PM
for everyone

Khirani Siti Hartina, inilah anak biologis Mayangsari, yang sekarang sedang menjadi perbincangan hangat di acara gosip-gosip televisi kita. Hal ini dipicu oleh kontroversi tuntutan perceraian antara Bambang Trihatmojo dengan Halimah. Mayangsari, sebagai ibu biologis Khiran, menjadi “terdakwa” oleh keluarga cendana maupun pers, bahwa Khiran, yang selama ini diakuinya sebagai anak hasil hubungannya  dengan Bambang Trihatmojo, adalah anak biologis almarhum Adi Firansyah.

 

Benarkah demikian?

 

Mari kita telaah dengan ilmu kira-kira yang kira-kira mendekati kebenaran. Ya kalau salah dan tidak sesuai dengan kenyataan ya mohon dimaafkan, namanya juga ilmu kira-kira.

 

Begini. Dari dua orang artis yang dibicarakan ini, kebetulan saya sendiri pernah bertemu dan mengobrol sedikit dengan mereka. Tapi itu sudah lama sekali, sehingga tidak mungkin menanyakan sesuatu pada mereka sementara kejadian dan isu ini baru merebak akhir-akhir ini.

 

Mayangsari adalah sosok yang menurut aku anak yang baik dan ramah. Aku sendiri pernah bertemu dan ngobrol sebanyak dua kali, yaitu ketika Bapaknya, Ki Dalang Soegito Purbocarito ndalang di Monas, dan di Taman Ismail Marzuki. Waktu itu antara tahun 90 an. Kesan yang aku tangkap  ketika ngobrol  waktu makan sroto bareng di TIM adalah Mayang kelihatan ramah dan banyak senyum. Sama seperti ketika menjawab pertanyaan wartawan di televisi, ya begitulah. Malah waktu itu aku sempat ngajak dia untuk ikut bergabung dengan KAMABA (Keluarga Mahasiswa Banyumas) yang dia jawab “Insya Allah Mas”. Namun sampai saat ini ajakan saya tidak juga kesampaian. Sampai saat ini, kelihatannya Mayang sudah menjadi selebriti yang paling dicari oleh media dan menjadi orang “penting” karena menjadi istri sirinya Bambang Trihatmojo. Hal ini terlihat ketika Mayang berada di muka umum, tidak ketinggalan bodyguard ada menyertainya.

 

Yang ke dua, Almarhum Adi Firansyah. Artis yang meninggal karena kecelakaan sewaktu naik sepeda motor ini sepintas adalah sosok yang pendiam dan alim. Kesan ini saya tangkap ketika saya, atas undangan teman saya Lita Suardi yang sama-sama membintangi Sinetron Tawakal, diajak oleh Lita untuk berfoto bareng aku. Di Lokasi syuting di sebuah rumah besar di bilangan Lenteng Agung itu ada 4 artis yang membintangi sinetron tersebut  diantaranya: Dwi Yan, Hikmal Abrar Nasution, Lucky Reza, dan Lita sendiri. Semua artis itu diajak Lita supaya foto sama aku. Ini tentu dengan pertimbangan supaya aku bisa berfoto bareng teman-temannya yang artis. Kapan lagi ada kesempatan kaya gini, begitu mungkin pikir  Lita.

 

Dari ketiga artis yang baru kenal itu, yang paling banyak ngobrol ya Mas Dwi Yan. Sementara yang lainnya kelihatan pendiam termasuk almarhum Adi Firansyah.

 

Tetapi, isyu seputar anak Mayang yang bernama Khiran tidak ada habis-habisnya. Ini juga dipicu oleh kenyataan bahwa sekarang ini Mayang bukan Mayang yang dulu, yang hanya anak seorang Dalang. Tetapi Mayang yang sekarang sudah memiliki harta yang begitu banyak.

 

Bahkan kini, warga Purwokerto menganggap Mayangsari sudah masuk jajaran orang terkaya di sana. Mayang disejajarkan dengan tiga pengusaha  yang menurut warga Purwokerto merupakan orang-orang terkaya di kota itu. Ketiga pengusaha itu diantaranya Made, pengusaha keturunan Tionghoa, yang merupakan pemilik perumahan elit Permata Hijau, pusat grosir Moro, hotel Dynasti dan sebuah kolam renang bertaraf internasional.

 

Orang kaya lainnya di Purwokerto adalah Buntoro dan Nasir. Buntoro adalah pemilik supermarket Rita yang ada di Purwokerto dan sekarang melebarkan sayapnya hingga Wonosobo, Tegal, dan Kebumen. Buntoro juga mengelola bisnis sejumlah toko di depan alun-alun Purwokerto.

 

Sedangkan Nasir adalah pemilik banyak pompa bensin di wilayah kabupaten Banyumas. Nasir juga dikenal sebagai pemborong dan pemilik sejumlah tempat penggilingan batu .

 

“Jika dibandingkan dengan Made, Buntoro, dan Nasir, kekayaan Mayangsari di bawah Made sedikit dan di atas Buntoro. Ya Mayang berada di level ke dua lah. Jika dilihat dari usia, Mayang yang paling muda” ujar Anang, seorang Pengusaha di Purwokerto ketika diminta tanggapannya tentang orang-orang kaya di kotanya*)

 

Apakah semua harta kekeyaan Mayangsari berasal dari Bambang Trihatmojo? Entahlah. Inilah yang memicu pihak Halimah dan keluarga Cendana untuk mengangkat isu-isu seputar anak Mayang. Sampai-sampai mereka menginginkan agar Mayang melakukan tes DNA untuk membuktikan sebenarnya anak siapa Khiran itu? Anak Bambangkah atau anak almarhum Adi Firansyah?

 

Inilah sulitnya, saya sendiri Cuma bisa menebak-nebak. Ya mungkin seperti Anda juga.

Kita Cuma bisa memperoleh kejelasan setelah Mayang bersedia menjalani tes DNA. Kalau memang Mayang yang benar, kenapa takut? Iya khan ?

 

 

 

*)Headline Warta Kota, Senin 3 Maret 2008

 

 


Blog EntryPendidikan di Negara KitaFeb 27, '08 8:57 PM
for everyone

Pembangunan sebuah bangsa tidak dapat dipisahkan dengan peningkatan Sumber Daya Manusia. Sebab dengan peningkatan Sumber Daya Manusia, sebuah bangsa dapat menata dirinya kea rah yang lebih maju. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta derasnya informasi melalui teknologi informasi (internet) kian tak terbendung. Untuk menyiasatinya, maka diperlukan SDM yang tangguh dan mumpuni serta dapat mengoperasikan teknologi yang sekarang sudah sangat maju. Tanpa itu semua, maka harapan akan Negara yang maju serta sejajar dengan Negara lain kian jauh dari harapan.

 

Salah satu upaya untuk meningkatkan SDM adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan kualitas pendididkan yang baik, maka SDM yang dihasilkan pun akan baik, untuk selanjutnya dapat menunjang kinerja SDM tersebut di mana saja ia bekerja.

 

Sayangnya, perhatian pemerintah kita sejak dahulu terhadap pendidikan masih kurang. Ketentuan angaran pendidikan 20 persen yang sudah dijadikan UU pun belum sepenuhnya dapat direalisasikan. Bahkan ada kecenderungan akhir-akhir ini  untuk mengurangi jatah anggaran pendidikan yang sudah kecil tersebut. Departemen Keuangan sendiri berkehendak untuk memotong (menghemat?) anggara pendidikan sebanyak 15 persen dari anggaran pendidikan yang ada.  Padahal. Anggaran pendidikan yang sudah sangat minim tersebut sebetulnya juga belum mencukupi kebutuhan anggaran pendidikan yang sebenarnya. Apalagi kalau dipotong/dikurangi.

 

Bahkan MK (Mahkamah Konstitusi) saat ini telah mengeluarkan keputusan bahwa anggaran gaji guru yang tadinya di luar anggaran pendidikan yang 20 persen, sekarang dimasukkan dalam anggaran yang termasuk 20 persen. Sehingga otomatis jatah anggaran untuk pendidikan sendiri berkurang sangat signifikan karena diperuntukan juga untuk gaji guru. Bagaimana ini? Sebetulnya MK (Mahkamah Konstitusi) membela masyarakat pendidikan atau malah sebaliknya?

 

Kita tidak habis pikir dengan orang yang mengajukan Judivial Review terhadap anggaran pendidikan tersebut. Yang pada akhirnya, setelah judivial review dikabulkan MK, justru sangat merugikan dunia pendidikan.

 

Kesalahan managemen pendidikan di Negara kita juga sudah nampak sejak rezim Orde Baru. Gagasan Link and Mach yang sempat digagas oleh mantan Mendikbud Wardiman Joyonegoro mestinya sudah dilakukan sejak dulu. Namun link and mach yang sudah digagaspun kelihatan kedodoran dalam implementasinya. Lihat saja, pengangguran yang berasal dari kaum terdidik bahkan mereka yang mempunyai pendidikan S1 ataupun S2 semakin banyak saja. Padahal mestinya, pemerintah dapat menjembatani lulusan-lulusan perguruan tinggi tersebut untuk dapat bekerja di lingkungan pemerintah ataupun perusahaan-perusahaan BUMN di lingkungan pemerintah.  Jelasnya, pemerintah mestinya membuka lapangan kerja sebanyak lulusan-lulusan PT dari berbagai jurusan tersebut. Sehingga pengangguran terdidik tidak akan terjadi lagi.

 

Tapi yang dilakukan pemerintah adalah sebaliknya. Pemerintah membiarkan saja lulusan-lulusan PT tersebut mencari sendiri pekerjaan di mana saja sekadarnya. Sekadar tidak menganggur. Bahkan tidak sedikit yang memang benar-benar menganggur. Mungkin karena tidak pernah cocok dengan pekerjaan yang tersedia, atau memang benar-benar tidak ada lowongan pekerjaan. Tragis memang nasib rakyat.

 

Tidak mengherankan, jika banyak rakyat kita yang mengambil jalan pintas dengan mencari pekerjaan di luar negeri misalnya, atau terjun ke dunia bisnis yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pendidikan yang digelutinya selama ini. Misalnya lulusan teknik terjun menjadi pengusaha bakmi dsb.

 

Ini lebih bagus. Daripada mereka yang kemudian frustasi. Pendidikan yang ditempuhnya tidak dapat menghasilkan apa-apa. Hanya selembar ijazah yang tidak berguna. Akhirnya mereka menjadi parasit dalam keluarga, bahkan tidak sedikit yang terjebak dalam dunia kriminal. Sungguh sangat memprihatinkan dan memilukan.

 

Solusi

 

Mestinya, pemerintah membuat sistem pendidikan nasional yang pernah digagaskan oleh Wardiman Joyonegoro yaitu dengan link and mach dalam arti yang sebenar-benarnya. Jangan biarkan lulusan PT tidak mendapatkan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Mereka yang sudah sekian lama berjuang dalam belajar dan mengikuti pendidikan sudah selayaknya mendapatkan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

 

Tingkatkan juga anggaran pendidikan, juga sejahterakan guru yang paling dekat dengan urusan pendidikan, contohlah kesejahteraan guru yang diberikan oleh Negara-negara berkembang lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Sukur-sukur kalau mencontoh Jepang.

 

Ciptakan BUMN yang baik, kompetitif, efisien, dan menguntungkan sehingga dapat menampung tenaga kerja terdidik yang banyak. Pada gilirannya, semua lulusan PT dapat tertampung bekerja, pengangguran berkurang, dan pada gilirannya kriminalitas akan dapat ditekan.

 

Siapkah pemerintah menjalankan kebijakan seperti ini? Kalau bukan pemerintahan yang sekarang, mudah-mudahan pada pemerintahan tahun 2009 hal ini bisa dilakukan.

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help