Blog EntrySejarah Teater KomaJan 25, '08 3:21 AM
for everyone

Teater Koma didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977 oleh 12 pekerja teater, diantaranya nano Riantiarno, Sari Madjid, Rima Melati, Rudjito, Jajang Pamontjak, Titi Qadarsih, Syaeful Anwar, Cini Goenarwan, Jimi B. Ardi, Otong Lenon, Zaenal Bungsu dan Agung Dauhan. Mereka berkumpul di rumah Abdul Madjid di Jl. Setiabudi Barat No.4 Jakarta Selatan.

Ikrar mendirikan sebuah grup teater dipatok. Dan nama grup yang disepakati; TEATER KOMA. Koma, sebuah metafora yang berarti "gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tiada henti, tak mengenal titik.

TEATER KOMA banyak mementaskan karya-karya N. Riantiarno. Antara lain Rumah Kertas, Maaf Maaf Maaf, JJ Kontes 1980, Trilogi Opera Kecoa (Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini), Opera primadona Sampek Engtay, Banci Gugat, Konglomerat Burisrawa, Pialang Segi Tiga Emas, Suksesi, Rumah Sakit Jiwa, Semar Gugat, Opera Ular Putih, Opera Sembelit, Samson Delila, Kala, Presiden Burung-Burung, Repubil Bagong, Republik Togog, Tanda Cinta, dan terakhir yang sedang pentas sampai tanggal 25 januari adalah Kenapa Leonardo? Karya Evald Flisar, novelis kondang kelahiran Slovenia 12 Februari 1945.

Juga menggelar karya dramawan kelas dunia; The Comedy of Error dan Romeo juliet- William Shakespeare, Woyzeck-George Buchner, The Threepenny Opera dan The Good Person of Shechzwan-Bertolt Brecht. Karya-karya Moliere: Orang Kaya Baru, Kena Tipu, Doea Dara, Si Bakil dan Tartuffe. Women in Parliement-Aristhopanes, The Crucible (Tenung)- Arthur Miller, The Marriage of Figaro-Beaumarchaise, Animal Farm-George Orwell, Ubu Roi-alfred Jarre, The Robber-Fredrich Schiller dan der Besuch der Alten Dame (Kunjungan Cinta)-Fredrich Durrenmatt.

TEATER KOMA adalah kelompok teater independen. Bekerja lewat pentas-pentas yang mengkritisi situasi kondisi sosial politik tanah air. Dikenal punya banyak penonton yang setia. Pentas-pentasnya sering digelar lebih dari 2 minggu, bahkan pernah berpentas lebih dari satu bulan.

TEATER KOMA agaknya kena di hati masyarakat. Mengikat kalbu sehingga mereka rela jadi penonton setia. Sampai terjadi regenerasi penonton dari kakek, anak, dan cucu. Mereka sering menonton bersama. Ini tentu merupakan fenomena yang unik, kata pengamat.

Dalam perjalanan, memang terjadi berbagai hal yang memprihatinkan. Antara lain interogasi, kecurigaan, pencekalan dan pelarangan, juga ancaman bom. Namun semua tantangan itu dilewatinya dengan baik. Mereka ikhlas dan dianggap sebagai dinamika perjalanan kreatifitas berteater.


6 Comments
smartfad wrote on Jan 25
kapan kie inyong di jak nonton teater koma kang..
alirahmat wrote on Jan 26
Ya mengko angger ana maning ya Kang, Rika gari meng nJakarta mengko tek jek nonton. Siki tuli wis rampungan, mung tekan tanggal 25 si,,,,
tripleiman wrote on Jan 31
aku ya kepengin melu kang
shanjoy wrote on Mar 19
kapan main ke Solo
alirahmat wrote on May 2
aku ya kepengin melu kang
Melu maring endi sih?
alirahmat wrote on May 2
shanjoy said
kapan main ke Solo
Wah di Solo aku gak punya keluarga je,,,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help