Blog EntryHUT KKB Ke 28Nov 11, '07 8:46 PM
for everyone
Acara peringatan HUT KKB Jabodetabek yang ke 28 di GOR Jakarta Timur
Jumat, 9 November 2007 berlangsung meriah. Acara yang didahului
dengan potong tumpeng oleh Ketua Umum KKB Bapak H. Purbadi, SH.MH,
itu dihadiri oleh sekitar 1500 warga KKB yang tersebar di
Jabodetabek.

Nampak hadir Ketua Umum Serulingmas Bapak Dr.Ir Yuwono Kolopaking,
Mantan Ketua Paguyuban Jawa Tengah yang juga mantan Wagub DKI Bapak
HRS Museno, Ketua Paguyuban Warga Tegal Drs, Bambang Purwohadi,
Bapak Leles, perwakilan dari paguyuban Purworejo, artis lawas Lina
Budiarti dan pelawak Timbul Kethoprak Humor.Dari Komunetmas hadir
Lurah Agus Budi Raharjo, Kang Ali Syafrudin, Kang Eko Bawor, Kang
M.Kodri, lan Inyong dewek.

Pak Bibit Waluyo (Ketua Umum Paguyuban Jateng) tidak bisa hadir
karena menghadiri acara alumni di TNI.

HUT KKB yang ke 28 ini dimeriahkan parade 5 dalang muda yaitu Ki
Langgeng Sabdo Carito dari Banjarnegara, Ki H.Supriyadi Banjar
Carito dari Kebumen, Ki Wahyu Darmo Setiaji dari Banjarnegara, Ki
Parwoto,S.Kar dari Cilacap, dan Ki Aris Sudiro dari Kebumen.
Sementara pelawak Ciblek dan Bodong yang diharapkan ikut menghibur
pengunjung batal hadir karena Ciblek mengalami kecelakaan tertabrak
motor di Banyumas beberapa waktu yang lalu dan sampai sekarang masih
dalam perawatan.(Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayahnya,
sehingga Mbekayu Ciblek cepat sehat kembali agar dapat menghibur
kembali para penggemarnya di Jakarta, Amin).

Sementara pesinden yang dihadirkan antara lain: Nyi Wainten dari
Banjarnegara, Nyi Yani dan Nyi Darsih dari Purbalingga, Nyi Ngadisah
dari Cilacap, dan Nyi Karminah dari Banyumas.

Dalam pagelarannya, 5 dalang secara bersambung masing-masing sekitar
1,5 sd 2 jam menceritakan lakon Semar Gugat. Syahdan, dalam
pasewakan agung Negara nDwarawati, Prabu Kresna menerima kedatangan
Prabu Baladewa yang diiringi Patih Sengkuni, dengan maksud
mengundang Prabu Kresna untuk menghadiri acara pengukuhan
wisuda "guru baru" yakni Begawan Wisuna, sebagai guru para Kurawa
dan Pendawa, untuk mendampingi Pendita Durna.

Belum sempat memberikan jawaban, datanglah Ki Lurah Bawor yang
diutus oleh Pandawa sebagai Duta, untuk menyampaikan berita bahwa di
Negara Amarta terjadi kemelut dan pageblug yang menimpa rakyat
Amarta. Selanjutnya mengharapkan kehadiran Prabu Kresna untuk hadir
di Amarta guna membantu mengatasi problema dan pageblug yang terjadi.

Atas ungkapan dan undangan Ki Lurah Bawor kepada Prabu Kresna, Prabu
Baladewa merasa tersinggung. Maka terjadilah pertengkaran
pembicaraan yang seru, dan berakhir dengan mengusir Bawor keluar
dari pasewakan. Selanjutnya dengan bijaksana Prabu Kresna dapat
melerai dengan mempersilahkan Bawor untuk kembali ke Amarta terlebih
dahulu.
Ternyata di luar istana nDwarawati rombongan Kurawa yang dipimpin
Patih Sengkuni menghadang perjalanan Ki Lurah Bawor, dan hendak
membunuhnya. Tak pelak, terjadilah perkelahian Bawor dengan para
Kurawa yang tidak seimbang. Dalam situasi yang kritis datanglah
Raden Gatotkaca dan Setyaki. Bisa ditebak, kurawa akhirnya kocar-
kacir menghadapi Raja Pringgondani dan Setyaki tersebut.

Melihat kejadian tersebut, Baladewa yang punya sifat panasan dan
brangasan, mengamuk. Tapi kali ini agak aneh karena Baladewa yang
satu ini tidak menggunakan senjata andalannya alugoro(?). Akhirnya
Ki Lurah Bawor menghadapinya dengan berbagai cara. Pada akhirnya
Prabu Baldewa tersebut kalah dan ternyata Baladewa palsu dan berubah
wujud menjadi Prabu Dewa Wisuna

Selanjutnya, dalam pasewakan di Negara Amarta, Pendita Durna
menyampaikan ajakan kepada para Pendawa untuk ikut bersama-sama ke
Negara Astina berguru kepada Begawan Wisuna. Atas bujuk rayu Durna,
para Pendawa bersedia, kecuali Sadewa yang menolak mengikuti jejak
para kakaknya.

Pada saat yang bersamaan, "nunggal panggung sanes panggenan", di
pedukuhan Karang Tumaritis di kediaman Ki Lurah Semar, Begawan
Wisuna hendak memperdaya dan membuhuh Ki Lurah Semar. Lha semar,
sebagai Dewa yang mengejawantah, meninggalkan raganya menuju
kahyangan Alang-Alang Kumitir. Di sana Ki Lurah Semar menggugat para
Dewa.

Mengira bahwa ayahnya telah meninggal, Ki Lurah Bawor mengamuk.
Tetapi apa daya, dia terkena ajian Seipi angin dari Begawan Wisuna
dan terlempar jauh sehingga jatuh ke sebuah Goa, yang ternyata
merupakan tempat penyimpanan pakaian raja. Dalam keheranannya,
akhirnya pakaian tersebut diambil dan dipakai walaupun tampak tidak
pas. Anehnya setelah dipakai, Bawor berubah wujud menjadi Bethara
Guru. Bertepatan dengan itu, Bethara Narada (Cong plekencong waru
doyong ditugel ngewong,,,) lewat ditempat tersebut dan mengetahui
ada Bethara Guru, lalu diajak pulang ke Kahyangan.

Setelah menggugat para Dewa, Ki Lurah Semar selanjutnya segera turun
kembali ke Mayapada untuk menyelamatkan para Pendawa serta membasmi
tindak angkara murka dengan berubah wujud menjadi Pendita Mayaretna.

Sementara itu, Para Pendawa yang yang akan menerima wejangan dari
Begawan Wisuna ternyata hanya diperdaya. Para Pendawa yang akan
menerima wejangan, dilaksanakan di tengah hutan dan bersuci
menggunakan darahnya sendiri, dengan ditusuk senjata Trisara. Terang
saja ini pasti akan menimbulkan kematian mereka satu persatu. Untung
saja, pada saat Raja Amarta Prabu Puntadewa hendak menjalani prosesi
ritual tersebut, datanglah Raden Gatutkaca. Tepuk tanganlah para
penonton semua,,,,plok,,,,plok,,,,plok,,,plok,,,,
Maka segeralah Raden Gatutkaca menyambar tubuh Prabu Puntadewa dan
menyelamatkannya dengan dibawa terbang. Namun bisa ditebak reaksi
Begawan Wisuna, dia marah dan mengamuklah sejadi-jadinya. Putra-
putra Pendawa tidak ada yang bisa menandingi kesaktiannya. Bahkan
senjata cakra yang dilepaskan Prabu Bethara Kresna, lenyap begitu
saja disihir sang Begawan.
Kemanakah perginya senjata Cakra, dan bagaimana sepak terjang
Begawan Wisuna, apakah akhirnya bisa dikalahkan oleh Pendawa? Dan
bagaimanakah selanjutnya Ki Lurah Bawor yang memakai pakaian Bethara
Guru? Tentu seru dan lucu. Sayang, penulis tidak sampai tancep
kayon. Penulis tidak bisa menahan kantuk dan pulang menyusuri
jalanan Ibukota yang sudah sangat sepi, sekitar jam 02.30 WIB.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help