Blog EntryKarna, si anak hasil perselingkuhanApr 28, '08 5:05 AM
for everyone

Tersebutlah, seorang anak (dan mungkin) masih banyak anak-anak yang lainnya, yang menjadi yatim, yang dibuang atau tidak diakui oleh orang tuanya, dan selalu disia-siakan hidupnya. Hal ini terjadi karena anak tersebut adalah hasil perselingkuhan. Kasihan anak ini. Dia tidak berdosa, yang berdosa adalah kedua orang tuanya. Tapi ulah orang tuanyalah yang menjadikan hidupnya merana. Tidak diakui oleh saudara-saudaranya, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Karena dianggap sebagai aib yang yang harus dilenyapkan.

 

Inilah cerita pertunjukan wayang kulit gagrag Banyumasan (sekitar 2 jam) oleh Ki Sigit Adji Sabdoprijono SSn di Lantai 4 Selasar Budaya Tirto Utomo, Cikini Jakarta Pusat, semalam. Pertunjukan wayang diawali dengan penggambaran percintaan antara Dewi Kunthi yang diperankan oleh penari Nungki Kusumastuti dengan Dewa Surya yang diperankan oleh Teguh WO Barata. Acara berlangsung sekitar 2,5 jam dari mulai pukul 19.30 sd pukul 22.00 Wib.

 

Terlihat hadir budayawan Frans Magnis Suseno, Bapak Yuwono Kolopaking (Ktua Umum Serulingmas Pusat),  Bapak Purbadi,SH (Ketua Umum KKB Jabotabek) beserta istri, Mas Panky Soewito (Artis sinetron, suami Yaty Octavia),  Pak Widodo (Tim sukses  Pak Marjoko), sejumlah pengurus Tirta Foundation, pengurus Serulingmas pusat, dan pengurus KKB Jabotabek.

 

Ki Dalang Sigit (40 tahun) menunjukkan pada penonton betapa dahsyat perjuangan seorang anak manusia yang tidak dicintai oleh ayah dan ibunya. Penonton juga mendapat pelajaran, betapa beratnya menjadi seorang ibunda bagi dua orang anak yaitu Adipati Karna dan Arjuna yang ditakdirkan untuk berkelahi sampai mati dalam babad Perang Baratayuda Joyobinangun.

 

”Banjaran Adipati Karna” tidak semata-mata melukiskan ”Arjuna Wiwaha” atau Karna Tanding” sebagai bagian dari perang saudara yang paling hebat dalam sejarah pemikiran; tetapi juga menyoroti bagaimana seorang anak manusia mampu membangun pribadinya sendiri yang luhur dan mulia

 

Banjaran Adipati Karna menceritakan perselingkuhan antara Dewi Kunthi dengan Dewa Surya. Kemudian, karena dianggap sebagai aib maka jabang bayi yang dilahirkan lewat kuping itu kemudian tidak diakui sebagai anak oleh Dewa Surya. Bahkan Ibunya pun membuangnya. Adipati Karna kemudian menjadi sosok yang kehilangan cinta. Ayahnya, Dewa Matahari pergi begitu saja.Ibunya, Dewi Kunthi malah membuangnya,karena malu melahirkan di luar kebiasaan (lewat telinga) buah cintanya dengan dewa.

 

Singkat cerita, ketika akan terjadi perang baratayuda, Dewi Kunthipun gagal membujuk sang anak (Adipati Karna) untuk tidak berperang melawan saudaranya (Raden Janoko).

Adipati Karnapun mengatakan kepada Ibunya, ”Tinggalkanlah saya untuk yang kedua kalinya, biarlah saya ingin memperjuangkan junjungan saya, negara saya. Toh seandainya salah satu terbunuh, Pendawa tetap lima. Jika saya yang terbunuh, maka pendawa masih lima. Dan Jika Janoko yang terbunuh, pendawa juga masih lima (dengan Karna)”

 

Dewi Kuthipun menjerit mendengar perkataan Adipati Karna. Inilah karma bagi Dewi Kunthi yang selama ini tega meninggalkan Karna,anaknya.

 

Lalu. Bagaimana dengan kondisi jaman sekarang, apakah seorang anak yang pemurung,temperamental, frustasi (karena banyak ditolak) , menjadi figur yang patut diteladani? ”Bisa” kata konsultan pewayangan terkemuka, Sudarko Prawiroyudo yang berpidato mengawali jalannya acara. ”Adipati Karna mampu menjadi manusia teladan karena ia mengenali siapa kawan kesedihan, saudara penderitaan, dan sahabat kematian.” Bukankah bagi orang yang mati membela negara termasuk ke dalam mati syahid yang kelak masuk surga?”

 

Sebagaimana kita lahir dengan tulus ikhlas ke bumi ini, demikian pula hendaknya kita berani meninggalkannya. Untuk itulah kita belajar pada Adipati Karna, yang sangat mencintai ”musuhnya”, dan mengalahkan dirinya sendiri, justru untuk menang.

 

Adakah Anda pernah melihat lukisan atau monumen Arjuna Wiwaha karya Nyoman Nuarta di ujung bundaran Thamrin-Merdeka Barat? Ksatria di atas kereta yang ditarik delapan ekor kuda itu sedang bertempur. Siapakah yang dihadapinya? Musuhnya tidak kelihatan, tetapi ada di dalam hati kita yaitu Adipati Karna, dengan Prabu Salya sebagai saisnya. Pertempuran Agung ini adalah sumber dari kitab Bhagawat Gita—Nyanyian Dewata.

 

Apakah kita akan melakukan perselingkuhan seperti Dewi Kunthi dan Dewa Surya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 


4 Comments
smartfad wrote on Apr 28
mong kang lah. aku arep setia bae..
karo sapa yah?
koesy1979 wrote on Apr 28
Betapa kehidupan ini memanglah sukar untuk di jalani, akan tetapi semua yang terjadi adalah takdir yang telah di tuliskan oleh ilahi... tapi kalo semua mulus dunia ini nggak ada cerita dech jadinya....
alirahmat wrote on Apr 29
mong kang lah. aku arep setia bae..
karo sapa yah?
Ya syukur lah. Aja kaya Kang Rawins.
alirahmat wrote on Apr 29
Betapa kehidupan ini memanglah sukar untuk di jalani, akan tetapi semua yang terjadi adalah takdir yang telah di tuliskan oleh ilahi... tapi kalo semua mulus dunia ini nggak ada cerita dech jadinya....
Iya bener 100 Yu. Semuuuuaaaa itu sudah menjadi takdir. Tinggal kita bisa-bisanya untuk memilih peran. Semua ada konsekwensinya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help