Hari Minggu, 27 April 2008 kemarin, aku ke acara rapat Paguyuban Jawa Tengah di Apartemen Istana Sahid, Jl Jend Sudirman, Jakarta. Apartemen Sahid terletak di belakang Hotel Sahid, atau masih satu kompleks dengan hotel Sahid. Fasilitasnyapun ternyata sama dengan hotel. Aku ke sana bareng Kang Eko Bawor.
Hadir sekitar 60 orang terdiri dari para ketua bidang pengurus PJT (Paguyuban Jawa Tengah) serta pengurus paguyuban kabupaten se Jawa Tengah. Nampak hadir bendahara umum PJT, Ibu Yanti Sahid Gitosarjono (tuan rumah rapat), Ketua Umum yayasan Serulingmas (seruan Eling Banyumas) pusat, Bapak Dr.Ir. Yuwono Kolopaking, Ketua Harian PJT Bapak Sutrisman dan yang lainnya.
Rapat membahas masalah kegiatan-kegiatan yang hendak dilakukan,terutama ide ataupun rencana-rencana dari masing-masing ketua bidang serta sosialisasi dicalonkannya Ketua Umum PJT, Letjen (Purn) Bibit Waluyo oleh sebuah partai besar, menjadi calon Gubernur Jawa Tengah bersama Bupati Kebumen Rustriningsih sebagai calon Wagub.
Diantaranya juga membahas rencana ketua bidang Ekonomi/perbangkan yang mengusulkan adanya koperasi simpan pinjam, usulan adanya pagelaran Wayang Kulit oleh ketua bidang Seni Budaya, dan aku sendiri sebagai ketua bidang Pemuda dan Olah Raga mengusulkan kegiatan OR berupa jalan santai di sekitar monas untuk warga Jateng yang ada di Jabodetabek.
Bapak Yuwono Kolopaking juga mengusulkan diadakannya turnamen Golf yang bisa diadakan di Golf Merapi di Yogyakarta dengan potongan pengggunaan lapangan Golf sampai 50% (Lapangan Golf nya Pak Yuwono siy,,,)
Ibu Yanti Sahid Gitosarjono memberi usulan tentang penanggulangan kemiskinan di daerah Jateng. Ibu Yanti yang anggota DPR dari fraksi PDIP dari daerah pemilihan Jateng menggagas perlunya peran serta paguyuban Jateng dalam ikut serta meningkatkan taraf hidup masyarakat di Jateng. Dia banyak memberikan contoh-contoh kegiatan yang selama ini dilakukan sebagai anggota DPR di daerah pemilihannya.
Tepat jam 17.00 acara selesai. Hadirin dipersilahkan makan-makanan yang sudah disediakan, diantaranya sate ayam dang ado-gado.
Habis itu, aku sama Kang Eko Bawor menuju ke Cikini, tepatnya ke Gedung Tirta Foundation. Di situ digelar pertunjukan wayang padat (sekitar 2 jam) oleh
Ki Sigit Sabdo Adji Priyono,SSn (kakaknya artis Mayangsari).
Terlihat hadir budayawan Frans Magnis Suseno, Bapak Yuwono Kolopaking, Bapak Purbadi,SH (Ketua Umum KKB Jabotabek) beserta istri, Mas Panky Soewito (Artis sinetron, suami Yaty Octavia), Pak Widodo (Tim sukses Pak Marjoko), sejumlah pengurus Tirta Foundation, pengurus Serulingmas pusat, dan pengurus KKB Jabotabek.
Pertunjukan wayang diawali dengan tampilnya penari Nungki Kusumastuti beserta Teguh (WO Barata), masing-masing menggambarkan sebagai Dewi Kunthi dan Dewa Surya yang melakukan perselingkuhan sehingga di kemudian hari lahir Karna lewat telinga.
Nungki dan Teguh nampak serasi dan menari bagus sekali. Wajah merekapun selalu menggambarkan senyum nakal layaknya orang yang melakukan perselingkuhan.
Kemudian dilanjutkan dengan wayangan sesungguhnya, sekitar 2 jam pertunjukan. Sebelum acara selesai, sekitar pukul 21.30 wib, aku dan Kang Eko Bawor pulang. Aku juga gak tahan ngantuk banget gara-gara Minggu paginya bangun jam 03.00 dan sesiangan ngga tidur siang.
Cerita tentang Karna yang tidak diakui dan dibuang oleh kedua orang tuanya nanti jadi cerita tersendiri saja.