| |
Apresiasi buat Guru Swasta Senin, 16 Juni 2008 | 00:30 WIB Apa jadinya dunia pendidikan Indonesia jika tidak banyak orang yang bersedia menjadi guru swasta atau guru honorer (non-PNS)? Inilah pertanyaan penting yang harus didiskusikan. Pertanyaan itu bisa dilanjutkan: misalnya, apa jadinya dunia pendidikan kita jika tidak ada sekolah swasta (termasuk pesantren)? Mengapa banyak orang sudi mendirikan sekolah atau jadi guru swasta? Pertanyaan pertama dan kedua bisa dijawab dengan satu kata: runyam. Pasalnya, dunia pendidikan kita akan sangat sulit mengangkat sebagian besar anak bangsa dari kebodohan jika tidak didukung banyak guru swasta dan sekolah swasta. Layak diungkapkan, dengan anggaran pendidikan yang minim, negara kita bisa dikatakan mustahil mampu memberikan pendidikan yang memadai bagi anak-anak bangsa. Untungnya, banyak orang bersedia menjadi guru swasta maupun mendirikan sekolah swasta untuk membantu negara dalam mendidik anak- anak bangsa. Oleh karena itu, negara layak memberikan apresiasi kepada guru swasta dan pengelola sekolah swasta. Hal ini harus diimplementasikan dengan dua langkah. Pertama, memberikan status PNS kepada mereka. Kedua, memberikan subsidi kolektif agar tercipta keadilan dalam dunia pendidikan yang notabene sebagai dapur untuk menggodok generasi baru yang akan menentukan masa depan bangsa dan negara. Yang dimaksudkan dengan kebijakan subsidi kolektif adalah bantuan pemerintah melalui sejumlah departemen untuk meringankan guru-guru swasta dan sekolah-sekolah swasta berkaitan dengan beban dan tugasnya mendidik anak-anak bangsa. Misalnya, buku pelajaran dan buku bacaan berbagai cabang ilmu (ekonomi, perdagangan, pariwisata dan budaya, sosial, dan lain sebagainya) diterbitkan oleh departemen masing-masing kemudian dibagikan secara gratis kepada guru-guru swasta dan kepada sekolah-sekolah swasta untuk membangun perpustakaan di sekolah masing-masing. Perlu diingat, salah satu kebutuhan setiap guru adalah buku- buku untuk mengajar di depan kelas. Jika tidak mendapat bantuan dari mana pun, maka guru- guru swasta akan terpaksa membelinya sendiri. Padahal, gaji mereka umumnya sangat kecil, bahkan ada gaji guru swasta yang lebih layak disebut uang transpor saja. Jika semua departemen memberikan subsidi dalam bentuk buku bagi guru-guru swasta dan bagi sekolah-sekolah swasta, mutu sekolah swasta kita tentu akan lebih baik lagi dan mampu bersaing dengan sekolah negeri. Bahkan, bukan tidak mungkin akan muncul banyak sekolah swasta yang lebih bermutu dibandingkan dengan sekolah negeri. Apresiasi kepada guru-guru swasta juga layak diimplementasikan dalam bentuk bantuan uang atau materi oleh kalangan pengusaha besar dan menengah di seluruh Tanah Air. Misalnya, masing-masing pengusaha secara rutin memberikan santunan kepada guru-guru swasta di daerah masing-masing. Dengan mendapatkan santunan rutin dari kaum pengusaha, guru-guru swasta akan lebih bersemangat dalam mendidik murid-muridnya, berapa pun nilai santunan yang didapatkannya. Sebab, santunan dalam bentuk uang atau materi tak bisa dinilai sebatas angka- angka karena berkaitan dengan niat baik dan sikap apresiatif terhadap dunia pendidikan. Kalangan perbankan juga selayaknya memberikan apresiasi kepada guru-guru swasta dalam bentuk pemberian kredit lunak untuk kepemilikan rumah maupun kendaraan. Bahkan, sangat mungkin bank-bank besar mampu memberikan kredit dengan bunga nol persen kepada kalangan guru swasta sebagai bukti kepedulian dunia perbankan terhadap dunia pendidikan kita. Ibadah Mengapa orang mau mendirikan sekolah atau menjadi guru swasta? Untuk menjawab pertanyaan di atas, bisa cukup dengan dua kata saja: sebagai ibadah. Dalam hal ini, banyak orang sudi menjadi guru swasta karena pekerjaan mengajar dianggap sebagai ibadah. Memang, bagi guru-guru swasta pekerjaan mengajar bukan semata-mata bertujuan untuk mendapatkan gaji, melainkan juga untuk mendapatkan pahala. Ini jelas terkait dengan keimanan masing-masing karena semua agama sama-sama mengajarkan umatnya agar bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri, bagi anak- anaknya sendiri, dan umumnya bagi generasi berikutnya. Meskipun mereka menyadari risikonya, yakni tidak bisa kaya raya. Semangat beribadah guru-guru swasta yang diimplementasikan dengan menekuni profesi sebagai pengajar akan berlipat ganda jika banyak pihak bersedia berterima kasih kepada mereka dengan memandang sekolah swasta bukan sebagai lembaga pendidikan sekunder. Memandang sekolah swasta sama dengan sekolah negeri karena guru-guru swasta sudah mendapatkan bantuan dari banyak pihak akan menghapus kesenjangan antara sekolah swasta dan sekolah negeri. Sudah terbukti semakin banyak sekolah swasta yang mutunya lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri. ASMADJI AS MUCHTAR, Direktur Religions to Peace Institute, Kudus, Jawa Tengah Sumber : Kompas
Meskipun hujan deras di hampir seluruh Jakarta pada hari Sabtu (14/6) kemarin, dan masih tetap rintik-rintik sampai sesudah adzan maghrib, namun tidak menyurutkan para penggemar wayang untuk berduyun-duyun mendatangi tempat acara di halaman RRI Jakarta, semalam. Sekitar seribu orang memadati area pertunjukan. Seluruh kursi yang disediakan panitia berjumlah 600 kursi penuh. Selebihnya duduk-duduk lesehan di sisi kiri (teras Gedung RRI Jakarta), sebagiannya lagi berdiri di belakang kursi-kursi tamu dan di luar pagar di pinggir Jl. Merdeka Barat. Nampak hadir Pembina Paguyuban Jateng, Jenderal (Purn) Wiranto, Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Mantan Kapuspen Kejagung R. J. Soehandoyo, Mantan Ketua Umum Paguyuban Jateng yang Juga mantan Wagub DKI Jakarta H.RS Museno, Pengurus Paguyuban Jawa Tengah, Pengurus Paguyuban Kota/Kabupaten se Jateng, dan masyarakat asal Jateng di Jabodetabek. Sementara Para kandidat Cagub dan Cawagub Jateng, termasuk Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo tidak bisa hadir karena kesibukannya di Jawa Tengah. Namun beberapa diantaranya mengirimkan tim suksesnya. Acara disiarkan langsung oleh RRI Jakarta pada pukul 20.30 Wib. Diawali dengan panembromo oleh Ibu-Ibu dari Paguyuban Jateng, laporan ketua panitia oleh Kolonel (Purn) Sutjipto, SH, sambutan dari Direktur RRI Jakarta (diwakilkan), sambutan Ketua Umum Paguyuban Jateng Letjen (Purn) Bibit Waluyo yang diwakili oleh Koordinator Para Ketua, Sutrisman, dan sambutan Pambina oleh Letjen TNI (purn) Wiranto. Penyerahan wayang lakon Wisanggeni dilakukan oleh Letjen (Purn) Sutiyoso. Ditutup dengan doa oleh Ketua MUI Bekasi yang asli mBanyumas (Jenengane kelalen lah) Dalam sambutannya, Wiranto menyinggung tentang perjuangan bangsa Indonesia di masa penjajahan. Sampai pada akhirnya lahir organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 yang membangkitkan kesadaran kepada rakyat Indonesia untuk berjuang melalui meja perundingan atau secara politik. Dia menyontohkan bagaimana Tiga Serangkai dr. Soetomo. Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan dr. Cipto Mangunkusumo yang telah berhasil membangkitkan kesadaran pemuda/bangsa Indonesia untuk berjuang melawan penjajah bukan hanya dengan perjuangan fisik, tapi juga di meja perundingan. Pada saat itu, kata Wiranto apabila semua orang Indonesia bersama-sama idu/meludah, maka penjajah akan tenggelam. Ini tentu bukan dalam arti yang sebenarnya. Ini bermakna apabila seluruh rakyat bahu membahu bergotong royong berjuang melawan penjajah, maka akhirnya kemenangan akan diperoleh. Dan ternyata memang demikian adanya. Secara umum penampilan Ki Purbo Asmoro memang bagus, apalagi ditambah dengan bintang tamu sinden bule Kessy dan sepasang sinden asal mBanyumas yang gokil dan kocak yaitu Nyi Wainten dan Nyi Yani. Maka pertunjukanpun penuh dengan gelak tawa. Ditambah dengan tampilnya Wiranto yang diajak ke panggung oleh Ki Dalang. Tidak menyangka, Wiranto ternyata sangat piawai nembang lagu-lagu jawa yang langsung diiringi dengan gending oleh pradangga dari RRI Jakarta. Bahkan ketika diberikan kesempatan yang ke dua kalinya oleh Ki Dalang, disambut dengan memberikan petuah/pesan kepada para Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang akan berlaga pada 22 Juni 2008, siapapun yang jadi/menang, maka Wiranto berpesan bahwa jabatan itu adalah amanah dan anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu, janganlah jabatan dijadikan sarana untuk mencari kesenangan pribadi ataupun golongannya. Kemudian Wiranto-pun nembang yang berisi pesan dari Pangeran Sambernyowo (Amangkurat) kepada para cagub dan cawagub Jateng. Acara disiarkan langsung oleh RRI ke seluruh Indonesia, sehingga mudah-mudahan sampai ke telinga para Cagub dan Cawagub. Sebagai penitia, aku tentu menyambut kehadiran para tamu undangan, termasuk Bapak Wiranto dan Bapak Sutiyoso. Juga sempat berbincang dengan Bapak Suhandoyo, mantan Kapuspenkum Kejagung yang wajahnya sering kelihatan di televisi itu. Kebetulan beliau datangnya agak telat, sehingga luput dari perhatian panitia yang lain. Akupun menyambutnya dan mengajak ngobrol dan mempersilahkan beliau untuk duduk di barisan depan. Hampir semua makanan yang dijajakan di tenda yang disediakan panitia aku cicipi. Bersama-sama dengan panitia yang lain, dan juga Kang Eko Bawor dan Kang Kuswandi Bakmi Margonda. Diantaranya mendoan, wedang jahe, soto Gombong, dan Nasi bebek kremes yang uenak tenan. Seperti biasa, sekitar jam 02.00 akupun bersama dengan Kang Eko Bawor dan Kang Kuswandi Bakmi Margondapun pamitan dan meninggalkan tempat acara yang masih penuh dengan penonton.
Alkisah, sebuah pengembaraan Candra Gupta Sandipala beserta Brahmana dan pengikut-pengikutnya di Wilayah Banjarnegara. Sampailah mereka di sebuah lereng yang bernama Dieng. Mereka disambut baik oleh Akuwu/Tetua dan masyarakat setempat. Hubungan baikpun terjalin semakin erat karena persamaan visi dan misi dalam penyebaran agama Hindu. Eratnya hubungan ini ditandai oleh pernikahan Candra Gupta Sandipala dengan Maha Tantri Nurisia, putri dari Akuwu/Tetua Lereng Dieng Kerjasana dan kebersamaan menguatkan perkembangan sosial ekonomi, politik, dan budaya pada waktu itu, hingga tercetuslah satu ide untuk mewujudkan satu tempat sebagai sarana peribadatan agama Hindu yaitu Candi. Setelah merencanakan tanpa melupakan tiga unsur penting seperti air, api, dan udara, mereka lalu mulai menebang hutan/babat alas. Berbagai rintangan dihadapi. Gangguan makhluk jin maupun gangguan fisik yang lain silih berganti. Hingga pada akhirnya berdirilah Candi Dieng nan megah, perkasa, elok nan indah bak nirwana. Itulah Drama Tari yang dipentaskan di area "Ojo Dumeh" di Anjungan Jawa Tengah TMII semalam (7/6). Hadir Gubernur Jawa Tengah Ali Mifidz, Bupati Banjarnegara Djasri, Duta Besar Negara sahabat, Ketua Umum Serulingmas Pusat Dr.Ir.Yuwono Kolopaking, Mantan Ketua Umum Paguyuban Jateng HRS Museno, Pengurus Paguyuban Jawa Tengah, dan masyarakat Banjarnegara di Jakarta dan sekitarnya. Menurut undangan yang "Inyong" terima, para tamu undangan dimohon hadir 15 menit sebelum pukul 19.00 Wib. "Inyong " sendiri hadir sekitar pukul 19.15 Wib. Disambut beberapa panitia yang menggunakan seragam batik Menjangan khas Banjarnegara, mengisi buku tamu, dan menerima souvenir yang ditempatkan di tas bergambar Pesona Wisata Kabupaten Banjarnegara atas nama Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara. Tas dari kertas bergambar Bupati Banjar sedang naik perahu karet Arung Jeram di Sungai Serayu dan Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas dengan warna dasar merah dan hitam ini nampak indah. Tas sauvenir diantaranya berisi teko teh poci kecil dengan satu gelas yang terbuat dari tanah liat hasil kerajinan Klampok, Satu botol besar Sirup Salak "Azizah" dari kecamatan Madukara, Lempok/Jenang dari Salak Banjar, Gula Aren, makanan kecil dan peta pariwisata Banjar dengan judul Discover The Enchanting Tourism of Banjarnegara. Begitu masuk ke area Anjungan Jawa Tengah, undangan langsung dibelokan oleh panitia yang jumlahnya sangat banyak itu ke tempat makan malam di sebelah kiri depan Anjungan. Makanan yang disajikan diantaranya Sate ayam Banjar, Soto Banjar, dan Dawet Ayu Banjarnegara. Ada juga prasmanan dengan menu utama ayam goreng bumbu asem manis, sop daging dan tetelan sapi, dan makanan penutup berupa aneka buah dan puding. Setelah itu, undangan di arahkan untuk memasuki area "Ojo Dumeh" yaitu sebuah arena di depan sebelah kanan pendopo Anjungan Jawa Tengah yang di dinding belakang panggung pertunjukannya terdapat tulisan jawa "Ojo Dumeh". Kursi tamu di depan dan dibelakangnya yang berupa bangku beton berundak-undak nampak penuh. Baik di depan panggung maupun di sisi kanan panggung. Jumlah pengunjung diperkirakan 750 orang. Sementara di pendopo anjungan juga terdapat kursi-kursi yang mengelilingi meja bulat berbalut kain berwarna putih dikelilingi oleh AC outdoor yang cukup besar di setiap pojok tempat para tamu undangan VIP makan. Berbagai macam makanan nampak berderet di sekililing pendopo anjungan. Jalannya Acara Acara diawali dengan penampilan tari Gambyong Banyumasan yang dibawakan oleh 9 gadis berparas manis memakai kemben dengan kain batik dan selendang berwarna kuning serta rok di dalam balutan kain yang berwarna senada. Diiringi dengan gending dan nyanyian waranggana yang ada di sebelah kanan undangan. Lampu sorot warna warni nampak menambah indahnya suasan panggung dengan latar belakang tanaman-tanaman berwarna hijau.. Kemudian sambutan Bupati Banjarnegara Djasri. Dalam sambutannya, Bupati yang perawakannya tinggi besar ini mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jateng Ali Mufidz yang telah menunjuk Kabupaten Banjarnegara mewakili Propinsi Jateng menampilkan potensi wilayahnya di Jakarta. Djasri juga mengenalkan beberapa pariwisata Banjarnegara seperti Candi Dieng, Arung Jeram, Sumur Jalatunda, Telaga Balekambang, Air Terjun Sirawe, Curug Pitu, dan lain-lainnya. Djasri juga membanggakan warganya yang berhasil memperoleh kejuaraan di tingkat dunia seperti pencak silat dan tinju. " Cris John, jago pukul di ring itu juga dari Banjar lho" begitu promosinya. Spontan disambut tepuk tangan para hadirin. Dilanjutkan dengan sambutan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz. Dalam sambutannya Gubernur Jawa Tengah yang sebentar lagi meninggalkan jabatannya itu mengucapkan terima kasih kepada Bupati Banjar dan Pemda Banjar yang telah menampilkan potensi Kabupaten Banjar/Jateng dengan sangat baik. Setelah itu, ditampilkan tari Aplang yang dibawakan oleh penari pria dan wanita yang memakai sandal bakyak dari kayu. Diiringi genjringan dengan bas kendang disertai nyanyian puji-pujian terhadap kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setelah itu adalah penampilan dramatari "legenda Candi Dieng" dan penyerahan Cinderamata kepada para Duta Besar oleh Gubernur Jawa Tengah. Juga penyerahan Cinderamata kepada General Manager Taman Mini Indonesia Indah. Acara berakhir sekitar pukul 21.30 Wib. Polantas pun sibuk mengatur lalu lintas yang macet di sekitar lampu merah TMII. Beberapa mobil nampak berplat nomor H (Semarang) dan RD (Banjarnegara) keluar dari TMII.
Kompas, Selasa, 3 Juni 2008 | 00:35 WIB Oleh Muhadjir Darwin Ibu Pertiwi menangis karena kebhinnekaan dicederai di negeri yang sebelumnya dikenal dunia sebagai model kerukunan hidup beragama, di negara yang para ulamanya sering berteriak keras, meyakinkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian. Kebhinnekaan tersungkur ketika massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang menuju silang Tugu Monas, Jakarta Pusat, hari Minggu (1/6/2008) untuk memperingati hari kelahiran Pancasila dan menyuarakan kebebasan beragama/berkeyakinan diserbu oleh massa beratribut Komando Laskar Islam (KLI)/Front Pembela Islam (FPI). Massa tersebut menyerang dan melakukan penganiayaan serta perusakan terhadap massa AKKBB. Sebagian korban adalah perempuan dan anak-anak. Dalam kejadian ini, FPI sekali lagi telah mempertontonkan wajah Islam yang ”garang”. Sikap polisi patut disayangkan karena tidak mencegah dan mengatasi aksi kekerasan tersebut, bahkan menyalahkan AKKBB karena tidak melakukan koordinasi dengan Polri. Ketua MUI Amidhan seperti ingin bersikap netral dalam peristiwa ini dengan menyayangkan (bukan memprotes atau mengutuk) aksi KLI/FPI, tetapi pada sisi lain menyalahkan pihak AKKBB yang dikatakan melakukan provokasi terhadap KLI/FPI karena di dalam massa tersebut terdapat pengikut Ahmadiyah yang telah dinyatakan sesat oleh MUI. Pernyataan yang sepintas netral tersebut, jika dicermati, cenderung lebih membela KLI/FPI. Dengan tuduhan provokasi, secara implisit Amidhan mau menegaskan bahwa KLI/FPI adalah institusi suci yang tidak boleh diprovokasi, dan karena itu kekerasan yang mereka lakukan (meskipun disayangkan) dapat dimaklumi, lepas dari persoalan apakah klaim provokasi tersebut masuk akal. Bangsa majemuk Sesuatu hal yang perlu menjadi keprihatinan kita bersama sebagai sebuah bangsa majemuk adalah kecenderungan maraknya cara-cara kekerasan atas nama Islam dalam menyikapi perbedaan. Sebagai seorang Muslim, saya mencoba bertanya kepada hati nurani saya sendiri, inikah sejatinya Islam? Jika hati saya membisikkan jawaban ”ya”, saya harus merasa malu untuk mengatakan bahwa agama saya adalah agama perdamaian dan malu pula untuk memprotes Amerika dan Israel ketika mereka melakukan teror di tanah Palestina atau Irak. Jika hati kecil saya menjawab ”bukan”, saya harus malu terhadap ulah saudara saya seagama dan merasa citra agama saya tercoreng oleh aksi brutal mereka. Umat Islam mempunyai kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan. Tokoh-tokoh Islam pencetus Piagam Jakarta dengan lapang dada mau menanggalkan 7 kata ”dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam menyusun Pembukaan UUD 1945 dan menerima Pancasila sebagai dasar negara sebagai bentuk pengakuan mereka terhadap prinsip-prinsip pluralisme yang terkandung dalam ideologi tersebut. Ini berarti, umat Islam-lah yang paling berkepentingan terhadap terpeliharanya negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Umat Islam pula yang seharusnya paling marah ketika KLI/FPI atas nama Islam memorakporandakan komitmen nasional bangsa Indonesia dengan anarkisme yang mereka pertontonkan kepada publik pada hari sakralnya bangsa dan negara ini. Keberadaan FPI tidak mengharumkan, tetapi justru merusak citra Islam. Ketika AS dan Israel melakukan teror di kawasan Timur Tengah, umat Islam dunia menghujat kedua negara tersebut dengan menggunakan dalil kemerdekaan, kebebasan, kemanusiaan, dan persamaan hak. Ketika Osama bin Laden menjawab hegemoni Amerika dengan menghancurkan menara WTC di New York, tokoh-tokoh Islam moderat sibuk meyakinkan dunia bahwa aksi Osama tidak mencerminkan Islam karena Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama perdamaian. Hal yang sama juga dilakukan ketika kelompok Azahari melakukan teror di beberapa kota di Indonesia. Lalu, bagaimana saat ini umat Islam Indonesia dapat meyakinkan dunia ketika KLI/FPI yang atas nama Islam melakukan perusakan dan penganiayaan terhadap massa AKKBB yang tengah melakukan aksi damai tersebut? Jika pun mereka tidak setuju, apakah mereka punya otoritas untuk mewakili Tuhan atau negara menghakimi sesama warga negara? Apakah dengan peristiwa seperti ini kita masih punya alasan untuk meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian? Agama egaliter Saya jadi ingat ketika tokoh feminis Muslim Kanada, Irsyad Manji, ceramah dalam satu seminar di Kampus UGM. Manji menegaskan pentingnya kemerdekaan berijtihad untuk memajukan Islam. Terhadap pernyataan tersebut, seorang ibu yang mengaku anggota Hizbut Tahrir merespons dengan mengatakan bahwa Irsyad Manji tidak punya otoritas untuk berijtihad karena dia bukan ulama. Hanya ulama yang benar-benar menguasai ilmu agama yang mempunyai otoritas tersebut. Ia lalu membuat analogi dokter gigi. Orang sakit gigi hanya akan mendapatkan pertolongan yang benar jika datang ke dokter gigi. Orang awam tidak bisa mencabut gigi yang sakit karena akibatnya bisa fatal. Terhadap perumpamaan tersebut, saya yang ketika itu menjadi pembahas presentasi Manji menjawab. Analogi tersebut secara implisit mengatakan bahwa Islam adalah agama yang elitis, di mana fatwa ulama harus diikuti secara taqlid (patuh) oleh pengikutnya, padahal Islam adalah agama yang egaliter. Kedua, dokter belum tentu membuat diagnosis yang tepat atau penanganan medis yang benar. Nah, ulama dapat juga membuat fatwa keliru dengan menyesatkan aliran tertentu yang berbeda dengan keyakinannya atau memerintahkan umatnya melakukan perusakan, penganiayaan, atau pembunuhan terhadap orang atau kelompok lain yang mempunyai keyakinan yang berbeda. Muhadjir Darwin Guru Besar Fisipol UGM, Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM
Senin tanggal 19 Mei 2008 jam 19.00 Aku sudah berada di kantor PWNU DKI di Jl. Raya Utan Kayu, Jakarta Timur. Setengah jam kemudian, Gubernur DKI yang juga Ketua Tanfidziah PWNU DKI Jakarta, Pak Fauzi Bowo tiba di tempat. Untung aku udah datang on time sesuai dengan undangan yaitu jam 19.00 wib. Terlambat sedikit, malu dan nggak bisa ikut menyambut Pak Ketua. Maulid di kalangan Nahdliyin, merupakan sebuah tradisi yang dilestarikan, karena mengandung nilai-nilai keagamaan serta sosial kemasyarakatan yang baik. Maulid kali ini juga dikaitkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 100. Dimeriahkan oleh ungkapan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan diiringi dengan rebana anak-anak yang bertalu-talu. Slah seorang santri kemudian mengoleskan minyak wangi ke punggung tangan undangan yang hadir, termasuk Pak Fauzi Bowo. Dalam sambutannya, Pak Fauzi menyampaikan kesenangannya atas terselengaranya acara Maulid ini. Bahkan, setelah Gubernurnya orang NU, yang merayakan Maulid jadi tambah banyak. Ketika sedang berbicara di podium, tiba-tiba suaranya tenggelam oleh deru suara bajaj. Seketika itu juga Pak Fauzi bilang, "Nha ini, kalau bajaj tetep kaya gini, susranya bisa saingan sama orang lagi ngomong. Makanya nanti Pemda DKI akan secepatnya mengganti bajaj yang berbunyi brisik dan banyak polusi udaranya itu dengan Bajaj berbahan bakar gas yang lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan suara brisik. Pak Fauzi juga menyadari bahwa saudara-saudaranya yang kurang mampu masih membutuhkan angkutan semacam bajaj. Makanya bajaj tidak dihapuskan, tapi diremajakan supaya tidak brisik dan ramah lingkungan. Setuju lah Pak. Bahkan kalau bisa bus dan metromini yang asapnya kaya asap pabrik juga dikandangkan dan diganti dengan yang ramah lingkungan. Biar sudah jadi Gubernur, Pak Fauzi tetap bersahaja. Bahkan ketika dipersilahkan berceramah oleh MC, dia bilang "Ini sih bukan ceramah, tapi pengantar ceramah", yang dismbut ger-geran tamu yang hadir. Di tengah-tengah pidatonya, Pak Fauzi juga mengkritik sound system yang kurang bagus. "Masa ketua NU nya sudah jadi Gubernur, sound systemnya masih jelek begini", yang disambut gelak tawa para hadirin. Pak Fauzi juga menyampaikan tekad pemerintah yang akan tetap menaikkan harga BBM. Sebab, setiap kenaikan harga minyak 1 dollar per barrel, pemerintah harus menyubsidi 3 trilyun. Untuk itulah, supaya APBN tidak jebol, maka pemerintah tetap akan menaikkan harga BBM. Dan bagi keluarga yang tidak mampu yang selama ini menggunakan minyak tanah, supaya memanfaatkan kompor gas yang sudah dibagikan oleh pemerintah secara gratis. Intinya, kata Pak Fauzi, pemerintah lebih ringan menyubsidi gas daripada BBM. Jadi tetap masih sama-sama disubsidi, hanya subsidinya lebih ringan, begitu kata beliau. Setelah itu giliran ceramah yang kedua oleh Ketua PBNU, KH Masdar Farid Masy'udi, seorang intelektual NU. Masdar menyoroti tentang ghirah keorganisasian NU yang kian hari kian merosot. Kalau di masa lalu 99 persen umat Islam di Indonesia adalah orang NU, sekarang ini mungkin tinggal 70 persen. Ini disebabkan kaderisasi yang kurang berjalan maksimal. Sementara itu kelompok-kelompok yang lain semakain agresif dan kompak dalam berorganisasi sehingga semakin banyak menarik minat umat yang beragama Islam untuk masuk ke dalam kelompok-kelompok dimaksud. Oleh karena itu Kya Masdar mengajak kepada segenap kaum Nahdliyin supaya bahu membahu dalam mengembangkan syiar ajaran ahlussunah wal jamaah dan janganlah malu mengakui sebagai orang NU. Bila mana perlu, pasang stiker NU di pintu rumah, atau di masjid yang memang masjidnya orang NU. Sementara orang-orang Muhammadiyah sudah tidak malu-malu lagi bahkan secara terang-terangan untuk menyebut jatidirinya sebagai orang Muhammadiyah. Begitulah kira-kira. Acara ditutup dengan doa, dan makan nasi kebuli bersama-sama. Nyam,,,,nyam,,nyam,,,,ayam gorengnya enak lho. Mungkin karena makannya rame-rame.
kurang lebih jam 19.00 lewat sedikit, malam itu Sabtu 17 Mei 2008 aku sudah sampai di Balairung UI Depok. Malam minggu itu, dalam rangka Dies Natalis UI yang ke 58 dan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke 100. Di sana sudah ada Pak Untung RS (Sekum KKB Jabodetabek), dan Pak Drs.Toto Sumarwoto (PEPADI DKI Jakarta). Juga ketemu dengan Pak Ir.Tarsoen Waryono, seorang dosen UI, penggagas hutan kota di kompleks UI Depok dan juga pengurus KKB Jabodetabek. Malam itu belum banyak yang datang. Tapi Rektor UI yang nampak masih sangat muda, Prof.Dr.der Soz.Gumilar Rusliwa Somantri dan Ketua Umum Panitia Prof.Dr. Sarlito Wirawan Sarwono sudah ada di di tempat duduk di deretan kursi paling depan. Acara dimulai dengan sambutan Ketua Pelaksana Ibu Woro R.Mastuti Pranidhana, M.Hum (FIB UI), kemudian dilanjutkan dengan Sambutan Pelindung Panitia Bapak Prof.Dr.Ir.Budi Susilo Soepandji (FTUI, sekarang Dirjen Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan RI), dan sambutan terakhir oleh Rektor UI Bapak Prof.Dr.der Soz Gumilar Rusliwa Somantri. Setelah itu adalah hiburan Tari Punjari (Tarian Jawa Timur tentang burung Punjari di tepi Pantai Banyuwangi) oleh 10 anak penari wanita dari Sanggar Tari Ayodyapala dari Sukmajaya dilanjutkan dengan Tari Wira Pertiwi (tarian kreasi Bagong Kussudiardjo dari Yogya, bercerita tentang ketangguhan prajurit wanita). Tari yang dibawakan oleh 5 mahasiswi UI ini nampak "bernas" dengan pakaian seragam prajurit berwarna kuning, dengan menenteng gendewa, dengan sosok penari yang langsing, cantik, dan berkulit kuning langsat. Hem,,, Selanjutnya penyerahan Wayang Anoman oleh tim penari dari UI tadi kepada Rekor UI yang selanjutnya diberikan kepada dalang muda Ki M. Pamungkas Prasetyo Bayu Aji (24 tahun) yang juga putra dalang kondang, Ki anom Suroto. Dan selanjutnya Ki Dalang naik ke panggung. Sedikit informasi bahwa Ki Dalang Bayu Ajin saat ini tercatat sebagai mahasiswa sosiologi UNS, Solo. Sebagai dalang muda kiprahnya di dunia "pedalangan" telah membawanya ke mancanegara dan menorehkan sejumlah prestasi diantaranya tampil dalam festifal seni di Jepang (1991), duta seni di Australia (1994) dan dalang terbaik se-Jawa-Bali (1996), dan nanti pada 8 Agustus 2008 akan tampil di kota Berlin, Jerman. (Sing neng Jerman bisa nonton kiyeh). Wayang dimulai sekitar pukul 21.30 Wib. Lakon yang dibawakan adalan Anoman Duta. Kursi Balairung di bagian bawah telah penuh, dan sebagian duduk di bagian atas. Penonton diperkirakan 1000 orang. Beberapa pedagang makanan seperti gorengan singkong keju, tahu, dan mendoan berada di belakang gedung Balairung. Juga sekuteng, kacang rebus, aqua, es teh manis, sroto, tukang obat, jualan wayang, tukang ramal, jualan VCD wayang, dan stiker wayang meramaikan pertunjukan wayang ini. Sempat ketemu dan berbincang sebentar dengan Ir.Totok Sugiyarto, sekretaris umum Paguyuban Jateng yang juga sekretaris DPD DKI sebuah partai politik. Jam 02.00 pulang dan langsung menuju ke Radio P2SC di Kemayoran yang juga sedang mengadakan pertunjukan wayang dengan siaran langsung.
Tersebutlah, seorang anak (dan mungkin) masih banyak anak-anak yang lainnya, yang menjadi yatim, yang dibuang atau tidak diakui oleh orang tuanya, dan selalu disia-siakan hidupnya. Hal ini terjadi karena anak tersebut adalah hasil perselingkuhan. Kasihan anak ini. Dia tidak berdosa, yang berdosa adalah kedua orang tuanya. Tapi ulah orang tuanyalah yang menjadikan hidupnya merana. Tidak diakui oleh saudara-saudaranya, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Karena dianggap sebagai aib yang yang harus dilenyapkan. Inilah cerita pertunjukan wayang kulit gagrag Banyumasan (sekitar 2 jam) oleh Ki Sigit Adji Sabdoprijono SSn di Lantai 4 Selasar Budaya Tirto Utomo, Cikini Jakarta Pusat, semalam. Pertunjukan wayang diawali dengan penggambaran percintaan antara Dewi Kunthi yang diperankan oleh penari Nungki Kusumastuti dengan Dewa Surya yang diperankan oleh Teguh WO Barata. Acara berlangsung sekitar 2,5 jam dari mulai pukul 19.30 sd pukul 22.00 Wib. Terlihat hadir budayawan Frans Magnis Suseno, Bapak Yuwono Kolopaking (Ktua Umum Serulingmas Pusat), Bapak Purbadi,SH (Ketua Umum KKB Jabotabek) beserta istri, Mas Panky Soewito (Artis sinetron, suami Yaty Octavia), Pak Widodo (Tim sukses Pak Marjoko), sejumlah pengurus Tirta Foundation, pengurus Serulingmas pusat, dan pengurus KKB Jabotabek. Ki Dalang Sigit (40 tahun) menunjukkan pada penonton betapa dahsyat perjuangan seorang anak manusia yang tidak dicintai oleh ayah dan ibunya. Penonton juga mendapat pelajaran, betapa beratnya menjadi seorang ibunda bagi dua orang anak yaitu Adipati Karna dan Arjuna yang ditakdirkan untuk berkelahi sampai mati dalam babad Perang Baratayuda Joyobinangun. ”Banjaran Adipati Karna” tidak semata-mata melukiskan ”Arjuna Wiwaha” atau Karna Tanding” sebagai bagian dari perang saudara yang paling hebat dalam sejarah pemikiran; tetapi juga menyoroti bagaimana seorang anak manusia mampu membangun pribadinya sendiri yang luhur dan mulia Banjaran Adipati Karna menceritakan perselingkuhan antara Dewi Kunthi dengan Dewa Surya. Kemudian, karena dianggap sebagai aib maka jabang bayi yang dilahirkan lewat kuping itu kemudian tidak diakui sebagai anak oleh Dewa Surya. Bahkan Ibunya pun membuangnya. Adipati Karna kemudian menjadi sosok yang kehilangan cinta. Ayahnya, Dewa Matahari pergi begitu saja.Ibunya, Dewi Kunthi malah membuangnya,karena malu melahirkan di luar kebiasaan (lewat telinga) buah cintanya dengan dewa. Singkat cerita, ketika akan terjadi perang baratayuda, Dewi Kunthipun gagal membujuk sang anak (Adipati Karna) untuk tidak berperang melawan saudaranya (Raden Janoko). Adipati Karnapun mengatakan kepada Ibunya, ”Tinggalkanlah saya untuk yang kedua kalinya, biarlah saya ingin memperjuangkan junjungan saya, negara saya. Toh seandainya salah satu terbunuh, Pendawa tetap lima. Jika saya yang terbunuh, maka pendawa masih lima. Dan Jika Janoko yang terbunuh, pendawa juga masih lima (dengan Karna)” Dewi Kuthipun menjerit mendengar perkataan Adipati Karna. Inilah karma bagi Dewi Kunthi yang selama ini tega meninggalkan Karna,anaknya. Lalu. Bagaimana dengan kondisi jaman sekarang, apakah seorang anak yang pemurung,temperamental, frustasi (karena banyak ditolak) , menjadi figur yang patut diteladani? ”Bisa” kata konsultan pewayangan terkemuka, Sudarko Prawiroyudo yang berpidato mengawali jalannya acara. ”Adipati Karna mampu menjadi manusia teladan karena ia mengenali siapa kawan kesedihan, saudara penderitaan, dan sahabat kematian.” Bukankah bagi orang yang mati membela negara termasuk ke dalam mati syahid yang kelak masuk surga?” Sebagaimana kita lahir dengan tulus ikhlas ke bumi ini, demikian pula hendaknya kita berani meninggalkannya. Untuk itulah kita belajar pada Adipati Karna, yang sangat mencintai ”musuhnya”, dan mengalahkan dirinya sendiri, justru untuk menang. Adakah Anda pernah melihat lukisan atau monumen Arjuna Wiwaha karya Nyoman Nuarta di ujung bundaran Thamrin-Merdeka Barat? Ksatria di atas kereta yang ditarik delapan ekor kuda itu sedang bertempur. Siapakah yang dihadapinya? Musuhnya tidak kelihatan, tetapi ada di dalam hati kita yaitu Adipati Karna, dengan Prabu Salya sebagai saisnya. Pertempuran Agung ini adalah sumber dari kitab Bhagawat Gita—Nyanyian Dewata. Apakah kita akan melakukan perselingkuhan seperti Dewi Kunthi dan Dewa Surya?
Hari Minggu, 27 April 2008 kemarin, aku ke acara rapat Paguyuban Jawa Tengah di Apartemen Istana Sahid, Jl Jend Sudirman, Jakarta. Apartemen Sahid terletak di belakang Hotel Sahid, atau masih satu kompleks dengan hotel Sahid. Fasilitasnyapun ternyata sama dengan hotel. Aku ke sana bareng Kang Eko Bawor. Hadir sekitar 60 orang terdiri dari para ketua bidang pengurus PJT (Paguyuban Jawa Tengah) serta pengurus paguyuban kabupaten se Jawa Tengah. Nampak hadir bendahara umum PJT, Ibu Yanti Sahid Gitosarjono (tuan rumah rapat), Ketua Umum yayasan Serulingmas (seruan Eling Banyumas) pusat, Bapak Dr.Ir. Yuwono Kolopaking, Ketua Harian PJT Bapak Sutrisman dan yang lainnya. Rapat membahas masalah kegiatan-kegiatan yang hendak dilakukan,terutama ide ataupun rencana-rencana dari masing-masing ketua bidang serta sosialisasi dicalonkannya Ketua Umum PJT, Letjen (Purn) Bibit Waluyo oleh sebuah partai besar, menjadi calon Gubernur Jawa Tengah bersama Bupati Kebumen Rustriningsih sebagai calon Wagub. Diantaranya juga membahas rencana ketua bidang Ekonomi/perbangkan yang mengusulkan adanya koperasi simpan pinjam, usulan adanya pagelaran Wayang Kulit oleh ketua bidang Seni Budaya, dan aku sendiri sebagai ketua bidang Pemuda dan Olah Raga mengusulkan kegiatan OR berupa jalan santai di sekitar monas untuk warga Jateng yang ada di Jabodetabek. Bapak Yuwono Kolopaking juga mengusulkan diadakannya turnamen Golf yang bisa diadakan di Golf Merapi di Yogyakarta dengan potongan pengggunaan lapangan Golf sampai 50% (Lapangan Golf nya Pak Yuwono siy,,,) Ibu Yanti Sahid Gitosarjono memberi usulan tentang penanggulangan kemiskinan di daerah Jateng. Ibu Yanti yang anggota DPR dari fraksi PDIP dari daerah pemilihan Jateng menggagas perlunya peran serta paguyuban Jateng dalam ikut serta meningkatkan taraf hidup masyarakat di Jateng. Dia banyak memberikan contoh-contoh kegiatan yang selama ini dilakukan sebagai anggota DPR di daerah pemilihannya. Tepat jam 17.00 acara selesai. Hadirin dipersilahkan makan-makanan yang sudah disediakan, diantaranya sate ayam dang ado-gado. Habis itu, aku sama Kang Eko Bawor menuju ke Cikini, tepatnya ke Gedung Tirta Foundation. Di situ digelar pertunjukan wayang padat (sekitar 2 jam) oleh Ki Sigit Sabdo Adji Priyono,SSn (kakaknya artis Mayangsari). Terlihat hadir budayawan Frans Magnis Suseno, Bapak Yuwono Kolopaking, Bapak Purbadi,SH (Ketua Umum KKB Jabotabek) beserta istri, Mas Panky Soewito (Artis sinetron, suami Yaty Octavia), Pak Widodo (Tim sukses Pak Marjoko), sejumlah pengurus Tirta Foundation, pengurus Serulingmas pusat, dan pengurus KKB Jabotabek. Pertunjukan wayang diawali dengan tampilnya penari Nungki Kusumastuti beserta Teguh (WO Barata), masing-masing menggambarkan sebagai Dewi Kunthi dan Dewa Surya yang melakukan perselingkuhan sehingga di kemudian hari lahir Karna lewat telinga. Nungki dan Teguh nampak serasi dan menari bagus sekali. Wajah merekapun selalu menggambarkan senyum nakal layaknya orang yang melakukan perselingkuhan. Kemudian dilanjutkan dengan wayangan sesungguhnya, sekitar 2 jam pertunjukan. Sebelum acara selesai, sekitar pukul 21.30 wib, aku dan Kang Eko Bawor pulang. Aku juga gak tahan ngantuk banget gara-gara Minggu paginya bangun jam 03.00 dan sesiangan ngga tidur siang. Cerita tentang Karna yang tidak diakui dan dibuang oleh kedua orang tuanya nanti jadi cerita tersendiri saja.
Kemarin, Minggu 20 April 2008 aku,istri, dan anaku Naufal ke Pameran Green Festifal di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Banyak hal yang bisa diserap dari festfal itu. Dengan tidak menggurui dan terkadang jenaka,banyak gambar kartun yang berisi ajakan untuk menyehatkan bumi dari ancaman pemanasan global (Global Warming) Diantaranya adalah ajakan untuk berjalan kaki jika jarak tempuh pendek, atau naik sepeda jika jarak tempuh agak jauh sedikit, misalnya sekitar 5 km. Urut-urutan anjurannya adalah. Jalan kaki, kemudian naik sepeda (tidak ada polusi, menghemat BBM), kalau terpaksa memakai kendaraan ya pakailah kendaraan umum. Lalu sepeda motor (lebih irit BBM dan tidak begitu makan badan jalan sehingga tidak bikin macet). Paling dihindari adalah naik mobil pribadi. Apalagi kalau isinya cuma satu orang. Di situ dianjurkan apabila naik mobil, ajaklah keluarga atau siapapun yang satu arah (satu jalan) sehingga mengurangi kemacetan dan hemat BBM. Juga digambarkan melalui video yang dipancarkan dengan infokus,bagaimana es yang mencair di kutub utara akibat pemanasan bumi. Mengapa bumi semakin panas? Ini dikarenakan terhambatnya sinar matahari yang dipancarkan kembali oleh bumi, oleh Gas Rumah Kaca. Ini bukan rumah atau gedung yang memakai kaca, tapi suatu gas semacan Karbondioksida yang bisa menghambat lepasnya panas dari bumi akibat pancaran sinar matahari. Ada juga anjuran untuk hemat listrik dengan menyetel AC paling dingin 25 derajat. (dikamarku biasanya di setel 24 derajat, tapi kalau Naufal atau istri saya biasanya kepenginnya langsung dingin dengan menyetel "super"). Akibatnya kalau menjelang pagi,kamar dinginnya bukan main, mungkin 16 atau 18 derajat kali) Biasanya aku terbangun dan menyetel remote ke 24. Ada juga anjuran agar kita jadi Vegetarian, ya hanya makan makanan dari tanaman dan sayuran, tidak mengonsumsi daging, baik daging hewan seperti sapi dan kambing maupun ikan. Bagus juga untuk dicoba, tapi kalau yang biasa makan daging atau ikan, bisa ngga ya menghilangkan kebiasaan ini? Soalnya katanya makan daging itu banyak bahayanya. Disamping dapat menyebabkan darah tinggi,kegemukan, juga dapat menyebabkan kanker usus. Sebab daging yang dimakan mengalami pembusukan di dalam usus manusia, sementara buah dan sayuran, tidak mengalami pembusukan,,,,,ya yang lebih tau tentu dokter. Tapi paling tidak kalau kita melakukan ini, badan kita akan lebih sehat dan harapan hidupnya menjadi lebih panjang. Coba simak di http.SupremeMasterTV.com Ada juga panggung hiburan. Kemarin pas ada Opie Andaresta lagi nyanyi kampanye tentang penghijauan. Sayang es krim wallsnya kehabisan, sehingga Naufal ngga bisa makan es krim kesukaannya. Akhrinya makan siomay di luar arena sambil menonton Oppie menyanyi di panggung.
Kemarin, hari Sabtu, 19 April 2008, Aku mengantar istri menjenguk temannya yang sedang sakit. Ini adalah teman akrabnya sejak di SMP 151 di kawasan Plumpang, Jakarta Utara. Dia sekarang sudah menjadi penyanyi dangdut yang cukup terkenal, dengan hitsnya yaitu Wulan Merindu. Ya, dia adalah Cici Faramida. Cici kini terbaring lemah di sebuah Rumah Sakit di Jakarta.(wartawan dilarang masuk ke tempat perawatan Cici). Menderita demam berdarah (DBD) dan komplikasi dengan sakit typus. Kasihan sekali. Hari Sabtu kemarin, kondisi trombositnya masih belum pulih, tapi sudah cukup sehat untuk berbicara, bahkan bercerita ngalor ngidul dengan kami. Selama kurang lebih satu jam saya dan istri berada di kamar perawatan Cici. Saya juga sempat berbincang dengan nenek Cici dari pihak Ibu, yang ternyata adalah ustadzah NU (Nahdlatul Ulama). Kemarin Cici hanya ditemani oleh neneknya dan dua pembantunya. Cici menempati kamar Super VIP, dengan fasilitas ruang tamu dengan satu set tempat duduk, satu set meja dan kursi makan, kulkas, serta televisi 29 inci di ruang tamu. Di kamar perawatan juga terdapat televisi 21 inci di yang diletakkan di atas sebelah kiri ranjang , extra bed , serta kursi untuk keluarga maupun yang menjenguk. Mudah-mudahan cepat sembuh ya Ci. Sehingga bisa nyanyi lagi menghibur banyak orang. Mungkin Allah sedang memberikan cobaan, supaya Cici beristirahat dan banyak berkumpul dengan keluarga dan handai taulan.
Setelah lama aku nggak nonton film, karena kesibukan dsb, akhirnya kemarin aku nonton juga film Ayat-Ayat Cinta. Nggak jauh-jauh nontonnya, di Atrium 21 di Senen, Jakarta Pusat. Mengapa aku tertarik untuk nonton di bioskop lagi? Soalnya kabar yang saya dengar film ini sangat bagus dan penontonnya melebihi 2,5 juta-an. Wah luar biasa. Apalagi saya juga dengar Pak SBY dan Pak Jusuf Kalla juga menyempatkan nonton bersama rombongan mereka masing-masing. Wah, semakin penasaran. Kaya apa si sebetulnya film ini? Benar saja ternyata. Film ini ternyata bagus sekali. Bukan cuma denger-denger, tapi setelah menyaksikan sendiri, aku salut dengan penulis novelnya Habiburrahman El Shirozy dan sutradaranya Mas Hanung Bramantyo. Setelah film Naga Bonar jadi 2, film ini termasuk film yang paling bagus di tahun 2008 ini. Sudah Nonton 2 kali Saking bagusnya film ini, aku sampai nonton 2 kali. Pertama sendirian, kedua kalinya ngajak istriku,,,,,Aku sendiri terharu melihat jalannya cerita di film itu, yaa sampai keluar air mata. Apalagi istriku, matanya mata yuyu. Gampang menangis. Kalau melihat orang menangis ya ikut-ikutan menangis. Pro Kontra terhadap film ini banyak sekali. Tapi aku sendiri sudah lelah untuk berdiskusi lebih lanjut masalah film AAC ini. Yang jelas menurutku, film ini bagus. Paling tidak inilah film yang menggambarkan sisi-sisi Islam yang lembut dan toleran serta Islam yang rahmatan lil alamin. Dibandingkan dengan film-film "Kuntilanak" atau "Putusnya Tali Pocong Perawan" , film AAC tentu menjadi "penyejuk" dan eksisnya perfilman Indonesia. Meskipun tentu sama sekali tidak sebanding jika membandingkan film-film seperti di atas itu. Tapi bagaimanapun, film AAC ini merupakan secercah harapan akan bangkitnya film-film Indonesia yang mengangkat cerita-cerita yang Islami setelah film Wali Sanga, atau Syeh Siti Jenar dll. Sepertinya, setiap sutradara ada masanya sendiri. Jaman Dedy Mizwar, film-film yang bertemakan dakwah Islam seperti Wali Sanga dan Syekh Siti Jenar sudah cukup mewakili perfilman di masa itu untuk disebut sebagai film-film yang Islami. Sekarang ternyata ada Mas Hanung Bramantyo, yang juga concern terhadap film bertemakan Islam, karena pesan dari Ibunya. Mari Simak pernyataan Mas Hanung di MP-nya http://hanungbramantyo.multiply.com
Pagelaran Wayang Kulit yang berlangsung di Halaman parker Gedung Olah Raga Raden Inten, Buaran, Jakarta Timur pada Hari Sabtu malem Minggu, 22 Maret 2008 mulai pukul 21.30 sampai tancep kayon berlangsung meriah dan penuh gelak tawa. Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk gagrag Banyumasan dengan Ki Dalang Marwoto dari Banyumas dilaksanakan dalam rangka tasyakuran pernikahan putri seorang pengusaha Kontraktor yang resepsinya telah dilaksanakan beberapa waktu lalu di Panti Prajurit, Balai sudirman Jakarta Selatan. Dihadiri oleh sekitar 1000 orang, dengan model wayangan mirip Dalang Kondang Ki Sugino Siswocarito ini memang membuat penonton tidak beranjak dari tempat duduknya sampai pagi. Bahkan, beberapa penonton yang tidak kebagian tempat duduk yang disediakan tuan rumah, rela berdiri di sekitar panggung dan di belakang kursi undangan, serta duduk lesehan di depan kursi tamu VIP. Saya datang bersama Kang Eko Bawor dan Pak Parman, seorang kerabat Kang Eko. Mirip Dalang Gino Mengapa saya bilang mirip dengan Dalan Gino? Karena dari suaranya jelas mirip sekali. Kemudian sama-sama memakai lampu lighting (disko) dan suara untuk memberi efeck pada kejadian-kejadian misalnya untuk menutup satu episode dengan dua gunungan dsb. Untuk menutup suatu episode ,Ki Marwoto melakukan akrobatik dengan memutar dua gunungan sekaligus di udara dan menerima (mancak) kembali kedua gunungan tersebut dengan sempurna. Selama akrobatik tersebut maka efeck lighting dan efeck suara berperanan menambah mantapnya suasana. Ini juga dilakukan untuk wayang yang sedang berperang. Ciri khas lain yang hampir-hampir mirip dalang Gino adalah Rambutnya yang gondrong, bahkan lebih mirip dengan rambut Dalang Kondang dari Tegal, Enthus. Juga sindennya yang berjumlah banyak, sebagian muda-muda (apalagi yang bernama Ida) ada delapan orang, ditambah dengan pasangan pelawak yang sangat serasi saat ini yaitu Suliyah dan Bodong. Antawacana dari Ki Marwoto ini juga sangat jelas dengan diselingi sindiran sana sini terhadap keadaan mutakhir serta korupnya para pejabat. Juga sindiran tentang harga-harga yang melambung tinggi hingga tak terjangkau masyarakat kecil. Dengan pembawaan dialog yang kocak, menambah kemiripan dengan Ki Dalang Gino. Kemudian Gendhingnya juga lumayan kompak dengan ada tetabuhan lengkap untuk campursari seperti Gitar, organ, dan drum. Sedikit kekurangannya adalah Antawacana (dialog)nya banyak mengunakan kata-kata dalam Bahasa Indonesia atau bukan dalam bahasa jawa perwayangan. Namun untuk keseluruhan pertunjukan cukup memuaskan penonton. Jalan Ceritanya : Tanpa terlebih dahulu berbasa basi sebagaimana biasanya para dalang yang mengawali pertunjukan dengan menjelaskan, misalnya dalang itu artinya ngudal piwulang dsb, cerita langsung mengalir dengan pertemuan para punakawan pendawa yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bawor. (Ini agak di luar kebiasaan, karena punakawan biasanya keluar pada saat goro-goro). Mereka membicarakan tentang barbagai hal yang terjadi di Negara Pendawa. Harga-harga yang naik, kesulitan rakyat kecil, pejabat yang korup adalah pembicaraan mereka. Dalang meyimpulkan bahwa "Kedaulatan Rakyat" dilambangkan dengan Semar. Sampai pada kesimpulan dari Rama Semar bahwa, untuk menghentikan "pageblug" yang sedang melanda negara Amarta ini adalah dengan meminjam Jamus Kalimasada milik Raja Amarta, Prabu Puntadewa, sinuhun junjungan mereka. Singkat cerita, Petruk dan Bawor diutus oleh Rama Semar untuk berangkat ke Keraton Amarta menemui Prabu Puntadewa. Satu Episode ini ditutup dengan akrobat gunungan yang melayang-layang di udara disertai dengan efek lampu dan suara. Sementara itu, di Pendawa sedang terjadi pasewakan agung, yang membicarakan tentang masalah negara dan rakyat yang sedang mengalami papa cintraka. Mereka diantaranya Prabu Puntadewa, Raden Janoko, Raden Werkudara, serta ada tamu yaitu Prabu Bathara Kresna. Mereka juga membicarakan tentang Jamus Kalimasada yang murca (hilang) entah kemana. Sudah dicari kesana-kemari namun tidak juga membuahkan hasil. Di tengah-tengah perbincangan, masuklah Begawan Kumbayana atau yang biasa disebut Pendita Durna. Nah disinilah awal masalah atau awal konflik akan dimulai. Rupanya Pendita Durna sudah mendahului Ki Lurah Petruk dan Ki Lurah Bawor untuk menghadap ke Prabu Puntadewa. Seperti biasanya, Pendita Durna yang juga "guru" pendawa melancarkan serangkaian cerita serta fitnah yang ditujukan kepada Ki Lurah Semar. Dengan gaya khasnya "Pucuuuk, lole lole blegedhug monyor-monyor buntute kisoh,,,,,,," pendita Durna memamerkan kepandaiannya "menerawang" siapa kira-kira pencuri Jamus Kalimasada tersebut. Awalnya Pendita Durna mengatakan bahwa menurut penerawangannya, yang mencuri Jamus Kalimasada adalah pendatang yang kulitnya ireng cemani. Maka Prabu Sri Bathara kresnapun tersinggung, kemudian mempertanyakan maksud arah pembicaraan Pendita Durna. Ketika didesak, kemudian Pendita Durna mengatakan bahwa orangnya Bunder,,,,,,ketika ditanya lagi, maka dia menjawab bahwa pencuri Jamus Kalimasada adalah Kaki Semar Badranaya. Di tengah kekagetan para Pendawa, masuklah Ki Lurah Petruk dengan mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminjam Jamus Kalimasada, sebagaimana diutus oleh ayahnya, Ki Lurah Semar. Maka dengan serta merta Pendita Durna menimpali " Niki mesthi namung lamis, namung lamiiiis,,,Hegh,,,, Ingkang cetha miturut penerawangan kula Jamus Kalimasadha niku dipun colong kaliyan Semar,,,,, Niki Petruk ampun dipercaya, tiyang kere kados niki biasane tukang nglombo,,,,,Hegh,,,,". Maka seperti biasanya, yang paling termakan isyu itu adalah Raden Werkudara. Maka tidak menunggu lama, Ki Lurah Petruk langsung diseret keluar oleh Wrkudara,,,,, "Sabar,,,sabar ndoro,,,sing sabar,,,,," Begitu jerit Ki Lurah Petruk. Namun Raden Werkudara tidak memedulikannya dan terus saja menganiaya Ki Lurah Petruk. Ketika hendak dicekik, Petrukpun berbicara : "Sabar ndoro Werkudara,,,,,napa sampeyan mboten kengetan, sampeyan dados pejabat niku toli kula sing nyoblos,,,,,,,Lha seniki mpun dados pejabat, dados anggota dewan, koh malah sia-sia kalih rakyat cilik kados kula,,,,,. Kula mung dilomboni kaos thok" kata Petruk. Penontonpun tertawa dan bertepuk tangan,,,,, Namun rupanya Raden Werkudara sudah termakan isyu dari Pendita Durna, maka tetap saja Petruk dianiaya dan di lempar. Kemudian Ki Lurah Bawor yang mendapati Petruk babak belur, menghiburnya (Biasanya kalau Dalang Gino, Bawor mboten termima, alias tidak terima saudaranya diperlakukan semena-mena , dan dia akan menghadapi siapapun orang yang berani menganiaya saudaranya itu (tapi Ki Dalang Marwoto tidak mengembangakan ke arah sini) Kemudian di tengah perbincangan antara Bawor dan Petruk, datanglah Raden Antasena , secara diam-diam di belakang Bawor. Bawor tidak mengetahui kedatangan antasena hingga Bawor membicarakan (ngrasani) Bendaranya yang satu ini. Katanya :" Angger ndara Antasena kiye wonge pelit, ngomong jere kon padha kerigan, mengko rokok tek tanggung Inyong, E,,,,bareng wis padha mangkat kerigen, ngetokna rokoke tuk se-ler,,,,nggo udud dewek. Beda karo Ndara Wisanggeni, angger kae tah nyah-nyoh, cal-cul. Angger ana sing kurang-kurang ya ditomboki. Terus Ndara Antasena kiye thuk mis" Petruk nanya: " Aja sembarangan Rika Kang, thuk mis si apa? " Thuk mis ya angger ndeleng wong wadon "bathuke klimis" terus bae ngoyok-oyok. Ganu malah tau Truk, critane ndara Antareja kiye rawuh menggonku, jam papat sore, toli wayaeh wong adus. Lha Inyong ethok-ethok ora nana nang ngumah, E Ndara Antareja langak-longok nang kamar mandi, sing lagi adus bojoku, lha magane kamar mandine anu sekang tabag, tabage pada bolong,,,,,,,," Petruk : " ha,,ha,,ha,,,Aja sembarangan Rika Kang, apa iya laah,,,,wong bojomu mbok panuen, apa ya Ndara Antareja gelem" Bawor: " Ndara Antareja aja maning si menungsa, ora gelema. Wong wedus diparemi be gelem,,,,,,," Begitu Bawor mbalik ke Belakang, baru tau kalau orang yang dirasani ada di belakangnya. Maka Raden antasena langsung bicara " Ngeneh Wor, sing perek ngeneh", Bawor menjawab : "Mboten lah mriki mawon sing isis (sambil menyelinap ke belakang Petruk) Singkat cerita, Raden Antasena ingin mengingatkan ayahnya, bahwa ayahnya (Raden Werkudara) sudah termakan isyu yang tidak benar. Tetapi tetap saja tidak perduli. Malah Antareja dianggap menghalang-halangi dan durhaka sama orang tua. "Ngalih aja ngalang-alangi tek patenane si Petruk", Kata Werkudara. Maka terjadilah perang diantara mereka, dan Antsena mengeluarkan senjata andalannya yaitu sungut antaboga,,,,,,,, ------------------------------------------------------------- Bagian 2. Ada bagian yang terlewat pada laporan saya kemarin, yaitu sebelum pasewakan agung di Negara Ngamarta, terlebih dahulu ada pasewakan di Negeri Gagak Rewanda. Penguasa Negara itu adalah seorang raksasa (Buto) jejuluk Prabu Visa Kala Putha. Pada pasewakan tersebut, Prabu Visa Kala Putha berbincang dengan Pendita durna. Inti pembicaraan adalah Raja Negeri gagak Rewanda itu diminta bantuannya oleh Durna untuk membantu ngawat-awati atau mengamankan misi Pendita Durna yang akan memecah belah Negeri Ngamarta. Mengadu domba antara rakyat dan pejabat, serta rakyat dengan rakyat. Supaya Praja Ngamarta ringkih. Sebab dengan memecah belah negeri Ngamarta, Durna berpendapat nanti pada saat perang Baratayuda Joyobinangun akan memenangkan peperangan dengan negara Ngamarta. Sehingga negara Ngastina menang dan Durna akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Prabu Visa Kala Putha : " Hiii Haaa,,,,,Ha,,,,Bapa Pendhita Durna, panjenengan punika sekeca nggih dados pendita, dipun ormati kalian Ngastino ugi tiyang pendawa", Pendita Durna : "Pucuuk lole-lole blegedhug monyor-monyor buntute kisoh. Niku lak ujaripun panjenengan. Kula diormati niku lak menawi saweg pajeng, menawi saweg mboten pajeng nggih sami kurang ajar kalih kula, sami mbejujag kali kula. Malah wonten lare neneman ingkang mbejujag nulis kali cet pilok wonten tembok, ungele : Durna doyan royal, Durna pendita kenthir, Durna pendita mbregajag, Durna pendita mblekethek, ora tau adus. Laah niku napa mboten mbregajag. Wonten malih gambar pendita Durna rangkulan kali Nini Karsiti, gambar pendhita Durna lagi joged karo lengger, napa memper cobi,,,,, -------------------------------------------- Pada kesempatan itu juga Prabu Visa Kala Putha meminta perhatian kepada Pendita Durna bantuan dana untuk menyukseskan misi pengamanan terhadap pendita Durna. Dan Pendita Durnapun menyanggupi dengan berkata : "Ngengingi masalah akomodasi ampun kewatos, kula tanggel sedoyo. Mangke panjenengan kantun kirim nomer rekening kalih kula liwat sms mawon, mangke kula transfer dananipun saking Sukolimo" *** Kemudian pada peperangan antara Raden Werkudara dengan Raden Antrareja yang sudah saya ceritakan di laporan pertama, itu yang benar diawali dengan Antasena. Kemudian Antasena dibantu oleh Antareja. Sebetulnya Antareja tadinya dibujuk oleh Durna untuk membela Bapaknya (Werkudara), tapi tidak mau dan memilih bergabung dengan Antasena. Nah, sebelum Prabu Visa Kala Putha disuruh oleh Durna untuk menghadapi Antasena , Antareja, dan Setyaki, mereka nanggap lengger Banyumas Bu Narsih dan lawak Nini suliyah-Kaki Bodong. Maka pagelaran kemudian beralih ke panggung di mana terjadi dialog antara Dalang dengan lengger Narsih serta Suliyah dan Bodong. Satu persatu sinden-sinden mudapun ditampilkan menghibur penonton.Diantaranya menyanyikan Eling-Eling. Dalam mengomentari sinden-sinden muda yang cantik dan genit, Kaki Bodong berkomentar. " Gyeh Sul (Suliyah) angger ndeleng sinden kaya sinden Ida utawa Ira kiye tah singkatane D3" "D3 si anu apa" tanya Suliyah. " D3 ya Ditrawang, Dipegang, Dimakan,,,,",kata Bodong dengan logat suara seperti Penjol. "Lha Angger D3 ne kowe tah sejen maning Sul", kata Bodong. "Lha D3-ne Inyong si apa?" tanya Suliyah. " Diendrin, Dibunuh, Diracun",,,,,,jawab Bodong. Penontonpun tidak bisa menahan tawanya,,,,,,,,, Setelah acara hiburan dan lawak selesai, wayangan dilanjutkan dengan peperangan antara Prabu Visa Kala Putha dengan Raden Antasena, Setyaki, dan Antareja. Dengan kesaktiannya akhirnya Prabu Visa Kala Putha memenangkan pertandingan. Merekapun dengan bala tentaranya menuju ke Kelurahan Karangkedempel menuju rumah punokawan sambil mengejarKi Lurah Petruk dan Bawor yang melarikan diri. ------------------- Adegan selanjutnya adalah Jejer Negeri Wayantoro, dengan Raja Wasesa Jati dan Patih Kasanggono (semuanya Raksasa) Di negeri ini juga sedang tertimpa banyak musibah atau pageblug. Kelaparan, harga-harga tak terjangkau, banyak bencana alam, banyak penyakit, sehingga pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal, dsb. Sudah dicoba untuk diatasi tetapi gagar wigar tanpo karyo, tidak berhasil. Sampai pada sebuah kesimpulan bahwa syarat agar negara menjadi maknur adalah harus ada tumbal. Tumbalnya adalah Ludiro Seto atau Getih Putih dari Prabu Puntadewa, ana ing tanah jowo yaitu Negeri Ngamarta. Bendera atau lambang negara Ngamarta yaitu gula kelapa. Maka diutuslah Patih Kasanggana untuk mencari Negeri Ngamarta di tanah jowo untuk memeras ludiro seto dari Prabu Puntadewa. Dalam perjalananannya nampaking dirgantara, perjalanan Patih Kasanggana kebetulan dilihat oleh Raden Anoman. Sebetulnya Anoman dalam perjalanan menuju Karangkedhempel untuk berkunjung ke Semar. Meskipun tidak diundang pada perhelatan di rumah Semar, Anoman karena merasa berhutang budi pada punakawan jaman revolusi negara Ngalengkadirojo, maka secara diam-diam Anoman napaking dirgantara menuju ke rumah punakawan pendawa itu. Maka Raden Anoman mengikuti dari belakang maburnya Patih Kasanggana. Sampai patih Kasanggono keceplosan bahwa dia hendak pergi ke negeri Ngamarta untuk meres Ludira Seto Prabu Puntadewa. Sontak Anoman tidak terima dan dihantamlah Patih Kasanggana dari belakang. Ketika terjadi dialog antara Patih Kasanggana dengan Raden Anoman, maka Anoman mengaku sebagai securitynya Negara Ngamarta,,,,,,,,, Maka terjadilah peperangan seru. Patih Kasanggana : "U,,,u,,u,,,uuu,,,,,we ladhallah,,,,Ora baen-baen kiye kethek Anoman, tek sembur mripatmu ora picek tek sembah ider-ideran,,,,,,," Maka diludahilah raden Anoman dan seketika mengalami kebutaan,,,,,"Aduh wa semaaar,,,,,aku njaluk ngapura, Prabu Puntadewaaa,,,kula nyuwun ngapunten mboten saged mbiyantu panjenengan,,,,," begitu tangis Raden Anoman. *** Selanjutnya adalah hiburan babak ke dua. Ada lagu "Nginang karo ngilo", dengan campursari : "dithuthuuk nganggo pipo ledheng,,,,,,," Ada juga lagu klasik "Uler Kambang" yang dinyanyikan oleh Nyi Ngadisah, sinden dari Kemayoran. Ada juga duet "Randha Kempling" oleh seorang penonton yang bernama Pak Junedi (seorang pimpinan Grup Ebeg) dengan Ida. Tidak ketinggalan lawak Suliyah-Bodong. Dalam lawaknya, Bodong menasehati kedua mempelai agar melakukan M 5. "Kuwe apa maning" tanya Suliyah. "M 5 kuwe mlumah, mengkureb, modod, mlebu, metu" jawab Bodong. Penontonpun ger-geran,,,,,, Mlumah kuwe artine tengadah karo sing gawe urip, nyenyuwun karo Gusti kang Maha Agung. Mengkureb artine, kanggo sing lanang bojone kuwe sing paling ayu. Kanggo wong wadon, angger lagi tengkureb (nang nduwur) lanange sing paling bagus. Modo kuwe artine wong lanang berusaha sekuat tenaga nggolet rejeki sing penting halal nggo nguripi anak bojo. Sayang maksudnya mlebu lan metu belum dijelaskan. Pada kesempatan itu juga dinyanyikan lagu Ricik-ricik Banyumasan, Mendem Wedokan (Bodong- Ida), dan lagu pop nasional "Jalan Terbaik" Pada saat bodong nembang Mendem wedokan, dia nyanyi : "Mbokeee,,,,,,,dst, Sing penting gedhe iii,,,," Suliyah : " iii,,,, apa kuwe" " Iiiimaneee,,,,,,," kata Bodong. Penonton lagi-lagi ketawa,,,,,, * * * Sampai di sini, waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Saya pun berpamitan kepada tuan rumah Bapak H.Suwarto Hadi Prayitno. Bersama-sama pamit Kang Eko Bawor, Pak Parman (kerabat Kang Eko), Pak Sukimin (Owner Soto Eling-Eling), Pak Kuswandi (Owner Bakmi Margonda), dan Kang Ristamto. Tiga mobilpun keluar dari parkiran Gedung Olah Raga Senam Raden Inten, Buaran, Jakarta Timur.
Khirani Siti Hartina, inilah anak biologis Mayangsari, yang sekarang sedang menjadi perbincangan hangat di acara gosip-gosip televisi kita. Hal ini dipicu oleh kontroversi tuntutan perceraian antara Bambang Trihatmojo dengan Halimah. Mayangsari, sebagai ibu biologis Khiran, menjadi “terdakwa” oleh keluarga cendana maupun pers, bahwa Khiran, yang selama ini diakuinya sebagai anak hasil hubungannya dengan Bambang Trihatmojo, adalah anak biologis almarhum Adi Firansyah. Benarkah demikian? Mari kita telaah dengan ilmu kira-kira yang kira-kira mendekati kebenaran. Ya kalau salah dan tidak sesuai dengan kenyataan ya mohon dimaafkan, namanya juga ilmu kira-kira. Begini. Dari dua orang artis yang dibicarakan ini, kebetulan saya sendiri pernah bertemu dan mengobrol sedikit dengan mereka. Tapi itu sudah lama sekali, sehingga tidak mungkin menanyakan sesuatu pada mereka sementara kejadian dan isu ini baru merebak akhir-akhir ini. Mayangsari adalah sosok yang menurut aku anak yang baik dan ramah. Aku sendiri pernah bertemu dan ngobrol sebanyak dua kali, yaitu ketika Bapaknya, Ki Dalang Soegito Purbocarito ndalang di Monas, dan di Taman Ismail Marzuki. Waktu itu antara tahun 90 an. Kesan yang aku tangkap ketika ngobrol waktu makan sroto bareng di TIM adalah Mayang kelihatan ramah dan banyak senyum. Sama seperti ketika menjawab pertanyaan wartawan di televisi, ya begitulah. Malah waktu itu aku sempat ngajak dia untuk ikut bergabung dengan KAMABA (Keluarga Mahasiswa Banyumas) yang dia jawab “Insya Allah Mas”. Namun sampai saat ini ajakan saya tidak juga kesampaian. Sampai saat ini, kelihatannya Mayang sudah menjadi selebriti yang paling dicari oleh media dan menjadi orang “penting” karena menjadi istri sirinya Bambang Trihatmojo. Hal ini terlihat ketika Mayang berada di muka umum, tidak ketinggalan bodyguard ada menyertainya. Yang ke dua, Almarhum Adi Firansyah. Artis yang meninggal karena kecelakaan sewaktu naik sepeda motor ini sepintas adalah sosok yang pendiam dan alim. Kesan ini saya tangkap ketika saya, atas undangan teman saya Lita Suardi yang sama-sama membintangi Sinetron Tawakal, diajak oleh Lita untuk berfoto bareng aku. Di Lokasi syuting di sebuah rumah besar di bilangan Lenteng Agung itu ada 4 artis yang membintangi sinetron tersebut diantaranya: Dwi Yan, Hikmal Abrar Nasution, Lucky Reza, dan Lita sendiri. Semua artis itu diajak Lita supaya foto sama aku. Ini tentu dengan pertimbangan supaya aku bisa berfoto bareng teman-temannya yang artis. Kapan lagi ada kesempatan kaya gini, begitu mungkin pikir Lita. Dari ketiga artis yang baru kenal itu, yang paling banyak ngobrol ya Mas Dwi Yan. Sementara yang lainnya kelihatan pendiam termasuk almarhum Adi Firansyah. Tetapi, isyu seputar anak Mayang yang bernama Khiran tidak ada habis-habisnya. Ini juga dipicu oleh kenyataan bahwa sekarang ini Mayang bukan Mayang yang dulu, yang hanya anak seorang Dalang. Tetapi Mayang yang sekarang sudah memiliki harta yang begitu banyak. Bahkan kini, warga Purwokerto menganggap Mayangsari sudah masuk jajaran orang terkaya di sana. Mayang disejajarkan dengan tiga pengusaha yang menurut warga Purwokerto merupakan orang-orang terkaya di kota itu. Ketiga pengusaha itu diantaranya Made, pengusaha keturunan Tionghoa, yang merupakan pemilik perumahan elit Permata Hijau, pusat grosir Moro, hotel Dynasti dan sebuah kolam renang bertaraf internasional. Orang kaya lainnya di Purwokerto adalah Buntoro dan Nasir. Buntoro adalah pemilik supermarket Rita yang ada di Purwokerto dan sekarang melebarkan sayapnya hingga Wonosobo, Tegal, dan Kebumen. Buntoro juga mengelola bisnis sejumlah toko di depan alun-alun Purwokerto. Sedangkan Nasir adalah pemilik banyak pompa bensin di wilayah kabupaten Banyumas. Nasir juga dikenal sebagai pemborong dan pemilik sejumlah tempat penggilingan batu . “Jika dibandingkan dengan Made, Buntoro, dan Nasir, kekayaan Mayangsari di bawah Made sedikit dan di atas Buntoro. Ya Mayang berada di level ke dua lah. Jika dilihat dari usia, Mayang yang paling muda” ujar Anang, seorang Pengusaha di Purwokerto ketika diminta tanggapannya tentang orang-orang kaya di kotanya*) Apakah semua harta kekeyaan Mayangsari berasal dari Bambang Trihatmojo? Entahlah. Inilah yang memicu pihak Halimah dan keluarga Cendana untuk mengangkat isu-isu seputar anak Mayang. Sampai-sampai mereka menginginkan agar Mayang melakukan tes DNA untuk membuktikan sebenarnya anak siapa Khiran itu? Anak Bambangkah atau anak almarhum Adi Firansyah? Inilah sulitnya, saya sendiri Cuma bisa menebak-nebak. Ya mungkin seperti Anda juga. Kita Cuma bisa memperoleh kejelasan setelah Mayang bersedia menjalani tes DNA. Kalau memang Mayang yang benar, kenapa takut? Iya khan ? *)Headline Warta Kota, Senin 3 Maret 2008
Pembangunan sebuah bangsa tidak dapat dipisahkan dengan peningkatan Sumber Daya Manusia. Sebab dengan peningkatan Sumber Daya Manusia, sebuah bangsa dapat menata dirinya kea rah yang lebih maju. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta derasnya informasi melalui teknologi informasi (internet) kian tak terbendung. Untuk menyiasatinya, maka diperlukan SDM yang tangguh dan mumpuni serta dapat mengoperasikan teknologi yang sekarang sudah sangat maju. Tanpa itu semua, maka harapan akan Negara yang maju serta sejajar dengan Negara lain kian jauh dari harapan. Salah satu upaya untuk meningkatkan SDM adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan kualitas pendididkan yang baik, maka SDM yang dihasilkan pun akan baik, untuk selanjutnya dapat menunjang kinerja SDM tersebut di mana saja ia bekerja. Sayangnya, perhatian pemerintah kita sejak dahulu terhadap pendidikan masih kurang. Ketentuan angaran pendidikan 20 persen yang sudah dijadikan UU pun belum sepenuhnya dapat direalisasikan. Bahkan ada kecenderungan akhir-akhir ini untuk mengurangi jatah anggaran pendidikan yang sudah kecil tersebut. Departemen Keuangan sendiri berkehendak untuk memotong (menghemat?) anggara pendidikan sebanyak 15 persen dari anggaran pendidikan yang ada. Padahal. Anggaran pendidikan yang sudah sangat minim tersebut sebetulnya juga belum mencukupi kebutuhan anggaran pendidikan yang sebenarnya. Apalagi kalau dipotong/dikurangi. Bahkan MK (Mahkamah Konstitusi) saat ini telah mengeluarkan keputusan bahwa anggaran gaji guru yang tadinya di luar anggaran pendidikan yang 20 persen, sekarang dimasukkan dalam anggaran yang termasuk 20 persen. Sehingga otomatis jatah anggaran untuk pendidikan sendiri berkurang sangat signifikan karena diperuntukan juga untuk gaji guru. Bagaimana ini? Sebetulnya MK (Mahkamah Konstitusi) membela masyarakat pendidikan atau malah sebaliknya? Kita tidak habis pikir dengan orang yang mengajukan Judivial Review terhadap anggaran pendidikan tersebut. Yang pada akhirnya, setelah judivial review dikabulkan MK, justru sangat merugikan dunia pendidikan. Kesalahan managemen pendidikan di Negara kita juga sudah nampak sejak rezim Orde Baru. Gagasan Link and Mach yang sempat digagas oleh mantan Mendikbud Wardiman Joyonegoro mestinya sudah dilakukan sejak dulu. Namun link and mach yang sudah digagaspun kelihatan kedodoran dalam implementasinya. Lihat saja, pengangguran yang berasal dari kaum terdidik bahkan mereka yang mempunyai pendidikan S1 ataupun S2 semakin banyak saja. Padahal mestinya, pemerintah dapat menjembatani lulusan-lulusan perguruan tinggi tersebut untuk dapat bekerja di lingkungan pemerintah ataupun perusahaan-perusahaan BUMN di lingkungan pemerintah. Jelasnya, pemerintah mestinya membuka lapangan kerja sebanyak lulusan-lulusan PT dari berbagai jurusan tersebut. Sehingga pengangguran terdidik tidak akan terjadi lagi. Tapi yang dilakukan pemerintah adalah sebaliknya. Pemerintah membiarkan saja lulusan-lulusan PT tersebut mencari sendiri pekerjaan di mana saja sekadarnya. Sekadar tidak menganggur. Bahkan tidak sedikit yang memang benar-benar menganggur. Mungkin karena tidak pernah cocok dengan pekerjaan yang tersedia, atau memang benar-benar tidak ada lowongan pekerjaan. Tragis memang nasib rakyat. Tidak mengherankan, jika banyak rakyat kita yang mengambil jalan pintas dengan mencari pekerjaan di luar negeri misalnya, atau terjun ke dunia bisnis yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pendidikan yang digelutinya selama ini. Misalnya lulusan teknik terjun menjadi pengusaha bakmi dsb. Ini lebih bagus. Daripada mereka yang kemudian frustasi. Pendidikan yang ditempuhnya tidak dapat menghasilkan apa-apa. Hanya selembar ijazah yang tidak berguna. Akhirnya mereka menjadi parasit dalam keluarga, bahkan tidak sedikit yang terjebak dalam dunia kriminal. Sungguh sangat memprihatinkan dan memilukan. Solusi Mestinya, pemerintah membuat sistem pendidikan nasional yang pernah digagaskan oleh Wardiman Joyonegoro yaitu dengan link and mach dalam arti yang sebenar-benarnya. Jangan biarkan lulusan PT tidak mendapatkan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Mereka yang sudah sekian lama berjuang dalam belajar dan mengikuti pendidikan sudah selayaknya mendapatkan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tingkatkan juga anggaran pendidikan, juga sejahterakan guru yang paling dekat dengan urusan pendidikan, contohlah kesejahteraan guru yang diberikan oleh Negara-negara berkembang lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Sukur-sukur kalau mencontoh Jepang. Ciptakan BUMN yang baik, kompetitif, efisien, dan menguntungkan sehingga dapat menampung tenaga kerja terdidik yang banyak. Pada gilirannya, semua lulusan PT dapat tertampung bekerja, pengangguran berkurang, dan pada gilirannya kriminalitas akan dapat ditekan. Siapkah pemerintah menjalankan kebijakan seperti ini? Kalau bukan pemerintahan yang sekarang, mudah-mudahan pada pemerintahan tahun 2009 hal ini bisa dilakukan.
Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang segar, dengan kelenturan mempertahankan eksistensi dan kelangsungan mereka. Sedangkan pepohonan yang kering bakal tercerabut karena tidak lunak.
Fleksibel bukan berarti menjilat, oportunis, atau terbang dari satu ranting ke ranting yang lain. Seorang oportunis dan penjilat tidak mempunyai tujuan yang jelas serta tidak terikat dengan dasar-dasar yang sahih. Mereka tampil di setiap panggung kehidupan dengan beraneka macam kedok. Mereka memegang semua prinsip demi keuntungan dan pemenuhan nafsunya.
Orang yang fleksibel akan ramah dengan masyarakat, bahkan dengan musuh sekalipun, selama mereka tidak merugikan prinsip dan tujuannya. Maka dari itu, untuk menjaga prinsip, dasar pemikiran dan keilmuannya, serta asas-asas realitas kehidupan, ia memberikan jawaban yang `positif' pada apa yang mereka inginkan.
Kejadian-kejadian dunia laksana topan, angin badai, dan angin yang merusak. Topan muncul dari satu titik ; pepohonan, ladang2, bunga2 dan tanaman yang segar, mereka mengembalikan topan ke titik asal lalu mereka pun kembali seperti sedia kala. Namun pepohonan yang kering dan kaku, mereka menyimpan rasa takut menghadapi angin-angin besar. Karena tidak lentur, namun kering dan kekakuan, mereka berpindah tempat dan tercerabut dari akar-akar mereka.
Nabi saw menjelaskan sikap fleksibel dengan gaya khas, makanya patut untuk kami sebutkan di sini. Beliau bersabda, "perumpamaan orang mukmin bagaikan bulir yang diterpa angin, sesekali berdiri tegak dan sesekali membungkuk. Sedangkan perumpamaan orang kafir laksana tanaman kering, selalu tegak hingga tercerabut. Maksudnya, orang mukmin bagaikan bulir yang melunak, ketika diterpa topan dan di hadapan angin ia tidak melawan, sedangkan orang kafir laksana tanaman kering, selalu melawan dan akhirnya tercerabut dari posisinya.
Keras (kaku) dan sikap kasar dalam masalah-masalah kecil menyebabkan manusia terpuruk dan reputasi menjadi tercemar, serta menghambat mereka dari pencapaian kedudukan-kedudukan besar dan tujuan-tujuan universal. Jika Anda perhatikan isi perjanjian yang mengikat Nabi saw. Dengan kaum penyembah berhala, Quraisy, pada tahun 6 H, niscaya Anda terperangah dengan kelunakan beliau. Kelunakan beliau pada waktu itu menuai kritik dari sebagian kelompok yang tidak tahu. Tapi dengan berlalunya masa, kelunakan beliau terbukti telah mengantarkan kemenangan di masa mendatang.
Dahulu, hambatan serius bagi kemajuan Islam adalah kaum Quraisy. Mereka melancarkan serangan bertubi-tubi, dan mereka telah merampas segala bentuk kebebasan Nabi saw. Namun logika beliau begitu kuat, sehingga dalam waktu singkat—setelah mengutus mubalig dan menyebarkan Al Quran—beliau mampu menempatkan semenanjung Arab di bawah panji ajaran tauhid. Maka dari itu, untuk melangsungkan penyebaran risalah, beliau mengikat perjanjian dengan mereka (kaum Quraisy). Dari sinilah terlihat betapa beliau telah mengisyaratkan sikap lunak. Sebagai contoh, di bawah ini kami sebutkan sikap kelunakan beliau.
Pertama, ketika sekretaris Nabi saw., Amirul Mukminin, menulis lafal Bismillahirrahmanirrahim (i) di halaman pertama dari surat perjanjian, lalu utusan dari kaum Quraisy berkata, "Kami bangsa Arab pemuja berhala, tidak mengenal lafal Ar Rahman dan Ar Rahim. Jadi, lafal tersebut harus diganti dengan kebiasaan Arab, Bismikallahumma." Akhirnya Nabi saw. Menerima permintaan pihak kaum Quraisy, lalu sekretaris beliau menulis lafal Bismikallahumma.
Kedua, ketika sekretaris Nabi saw. Menulis atas perintah beliau " ini adalah perjanjian damai yang ditetapkan Muhammad "Rasulullah" dengan utusan Quraisy, langsung saja utusan itu berkata, "Kami sama sekali tidak Muhammad adalah utusan Tuhan. Kalau kami sudah tahu bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan, tentulah kami tidak pernah berhadapan dengannya (Muhammad) dalam peperangan."
Akhirnya Nabi saw. Memerintahkan kepada Ali agar menghapus lafal 'Rasulullah'.
Dan di antara isi perjanjian tersebut, bila seorang laki-laki dari kaum musyrik sekitar Makkah lari ke Madinah, pusat pemerintahan Islam, maka pemerintah Islam harus menyerahkan laki-laki tersebut ke pusat-pusat Quraisy. Namun bila seorang Muslim dari Madinah kembali (lari) ke Makkah, maka kaum musyrik Quraisy tidak wajib menyerahkan orang tersebut pada pemerintahan Islam.
Nabi saw menerima poin tadi agar pihak Quraisy mau menandatangani seluruh isi perjanjian hingga pada masalah-masalah yang fundamental
Mengapa kita tidak meniru Rasulullah?
*) Dari buku Bahagiakan Diri Anda dengan menjadi orang sukses-- Mewujudkan Impian yang paling Mustahil Sekalipun-- (Berguru pada Islam & Orang-orang Besar) karangan Ja'far Subhani terbitan Zahra Publishing House, hal 133-136.
"Maaf-memaafkan adalah ajaran semua agama, baik karena terpaksa atau memang karena kerelaan. Dan memaafkan karena kerelaan adalah terbaik dan itulah sifat terpuji. Sebab, ini adalah salah satu sifat Allah SWT. Pernah Aisyah ditanyai oleh umat di zamannya tentang sifat-sifat dan akhlak Rasulullah SAW, Aisyah hanya berucap : " Akhlak Rasulullah adalah Al Qur'an". Mengapa? Sebab satu di antara sifat terpuji beliau adalah "pemaaf".
Suatu saat di perang Uhud, sebuah peperangan yang dahsyat, gigi Nabi saw sampai patah, punggungnya robek oleh pedang, wajahnya dan tangannya juga terluka. Dengan jalan yang terhuyung-huyung dengan dipapah sahabatnya, Rasul saw. bersama sahabatnya ke arena pertempuran yang sudah ditinggalkan oleh pasukan Qurays yang pergi dengan sorak-sorai kemenangan. Rasul saw. terperanjat mendapatkan wajah pamannya, Hamzah yang bergelar "Singa Lapangan" sudah sulit dikenali sebab cacahan senjata tajam. Daun telinga dan hidungnya sudah disayat, matanya sudah dicongkel, dan dadanya sudah dirobek serta jantung dan hatinya sudah diambil dan dikunyah oleh seorang wanita bernama Hindun, istri Abu Sufyan.
Saat itu, beliau berucap dengan geram: "Wahai sahabat-sahabatku! Perhatikanlah kejahatan wataknya bangsa Arab, jenazah Hamzah sampai begini,,,,,tunggulah, nanti jika Allah menakdirkan kita diberi kemenangan,,,,,kitapun akan membalasnya dengan cara yang lebih dahsyat daripada ini,,,,! Usai berucap dan belum jauh melangkah, turunlah wahyu Surat An Nahl :126 ; " Dan jika kamu memberi balasan, maka lakukanlah dengan balasan yang seimbang dengan apa-apa yang mereka lakukan padanya. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang terbaik bagi orang-orang yang sabar."
Hanya beberapa tahun kemudian, Rasul dan kaum muslimin mendapat kesempatan buat membalas dendam terhadap kaum Musyrikin, yang didalamnya termasuk Hindun istri Abu Sofyan dan Wahsyi dimana keduanya sama-sama sekongkol menganiaya dan membunuh Hamzah hingga tewas mengenaskan. Saat itu, kaum Musyrikin termasuk Abu Sufyan dan istrinya Hindun, nyawanya berada dalam gengaman Rasulullah dan para sahabatnya. Tapi, Nabi Muhammad din Abdullah bersama ribuan sahabat Nabi saw. lainnya adalah manusia-manusia biasa yang mereka sama-sama memiliki "selembar" hati, hati yang bisa baik dan bisa juga jahat dengan seribu satu dendamnya.
Maka Allah menurunkan surat An Nashr yang intinya mengingatkan bahwa kemenangan tidak untuk sombong, dendam dan lupa diri, tapi untuk memuji, bertasbih kepada Allah serta memaafkan kesalahan bekas musuh sekalipun.
Saat-saat usai kunci kota Makkah diterima Nabi Muhammad saw dan Ka'bah dibersihkan dari segala patung-patung berhala (layaknya usai reformasi dengan segala kemenangannya), menjelang kembali ke Madinah, Rasul saw telah memaafkan semua bekas musuhnya, termasuk musuh yang pernah berusaha membunuh tetapi hanya bisa melukai, serta orang-orang yang terkait dengan pembuhuhan Hamzah, kecuali Wahsyi yang masih melarikan diri ke Thaif dan ke Syria. Tetapi beberapa bulan kemudian, Wahsyi pun datang menyerahkan diri kepada beliau saw. Di Madinah,,,,Rasul memaafkan Wahsyi, tanpa sedikitpun disakiti, walau hanya dengan dengan kata-kata.
Usai Wahsyi mengucap dua kalimah sahadat, Rasul memintanya menceritakan bagaimana ia berhasil membunuh Hamzah, paman Nabi dengan cara yang kejam,,,,, Dalam Wahsyi bercerita, Rasul berucap : " cukup-cukup! Aku tak kuat mendengarnya lagi.,,,,," Rasul saw. hanya berpesan kepada Wahsyi, "Nanti dalam pergaulanmu dengan aku, engkau hindarkan dari memandang mataku dengan tajam, itu saja permintaanku" Demikian ucap beliau.
Dalam suatu kesempatan, di sebuah gang sempit, Rasul saw. berpapasan dengan Wahsyi,,,Rasul saw. sempat bertanya: "Engkau Wahsyi?" Wahsyi pun menjawab: "Benar", lalu sama-sama menghindar diri,,,,,
Hari ini, Indonesia dihuni oleh tidak kurang dari 200 juta warga, yang sebagian besar dari warga Indonesia adalah muslim alias umat Muhammad saw. Tapi jika kita perhatikan, sejumlah kekerasan yang terjadi di masyarakat kita dewasa ini, baik kekerasan yang sampai kepada pertumpahan darah, demo-demo dalam bentuk bakar-membakar, pecah-memecah dan memporak porandakan lingkungan, maupun kekerasan ancam mengancam,,,,kiranya bangsa dan umat kita yang semula hidup ramah dan berbudi tinggi, kini terkesan semakin menjauh dari akhlak dan pribadi Nabi Muhammad saw. yang seharusnya kita teladani.,,,,
Apakah kita akan termasuk yang berbuat demikian?
Tadi pagi Sabtu, 26 Januari 2008 aku resmi menjadi Pengurus Paguyuban Jawa Tengah Se Jabodetabek masa bakti 2007-2012. Pengukuhan dan pelantikan dilaksanakan di Anjungan Jawa Tengah TMII oleh Gubernur Jawa Tengah Bapak Drs. Ali Mufidz. Aku dipercaya sebagai Ketua Bidang Pemuda dan Olah Raga. Dengan anggota Taufan Irfandi, SE dari Cilacap dan Drs. Ali Syafrudin dari Purbalingga. Hadir pada acara pelantikan tersebut beberapa pembina paguyuban diantaranya Bapak Jendral (Purn) Wiranto, Fuad Bawazier, Ibu Karlina Supardjo Rustam, Bapak Dr.Ir.Yuwono Kolopaking (Ketua Umum Serulingmas) dan tentu saja para pengurus paguyuban yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sebuah kepengurusan yang memang disengaja gemuk supaya tugas berat untuk memberikan perhatian kepada warga Jawa Tengah yang ada di Jabodetabek dapat terlaksana dengan baik. Acara dibuka tepat pukul 10.30 WIB setelah para pembina memasuki joglo anjungan. Sebelumnya terdengan gending-gending lembut yang memang sengaja dihadirkan untuk menyemarakkan suasana. Diawali dengan laporan Ketua Panitia oleh Ir. Haiban Hadjid, kemudian dilanjutkan den |
|